Rabu, 14 Oktober 2026
Breaking News
Daerah

37 Siswa Selamat Usai Sampan Terbalik di Selat Sikakap Mentawai

Tajusa, M. | | 3 mnt baca
37 Siswa Selamat Usai Sampan Terbalik di Selat Sikakap Mentawai
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

MENTAWAI, BERITANOW.COM – Sebanyak 37 siswa berhasil diselamatkan setelah sampan cadik yang mereka tumpangi terbalik di perairan Selat Sikakap, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, Selasa (13/10/2026). Insiden tersebut terjadi pada siang hari ketika para siswa SMA Negeri 1 PUS sedang melakukan perjalanan menuju Sikakap.

Kecelakaan bermula ketika bagian kanan sampan mengalami kerusakan hingga patah. Kerusakan itu membuat air laut masuk ke dalam badan kapal dan mengurangi daya apungnya. Sampan kemudian terbalik di tengah perairan.

Beruntung, sejumlah kapal nelayan berada tidak jauh dari lokasi kejadian. Para nelayan membantu mengevakuasi seluruh penumpang sehingga 37 siswa tersebut dapat diselamatkan.

Kepala Kantor SAR Mentawai, Benteng Hilton Telaumbanua, memastikan tidak ada laporan korban meninggal dunia maupun penumpang hilang dalam insiden tersebut.

Peristiwa 37 siswa selamat di Selat Sikakap ini menjadi pengingat pentingnya kesiapan sarana transportasi laut serta penggunaan perlengkapan keselamatan selama perjalanan.

Sampan Rusak hingga Terbalik di Perairan

Menurut keterangan Benteng, para siswa berada dalam perjalanan menuju Sikakap ketika sampan yang mereka tumpangi mengalami kerusakan pada bagian kanan.

Air laut yang masuk ke badan sampan menyebabkan kapal kehilangan kemampuan untuk tetap mengapung. Kondisi tersebut akhirnya membuat sampan terbalik.

Situasi ini sempat menempatkan puluhan penumpang dalam keadaan darurat di laut. Namun, keberadaan kapal nelayan di sekitar lokasi membantu mempercepat upaya penyelamatan.

Seluruh penumpang dilaporkan berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat. Hingga informasi yang disampaikan pihak SAR, tidak ada penumpang yang dinyatakan hilang ataupun meninggal dunia.

Kantor SAR Mentawai Berkoordinasi dengan Berbagai Pihak

Kantor SAR Mentawai menerima laporan mengenai kecelakaan tersebut pada Selasa pukul 17.50 WIB. Setelah memperoleh informasi, petugas segera berkoordinasi dengan sejumlah instansi dan unsur masyarakat untuk menindaklanjuti kejadian.

Koordinasi dilakukan bersama Polsek Sikakap, Pos TNI AL Sikakap, Danramil Sikakap, Camat Sikakap, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP), orang tua siswa, serta masyarakat setempat.

Keterlibatan berbagai pihak diperlukan untuk memastikan informasi mengenai kondisi penumpang dapat diketahui dan penanganan kejadian berjalan dengan baik.

Dalam insiden tersebut, bantuan spontan dari nelayan di sekitar lokasi menjadi faktor penting dalam proses evakuasi. Seluruh 37 siswa akhirnya berhasil diselamatkan tanpa adanya laporan korban meninggal dunia maupun hilang.

Basarnas Ingatkan Pentingnya Jaket Pelampung

Kepala Kantor SAR Mentawai Benteng Hilton Telaumbanua mengingatkan masyarakat agar selalu memperhatikan keselamatan sebelum melakukan perjalanan laut. Imbauan ini ditujukan kepada warga, nelayan, dan siapa pun yang menggunakan transportasi perairan di wilayah Kepulauan Mentawai.

Salah satu langkah yang ditekankan adalah penggunaan life jacket atau jaket pelampung. Perlengkapan tersebut dapat membantu menjaga seseorang tetap mengapung ketika terjatuh atau berada di air akibat kecelakaan kapal.

Selain jaket pelampung, Benteng juga mengingatkan pentingnya perangkat keselamatan lain, termasuk Personal Locator Beacon (PLB). Perangkat ini dapat membantu mengirimkan sinyal darurat untuk mendukung proses pencarian dan pertolongan, sesuai jenis serta sistem yang digunakan.

Ketersediaan alat keselamatan perlu menjadi perhatian sejak sebelum kapal meninggalkan dermaga. Penumpang juga sebaiknya mengetahui lokasi perlengkapan keselamatan dan mengikuti arahan awak kapal.

Kondisi Kapal dan Cuaca Perlu Diperiksa Sebelum Berlayar

Selain penggunaan perlengkapan keselamatan, pemeriksaan kondisi kapal menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko kecelakaan di laut. Bagian badan kapal, sistem pengapungan, dan kelayakan sarana transportasi perlu dipastikan sebelum perjalanan dimulai.

Kondisi cuaca dan perairan juga harus dipertimbangkan, terutama ketika perjalanan melibatkan banyak penumpang. Apabila ditemukan kerusakan atau kondisi yang berpotensi membahayakan, perjalanan sebaiknya tidak dilanjutkan sebelum persoalan tersebut ditangani.

Insiden terbaliknya sampan yang mengangkut 37 siswa di Selat Sikakap menunjukkan bahwa gangguan pada kapal dapat berkembang menjadi keadaan darurat. Karena itu, kesiapan kapal, perlengkapan keselamatan, dan respons cepat ketika terjadi kecelakaan perlu mendapat perhatian bersama.

Komentar (0)