Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI
JAKARTA, BERITANOW.COM – Wall Street dibuka melemah pada Senin (28/9/2026) pagi waktu New York, atau Senin malam WIB. Pada awal perdagangan, indeks Dow Jones turun sekitar 0,7 persen, sedangkan S&P 500 dan Nasdaq masing-masing melemah sekitar 0,5 persen, menurut Yahoo Finance dan CNBC. Angka itu masih bisa berubah hingga bursa AS tutup, jadi perlu dibaca sebagai sinyal awal.
Pada penutupan Jumat (25/9), Wall Street menguat: S&P 500 naik 0,5 persen ke 7.743,41 dan Dow Jones bertambah sekitar 479 poin ke 51.828,62, seperti dicatat Zacks. Dorongan itu datang saat harga minyak mereda karena kabar bahwa AS dan Iran mendekati kesepakatan soal blokade kapal tanker, menurut Trading Economics. Suasana berbalik pada Senin ketika ketegangan kedua negara muncul lagi.
Perlu dicatat bahwa Bursa Efek Indonesia sudah tutup sekitar pukul 16.00 WIB, jauh sebelum Wall Street buka pukul 20.30 WIB. Artinya, reaksi pasar AS baru akan tercermin pada perdagangan IHSG Selasa (29/9). Karena itu, apa yang terjadi di New York malam ini menentukan suasana pembukaan pasar saham Indonesia besok pagi.
Wall Street dibuka melemah, minyak dan obligasi jadi pemicu
Pemicu utamanya geopolitik. CNBC melaporkan minyak Brent sempat naik lebih dari 2 persen ke sekitar US$106,79 per barel setelah Presiden Donald Trump menolak syarat gencatan senjata yang diajukan Iran. Harga minyak WTI ikut naik ke sekitar US$94,40, sementara Investor.id menyebut penolakan itu terkait usulan Iran membuka kembali Selat Hormuz.
Pemicu kedua adalah imbal hasil obligasi AS. CNBC mencatat yield Treasury tenor 10 tahun bergerak di atas 5,2 persen, dan TheStreet melaporkan tenor 5 tahun menyentuh 5 persen pada 23 September untuk pertama kalinya sejak 2007. Ekonom Mohamed El-Erian menilai yield kemungkinan tetap tinggi meski perang Iran mereda dan harga minyak turun.
Di sisi lain, saham teknologi tidak sepenuhnya tertekan. Yahoo Finance mencatat Nvidia naik sekitar 3 persen setelah merilis dua perangkat sumber terbuka untuk mengendalikan agen AI yang tak terkendali. Analis John Stoltzfus menilai gejolak minyak dan suku bunga menandakan pasar menuju kondisi normal baru, bukan risiko koreksi besar.
Dampak ke IHSG dan rupiah besok
IHSG sudah tertekan sebelum Wall Street buka. Indeks ditutup turun 1,51 persen ke 6.147,85 pada Senin, dan sepanjang pekan lalu merosot 3,09 persen ke 6.241,89, menurut data yang dikutip Suara.com dan Journalarta. Tekanan terbesar datang dari sektor teknologi, bahan baku, dan barang konsumen nonprimer, sedangkan energi dan transportasi justru naik, kata Investor.id.
Rupiah ikut melemah dan sempat menyentuh Rp18.000 per dolar AS sebelum ditutup di kisaran Rp17.965, menurut Lensa Medan. Investor asing juga masih menjual: Investor.id mencatat penjualan bersih sekitar Rp3,5 triliun dalam sepekan.
Menurut analisis redaksi, minyak di atas US$100 dan yield AS di atas 5 persen berpotensi menambah tekanan pada rupiah dan arus dana asing pada Selasa, karena Indonesia mengimpor minyak dan membutuhkan aliran modal asing.
Sejumlah sekuritas memperkirakan koreksi berlanjut. Phintraco Sekuritas menyebut IHSG akan menguji support 6.000–6.100, sedangkan MNC Sekuritas menunjuk area 6.088–6.111.
Di sisi kebijakan, BI mempertahankan BI-Rate di 5,75 persen pada 22–23 September, sementara The Fed menaikkan bunga acuan 25 basis poin pada 16 September, dan pasar mencermati suku bunga tinggi yang bisa bertahan lebih lama, kata IPOT.
Yang perlu dipantau
Pertama, penutupan Wall Street malam ini. Pembukaan yang melemah belum tentu berakhir sama, sebab arah indeks AS berganti-ganti dari hari ke hari pekan lalu, menurut catatan TheStreet. Pergerakan minyak dan yield Treasury akan menentukan seberapa dalam efeknya ke Asia.
Kedua, respons Iran dan Washington terhadap gagalnya usulan gencatan senjata. Presiden Iran Masoud Pezeshkian dikabarkan tak lagi percaya berunding dengan Amerika karena ada kesepakatan yang belum dipenuhi, menurut judul berita Disway. Perkembangan ini berpotensi memengaruhi arah harga minyak dalam beberapa hari ke depan.
Ketiga, agenda domestik. Neraca perdagangan Agustus dan inflasi September dijadwalkan rilis Kamis (1/10), menurut FXStreet Indonesia, sementara aturan harga saham minimum Rp1 yang berlaku sejak 28 September berpotensi menambah volatilitas saham murah, kata BRI Danareksa Sekuritas. (*)
Tulisan ini disusun dari berbagai sumber dan bersifat informatif. Bukan rekomendasi investasi.