Sabtu, 07 November 2026
Breaking News
Daerah

Waspada! Erupsi Marapi Bikin Warga Berlindung di Kebun

Riskal Arief | | 3 mnt baca
Waspada! Erupsi Marapi Bikin Warga Berlindung di Kebun
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

BUKITTINGGI, BeritaNow.com – Pagi yang seharusnya dihabiskan untuk mengurus kebun mendadak berubah menjadi perjuangan menghindari hujan abu. Gunung Marapi di Sumatera Barat kembali meletus, Sabtu (7/11/2026), membuat material vulkanik menyebar ke kawasan permukiman dan pertanian di Kabupaten Agam. Bagi warga yang menggantungkan penghasilan dari hasil kebun, ancaman gunung api bukan sekadar tontonan alam yang menakjubkan, melainkan persoalan keselamatan sekaligus penghidupan.

Erupsi Marapi terjadi pukul 09.55 WIB dengan sebaran abu vulkanik terpantau di Kecamatan Sungai Pua, Kabupaten Agam. Petugas Pos Pengamatan Gunung Api (PGA), Ahmad Rifandi, mencatat letusan berlangsung sekitar 48 detik dengan amplitudo maksimum 15,6 milimeter pada seismograf. Tinggi kolom abu tidak dapat diamati dari pos pengamatan, sementara status gunung masih berada pada Level II atau Waspada.

Ketua Kampung Siaga Bencana Sariak, Ismail Damar, melaporkan bahwa hujan abu mengganggu penglihatan dan pernapasan warga. Material vulkanik juga menutupi sebagian lahan pertanian dan perkebunan di kawasan lereng. Situasi tersebut membuat masyarakat harus membatasi aktivitas luar ruangan meskipun pekerjaan sehari-hari tetap menuntut perhatian.

Abu Datang, Petani Terpaksa Menghindar
Bagi masyarakat Nagari Sariak, dampak erupsi langsung terasa ketika abu mulai menyelimuti kawasan pertanian. Wali Jorong setempat, Ismail, bahkan memilih berlindung di dalam pondok ketika sedang berada di kebun. Keputusan tersebut menggambarkan bagaimana aktivitas vulkanik dapat mengubah rutinitas warga dalam hitungan menit.

Abu vulkanik yang turun ke lahan pertanian berpotensi mengganggu pekerjaan petani, terutama apabila endapannya cukup tebal dan bertahan lama. Material halus tersebut dapat menempel pada daun tanaman, mengotori sumber air, serta mengurangi kenyamanan bekerja di luar ruangan. Namun, besarnya kerusakan tanaman maupun potensi kerugian ekonomi akibat erupsi terbaru belum dapat dipastikan tanpa pemeriksaan lapangan.

Persoalan semakin rumit karena petani tidak selalu memiliki keleluasaan menghentikan pekerjaan. Tanaman tetap membutuhkan perawatan, sedangkan hasil panen menjadi sumber pendapatan keluarga. Karena itu, hujan abu bukan hanya persoalan kebencanaan, tetapi juga dapat memengaruhi ketahanan ekonomi rumah tangga yang tinggal di sekitar gunung.

Marapi Belum Tenang, Ancaman Bisa Berulang
Letusan Sabtu pagi menambah rangkaian aktivitas vulkanik Gunung Marapi sepanjang beberapa pekan terakhir. Pada Rabu (4/11/2026), gunung tersebut juga mengalami erupsi yang terekam selama sekitar 26 detik dengan amplitudo maksimum 17,8 milimeter. Aktivitas berulang itu memperlihatkan bahwa kondisi Marapi masih memerlukan pengawasan intensif meskipun statusnya belum dinaikkan dari Level II.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mempertahankan larangan beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari Kawah Verbeek, pusat erupsi Gunung Marapi. Pembatasan tersebut berlaku bagi masyarakat, pendaki, wisatawan, dan pengunjung. Kawasan ini harus dihindari karena aktivitas vulkanik dapat menimbulkan ancaman lontaran material dari sekitar kawah.

Bahaya lain yang perlu diperhatikan adalah potensi lahar ketika hujan mengguyur kawasan puncak. Material vulkanik yang terbawa aliran air dapat bergerak melalui sungai-sungai yang berhulu di Marapi. Karena itu, masyarakat di sekitar lembah dan bantaran sungai diingatkan agar tidak mengabaikan perubahan kondisi cuaca maupun informasi kebencanaan.

Jangan Tunggu Bencana Membesar
Erupsi terbaru kembali menguji kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah daerah menghadapi aktivitas Marapi. Penggunaan masker, perlindungan mata, serta pengamanan sumber air bersih menjadi langkah penting ketika hujan abu terjadi. Warga juga perlu menghindari kegiatan luar ruangan yang tidak mendesak apabila paparan abu mengganggu pernapasan.

Namun, kewaspadaan saja tidak cukup apabila aktivitas ekonomi warga terus terganggu. Pemerintah daerah perlu memastikan informasi perkembangan gunung menjangkau masyarakat hingga tingkat nagari dan jorong. Pendataan terhadap kemungkinan kerusakan tanaman, gangguan kesehatan, serta kebutuhan perlindungan masyarakat juga penting apabila dampak erupsi berlanjut.

Sampai laporan awal dipublikasikan, belum terdapat informasi terverifikasi mengenai korban jiwa maupun jumlah warga yang harus mengungsi akibat erupsi Sabtu pagi. Meski demikian, turunnya abu di lahan pertanian menunjukkan bahwa dampak aktivitas gunung telah menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat. Marapi mungkin hanya meletus puluhan detik, tetapi bagi warga yang hidup dari tanah di lerengnya, ketidakpastian bisa berlangsung jauh lebih lama.(*)

Komentar (0)