Nilai tukar rupiah kembali menjadi perhatian publik setelah kurs dolar Amerika Serikat (AS) menembus angka Rp18.000. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran mengenai dampaknya terhadap harga barang, biaya impor, hingga kemampuan belanja masyarakat.
Pada perdagangan Kamis (4/6/2026), rupiah tercatat mengalami pelemahan terhadap dolar AS hingga melewati level psikologis Rp18.000 per dolar. Berdasarkan data pasar terbaru, nilai tukar rupiah sempat berada di posisi Rp18.001 per dolar AS dan bahkan menyentuh level terendah Rp18.013 dalam kurun waktu 24 jam terakhir.
Sebelumnya, mata uang rupiah ditutup di kisaran Rp17.966 per dolar AS. Namun pada perdagangan pagi berikutnya, rupiah kembali tertekan dengan penurunan sekitar 0,43 persen atau setara 76,3 poin.
Melemahnya rupiah terjadi bersamaan dengan tekanan yang melanda pasar keuangan dalam negeri. Pada sesi perdagangan pagi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga dilaporkan sempat terkoreksi lebih dari 3 persen, mencerminkan meningkatnya tekanan terhadap berbagai instrumen investasi domestik.
Penurunan nilai rupiah terhadap dolar AS berpotensi mendorong kenaikan harga sejumlah komoditas dan produk, terutama barang impor maupun produk yang menggunakan bahan baku dari luar negeri.
Beberapa sektor yang umumnya terdampak ketika nilai dolar menguat antara lain Bahan pangan impor seperti gandum, kedelai, dan daging. Produk elektronik dan gadget yang masih banyak mengandalkan komponen impor. Sektor bahan bakar minyak (BBM) dan energi yang sensitif terhadap pergerakan kurs dolar. Obat-obatan serta alat kesehatan yang menggunakan bahan baku farmasi dari luar negeri.
Kondisi tersebut dapat meningkatkan biaya produksi bagi pelaku usaha. Akibatnya, perusahaan berpotensi melakukan penyesuaian harga jual kepada konsumen untuk menutupi kenaikan biaya yang terjadi.
![]()
Be the first to comment