Perbedaan Mobil Hybrid dan PHEV? Ini Penjelasan Jaecoo

Kendaraan elektrifikasi semakin diminati di Indonesia, terutama mobil hybrid yang penjualannya terus meningkat di pasar domestik. Meski begitu, masih banyak masyarakat yang belum mengetahui bahwa teknologi hybrid memiliki beberapa jenis, salah satunya adalah PHEV (plug-in hybrid).

Business Unit Director Jeecoo Indonesia, Jim Ma, menjelaskan bahwa meskipun sama-sama termasuk dalam kategori kendaraan hybrid, cara kerja sistem dan karakter penggunaan keduanya memiliki perbedaan yang cukup jelas.

“Karakter penggunaan, sistem kerja, serta keunggulannya pun berbeda. HEV itu sendiri merupakan kendaraan yang memiliki dua sumber tenaga, yaitu mesin bensin dan daya listrik. Namun, baterainya tidak dapat diisi melalui colokan eksternal,” ujar Jim Ma di Jakarta, dikutip Rabu (11/3/2026).

Sementara itu, untuk PHEV, Jim Ma menyebutkan bahwa jenis kendaraan ini memiliki konsep yang hampir menyerupai mobil listrik. Hal ini karena sebagian besar tenaga berasal dari baterai sebagai penggerak, sedangkan mesin berfungsi sebagai generator untuk mengisi ulang daya baterai.

“Sedangkan Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) juga menggabungkan dua sumber tenaga, yakni mesin konvensional dan motor listrik dari baterai. Namun baterainya dapat diisi melalui sumber listrik eksternal sehingga kendaraan dapat beroperasi sebagai mobil listrik maupun mobil konvensional,” jelasnya.

Mobil hybrid sendiri dilengkapi dengan baterai yang dapat terisi secara otomatis melalui kerja mesin serta sistem regenerative braking. Kapasitas baterainya biasanya relatif kecil, sekitar 1–2 kWh, sehingga tidak dirancang untuk diisi melalui sumber listrik eksternal.

Kendaraan hybrid dikenal lebih hemat bahan bakar dibandingkan mobil konvensional, khususnya untuk penggunaan sehari-hari di area perkotaan. Karena tidak memerlukan pengisian daya dari luar, mobil ini tetap praktis digunakan di daerah yang belum memiliki infrastruktur pengisian listrik yang memadai.

Berbeda dengan hybrid biasa, mobil PHEV umumnya memiliki baterai berkapasitas lebih besar dan dapat diisi melalui sumber listrik eksternal. Dengan kapasitas baterai yang lebih besar tersebut, kendaraan PHEV memungkinkan penggunanya berkendara menggunakan mode listrik sepenuhnya dalam jarak tertentu sebelum mesin bensin mulai bekerja.

Ketika daya baterai sudah habis, kendaraan tetap dapat beroperasi seperti mobil hybrid dengan memanfaatkan mesin bensin sebagai sumber tenaga.

Fleksibilitas ini membuat mobil PHEV cocok digunakan untuk mobilitas sehari-hari di dalam kota maupun perjalanan jarak jauh.

“Ketika konsumen sudah memahami perbedaan mendasar dari cara kerja dan keunggulan masing-masing sistem, langkah selanjutnya adalah menyesuaikan pilihan tersebut dengan kebutuhan mobilitas mereka,” ucap Jim Ma.

Di pasar Indonesia, Jaecoo menghadirkan kendaraan dengan teknologi Super Hybrid System (SHS) melalui model Jaecoo J7 SHS dan Jaecoo J8 SHS. Teknologi ini merupakan pengembangan dari sistem PHEV yang dirancang untuk menggabungkan tenaga listrik dan mesin secara lebih cerdas sehingga mampu memberikan efisiensi energi sekaligus performa yang optimal dalam berbagai kondisi berkendara.

Loading

Be the first to comment

Leave a Reply