Final Campeonato Mineiro 2026 Berakhir Ricuh 23 Kartu Merah

Pertandingan final Campeonato Mineiro 2026 yang mempertemukan Cruzeiro dan Atlético Mineiro di Stadion Mineirão, Brasil, berakhir ricuh pada Minggu malam.

Dilansir dari Bola, laga tersebut harus dihentikan lebih cepat oleh wasit setelah terjadi bentrokan besar antar pemain pada menit-menit akhir pertandingan yang memicu kontroversi.

Ketegangan mulai meningkat ketika Kaio Jorge, mantan striker Juventus, mencetak gol bagi Cruzeiro di pertengahan babak kedua sehingga timnya unggul atas Atlético Mineiro.

Keributan memuncak pada menit keenam masa tambahan waktu yang melibatkan kiper Atlético Mineiro, Everson, dengan pemain sayap Cruzeiro, Christian.

Everson bereaksi keras setelah menerima tekel terlambat dari Christian. Ia menjatuhkan lawannya ke lapangan dan menekan bagian dada Christian menggunakan kedua lututnya.

Tindakan tersebut memicu reaksi dari para pemain Cruzeiro yang langsung membela rekan setimnya. Situasi pun semakin memanas hingga melibatkan para pemain dari bangku cadangan kedua tim.

Aksi saling pukul dan tendangan antar pemain berlangsung sekitar sepuluh menit sehingga polisi militer harus masuk ke lapangan untuk meredakan keributan.

Wasit Matheus Candançan kemudian meninggalkan lapangan dengan pengawalan ketat aparat keamanan tanpa sempat mengeluarkan kartu di lapangan. Namun dalam laporan resmi pertandingan disebutkan sebanyak 23 pemain dijatuhi kartu merah.

Laporan tersebut juga mencantumkan daftar panjang pemain dari kedua tim yang dianggap melakukan pelanggaran berat selama kerusuhan berlangsung.

Kapten Atlético Mineiro, Hulk, menjadi salah satu pemain yang mendapat kartu merah setelah terlibat dalam aksi saling serang di lapangan.

Striker veteran berusia 39 tahun itu kemudian mengkritik kepemimpinan wasit yang dianggap tidak mampu mengendalikan situasi panas sejak awal pertandingan final.

“Saya sudah memberi tahu wasit sejak awal pertandingan bahwa situasinya bisa menjadi kacau. Dia kurang karakter,” kata Hulk.

Menurutnya, wasit seharusnya berani mengambil tindakan tegas sejak awal, termasuk mengeluarkan pemain yang bermasalah untuk mencegah keributan lebih besar.

“Kalau memang harus mengeluarkan satu, dua, atau tiga pemain, keluarkan saja. Dia takut memimpin final ini, tapi dia tidak punya kepribadian,” ujar Hulk.

Hulk juga menyebut dirinya sebenarnya berusaha meredakan situasi, tetapi reaksi spontan muncul ketika melihat rekan setimnya diserang oleh pemain lawan.

“Saya tidak pernah terlibat kekerasan seperti ini sebelumnya dalam sepak bola. Saya akan terus meminta maaf. Kami mencoba menenangkan keadaan, tetapi ketika emosi memuncak dan melihat rekan diserang, reaksi itu muncul secara otomatis,” katanya.

Loading

Be the first to comment

Leave a Reply