Jumat, 25 September 2026
Breaking News
Ekonomi & Bisnis

Wall Street 24 September 2026: Dow Turun, Nasdaq Hampir Tak Bergerak

Riskal Arief | | 3 mnt baca
Wall Street 24 September 2026: Dow Turun, Nasdaq Hampir Tak Bergerak
Bagikan:

Gabung Di Kanal Whatsapp KLIK DISINI

NEW YORK, BERITANOW.COM – Wall Street 24 September 2026 menutup perdagangan dengan arah yang beragam. Dow Jones Industrial Average kembali melemah, indeks S&P 500 turun tipis, sedangkan Nasdaq Composite nyaris tidak berubah.

Dow Jones turun 161,61 poin atau 0,31 persen ke level 51.349,98. S&P 500 melemah 1,90 poin atau kurang dari 0,1 persen ke posisi 7.704,13. Nasdaq Composite justru naik tipis 3,34 poin menjadi 26.939,37.

Pergerakan tersebut menggambarkan pasar saham Amerika Serikat yang masih ragu menentukan arah. Investor menimbang perkembangan konflik dan diplomasi Amerika Serikat–Iran, pergerakan harga minyak, serta lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Pasar Sempat Berbalik Arah

Perdagangan berlangsung fluktuatif. Indeks utama Wall Street sempat bergerak naik dan turun beberapa kali sebelum akhirnya berakhir tidak jauh dari titik awal perdagangan.

Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu perhatian pasar. Investor memantau perkembangan hubungan AS dan Iran karena perubahan situasi dapat memengaruhi pasokan minyak, inflasi, serta kebijakan suku bunga bank sentral.

Harga minyak yang bergerak sensitif membuat pasar tetap berhati-hati. Kenaikan harga energi berisiko mendorong inflasi kembali meningkat dan mengurangi peluang penurunan suku bunga dalam waktu dekat.

Di sisi lain, harapan terhadap pertumbuhan sektor kecerdasan buatan masih memberi dukungan bagi saham teknologi. Saham Meta dilaporkan menguat setelah perusahaan meluncurkan perangkat berbasis kecerdasan buatan, membantu Nasdaq bertahan di zona hijau meski penguatannya sangat terbatas. 

Imbal Hasil Obligasi Menjadi Sorotan

Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat masih berada pada level tinggi. Kenaikan yield mencerminkan kekhawatiran pasar mengenai inflasi, kebutuhan pembiayaan pemerintah, serta arah suku bunga Federal Reserve.

Yield obligasi yang tinggi dapat menekan pasar saham karena investor memperoleh alternatif imbal hasil lebih menarik dari surat utang pemerintah. Kondisi tersebut juga meningkatkan biaya pembiayaan perusahaan, khususnya bagi bisnis dengan kebutuhan utang besar.

Pasar saham AS sebelumnya mengalami koreksi tajam pada perdagangan Rabu. Saat itu, Dow Jones turun 0,68 persen, S&P 500 melemah 0,75 persen, dan Nasdaq terkoreksi 1,13 persen. Perdagangan Kamis menunjukkan tekanan jual belum sepenuhnya hilang, meski aksi jual juga tidak sekuat sehari sebelumnya.

Dampak bagi Pasar Indonesia

Wall Street yang bergerak tanpa arah kuat berpotensi membuat pelaku pasar Indonesia lebih berhati-hati pada perdagangan Jumat. Bagi IHSG, perhatian utama tetap akan tertuju pada nilai tukar rupiah, arus dana asing, harga minyak, serta pergerakan saham perbankan dan komoditas. Sentimen dari Wall Street dapat menjadi faktor tambahan, terutama bagi saham teknologi dan emiten yang sensitif terhadap kondisi global.

Pelemahan Dow Jones dan posisi yield obligasi AS yang tinggi dapat membatasi minat terhadap aset berisiko di pasar negara berkembang. Sebaliknya, stabilnya Nasdaq dapat memberi sentimen yang lebih netral bagi saham teknologi.

Investor juga akan menunggu arah harga minyak serta perkembangan diplomasi AS–Iran. Jika risiko geopolitik mereda, tekanan inflasi global dapat berkurang. Namun, apabila ketegangan meningkat, pasar berpotensi kembali menghadapi volatilitas.

Wall Street menutup perdagangan dengan pesan yang jelas bagi pasar global: ketidakpastian belum hilang. Investor masih mencari keseimbangan antara optimisme terhadap teknologi dan kekhawatiran mengenai inflasi, suku bunga, energi, serta geopolitik.(*)

Artikel ini bukan rekomendasi membeli atau menjual saham. Keputusan investasi perlu disesuaikan dengan profil risiko dan analisis masing-masing investor.

Komentar (0)