Fenomena kebakaran berulang yang terjadi di rumah seorang warga di Padukuhan Kasuran, Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, terus menjadi perhatian berbagai pihak. Pada Senin (1/6), tim gabungan yang melibatkan para ahli dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta, BPBD, BPTKG, dan kepolisian kembali melakukan penyelidikan lanjutan.
Pemeriksaan dilakukan sejak pagi hingga siang hari dengan menelusuri area rumah korban, lingkungan sekitar, sungai, serta saluran air yang berada di belakang rumah. Tim juga mengambil sejumlah sampel berupa gas, air, tanah, dan batuan yang akan diteliti lebih lanjut di laboratorium.
Peristiwa kebakaran pertama kali terjadi pada Jumat (22/5) di salah satu ruangan rumah tersebut. Berdasarkan hasil pemeriksaan awal dari tim KBRN Den Gegana Satbrimob Polda DIY, kebakaran sempat diduga dipicu oleh kebocoran gas metana yang berasal dari septic tank. Pemilik rumah kemudian melakukan pengurasan serta memperbaiki sistem pembuangan dan ventilasi. Namun, karena kebakaran kembali terjadi, tim ahli dari berbagai bidang akhirnya diterjunkan untuk melakukan penelitian lebih mendalam.
Koordinator Tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi Fakultas Teknik UGM, Alva Edy Tontowi, mengungkapkan bahwa hasil pengukuran menunjukkan adanya kadar gas hidrogen yang cukup tinggi, terutama di bagian ruang tengah rumah. Bahkan saat penelitian berlangsung, tim sempat menyaksikan munculnya titik api secara langsung di dalam bangunan tersebut.
“Data yang kami kumpulkan akan diuji di laboratorium dan dianalisis secara ilmiah. Kesimpulan akhirnya tentu menunggu hasil pengujian yang terukur,” ujarnya, Senin (1/6).
Menurut Alva, dugaan sementara mengarah pada keberadaan gas hidrogen yang dalam kondisi tertentu dapat mengalami auto ignition atau menyala dengan sendirinya tanpa adanya sumber api dari luar. Api tersebut diketahui muncul pada berbagai media seperti kain, plastik, dan benda lainnya. Lokasi kemunculan api juga berpindah-pindah karena dipengaruhi oleh pergerakan gas. Ketika konsentrasi gas mencapai tingkat tertentu dan menemukan media yang sesuai, titik api dapat terbentuk.
Pendapat serupa disampaikan oleh Guru Besar Vulkanologi Fakultas Teknik UGM, Agung Harijoko. Berdasarkan hasil pemantauan menggunakan alat pendeteksi gas yang mampu mengukur kandungan metana, hidrogen, karbon dioksida, dan oksigen, ditemukan peningkatan signifikan pada kadar gas hidrogen.
Temuan ini berbeda dari dugaan awal yang mengaitkan kemunculan api dengan gas metana hasil proses pembusukan.
Agung menjelaskan bahwa gas hidrogen memang memiliki potensi untuk terbakar pada suhu ruangan. Namun, sumber serta proses terbentuknya gas tersebut masih perlu diteliti lebih lanjut. Untuk itu, tim telah mengambil sampel dari sumur di sekitar lokasi guna mengetahui kemungkinan adanya kandungan organik yang berperan dalam pembentukan gas hidrogen.
“Yang masih kami telusuri adalah apakah gas hidrogen ini terbentuk dari proses pelapukan atau dekomposisi bahan organik. Hal itu masih perlu diperiksa lebih mendalam,” katanya.
Sementara itu, pemilik rumah bernama Mutfiana mengungkapkan bahwa sejak kejadian pertama hingga saat ini telah tercatat 73 titik api yang muncul di 65 lokasi berbeda di dalam rumahnya.
Meski demikian, ia mengaku merasa lebih tenang setelah banyak pihak dan para ahli turun langsung melakukan penelitian. Menurutnya, hal tersebut menunjukkan bahwa fenomena yang terjadi dapat dijelaskan secara ilmiah dan bukan berkaitan dengan hal-hal mistis.
“Sekarang saya sudah lebih tenang, meskipun tetap harus waspada karena peristiwa ini belum benar-benar selesai. Kami masih menunggu hasil penelitian yang kemungkinan baru diketahui beberapa hari lagi,” ujarnya.
Sebagai langkah antisipasi, keluarga korban untuk sementara waktu memilih mengungsi ke rumah kerabat guna menghindari risiko yang tidak diinginkan. Tim gabungan juga berencana melanjutkan penelitian pada malam hari untuk memperoleh data tambahan yang dibutuhkan dalam mengungkap penyebab pasti fenomena tersebut.
![]()
Be the first to comment