Jumat, 25 September 2026
Breaking News
Internasional

Trump–Xi Jinping Bertemu di Gedung Putih: Hangat di Depan, Rumit di Meja Runding

Riskal Arief | | 3 mnt baca
Trump–Xi Jinping Bertemu di Gedung Putih: Hangat di Depan, Rumit di Meja Runding
Bagikan:

Gabung Di Kanal Whatsapp KLIK DISINI

Pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Gedung Putih pada Kamis, 24 September 2026, memperlihatkan dua sisi hubungan Washington–Beijing. Di permukaan, kedua pemimpin menampilkan suasana yang lebih bersahabat. Namun di balik seremoni tersebut, sejumlah persoalan strategis tetap belum menemukan titik temu.

Kunjungan Xi ke Washington merupakan kunjungan pertamanya ke ibu kota Amerika Serikat dalam lebih dari satu dekade. Trump menyambutnya dengan seremoni kenegaraan, sementara kedua negara berusaha menjaga agar persaingan tidak berkembang menjadi konflik yang lebih luas.

Trump Xi dan Diplomasi yang Mencari Ruang Bernapas

Salah satu hasil yang terlihat adalah perpanjangan sementara kesepakatan gencatan dagang Amerika Serikat dan China. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kesepakatan tersebut diperpanjang sekitar dua bulan.

Namun, perpanjangan bukan berarti persoalan perdagangan telah selesai. Tarif, pembelian produk pertanian China, pasokan mineral tanah jarang, dan pembatasan teknologi masih menjadi bagian dari negosiasi berikutnya.

Dengan demikian, pertemuan Trump Xi lebih tepat dibaca sebagai upaya menjaga jalur komunikasi daripada penyelesaian menyeluruh atas persaingan ekonomi kedua negara.

Hubungan dagang yang lebih stabil penting bagi perusahaan di kedua negara karena keputusan investasi dan produksi membutuhkan kepastian kebijakan. Tetapi selama sejumlah persoalan mendasar masih dinegosiasikan, ketidakpastian belum sepenuhnya hilang.

Bahas Taiwan dan AI

Persoalan lain yang tidak mudah dipisahkan dari hubungan kedua negara adalah Taiwan. Menurut laporan media pemerintah China, Xi meminta Trump menangani persoalan Taiwan secara hati-hati dan menentang kemerdekaan Taiwan. Gedung Putih belum memberikan ringkasan resmi mengenai pertukaran pandangan kedua pemimpin terkait isu tersebut.

Posisi ini menunjukkan bahwa di tengah upaya menciptakan suasana hubungan yang lebih stabil, terdapat persoalan keamanan yang tetap berada di lapisan paling sensitif hubungan Washington–Beijing.

Xi juga menggunakan istilah Thucydides Trap untuk menggambarkan risiko konflik antara kekuatan yang sedang naik dan kekuatan yang telah mapan. Ia mendorong persaingan yang tetap terkendali serta komunikasi militer untuk mencegah kesalahan perhitungan berkembang menjadi konflik.

Artificial intelligence atau AI juga memperlihatkan perbedaan pendekatan. Trump menyatakan keinginannya agar pengembangan AI tidak dibebani aturan baru dan mengandalkan Departemen Kehakiman AS. Xi justru menekankan perlunya pengelolaan perkembangan AI dan memastikan teknologi tersebut tetap berada dalam kendali manusia.

Perbedaan ini penting karena AI bukan lagi sekadar isu teknologi. Ia berkaitan dengan industri, keamanan nasional, ekonomi, dan kemampuan suatu negara mempertahankan keunggulan strategis.

Di Tengah Diplomasi, Pers AS Berhadapan dengan Gedung Putih

Ada ironi lain yang berlangsung bersamaan dengan kedatangan Xi. Pada hari yang sama ketika Trump menerima pemimpin China di Gedung Putih, akses wartawan CNN, MS NOW, dan Politico ke kompleks kepresidenan dipulihkan setelah hakim federal Timothy Kelly memerintahkan penghentian sementara larangan tersebut selama 14 hari. Hakim menyatakan pencabutan akses tersebut kemungkinan melanggar hak konstitusional terkait proses hukum.

Sebelumnya, ketiga organisasi media tersebut menggugat pemerintahan Trump setelah akses wartawannya dicabut. Pemerintah AS mengaitkan kebijakan itu antara lain dengan persoalan pemberitaan dan alasan keamanan nasional, sementara media yang terkena larangan mempersoalkan kebijakan tersebut sebagai pelanggaran terhadap kebebasan pers dan due process.

Akibat perselisihan itu, liputan televisi langsung atas kedatangan Xi bahkan terganggu karena tidak tersedia susunan kamera dari White House television pool seperti biasanya.

Washington pada akhirnya menampilkan dua agenda sekaligus, yaitu memperlihatkan kemampuan diplomatiknya dalam mengelola hubungan dengan rival utama, dan menghadapi sengketa domestik mengenai hubungan antara pemerintah dengan pers.

Pertemuan Trump Xi karena itu belum dapat dibaca sebagai tanda bahwa persaingan Amerika Serikat dan China telah berakhir. Yang terlihat justru sebuah upaya mengelola persaingan agar tetap berada dalam batas yang dapat dinegosiasikan—sementara perdagangan, Taiwan, AI, dan keamanan tetap menjadi persoalan yang akan menentukan arah hubungan kedua negara berikutnya.(*)

Komentar (0)