Jumat, 25 September 2026
Breaking News
Internasional

Trump Sambut Xi Jinping dengan Pesawat Pengebom, Enam Agenda Besar Menanti

Riskal Arief | | 4 mnt baca
Trump Sambut Xi Jinping dengan Pesawat Pengebom, Enam Agenda Besar Menanti
Bagikan:

Gabung Di Kanal Whatsapp KLIK DISINI

WASHINGTON, BERITANOW — Pemandangan di Pangkalan Gabungan Andrews, Maryland, Rabu (23/9/2026), memperlihatkan sesuatu yang jarang terjadi dalam hubungan Amerika Serikat dan China. Presiden Donald Trump datang langsung menyambut Presiden Xi Jinping yang baru tiba untuk kunjungan kenegaraan selama tiga hari.

Seremoni itu dibuat sangat mencolok. Pasukan kehormatan berjajar di landasan, sementara pesawat militer melakukan penerbangan melintas ketika kedua pemimpin bertemu. Enam jet tempur F-22 dan F-16 juga terlihat dalam rangkaian penyambutan.

Tetapi setelah karpet merah digelar dan kamera merekam jabat tangan kedua pemimpin, pekerjaan sebenarnya baru dimulai.

Pertemuan Trump Xi Jinping kali ini membawa agenda yang jauh lebih rumit daripada seremoni kenegaraan. Hubungan Washington-Beijing memang bergerak menuju stabilisasi, tetapi sejumlah persoalan mendasar masih belum terselesaikan.

Perdagangan kembali menjadi pintu masuk

Hubungan ekonomi menjadi salah satu topik paling konkret. Kedua negara masih berusaha mempertahankan kesepakatan yang meredakan perang tarif. Masa berlaku kesepakatan tersebut sebelumnya dijadwalkan berakhir pada November, sementara Washington dan Beijing tengah membicarakan kelanjutannya.

Bagi Trump, hubungan dagang dengan China juga berkaitan langsung dengan kepentingan ekonomi Amerika. Washington menginginkan akses lebih besar bagi produk AS ke pasar China, termasuk produk pertanian dan sejumlah barang industri.

China, di sisi lain, memiliki kepentingan mempertahankan akses terhadap pasar Amerika sekaligus mengurangi tekanan terhadap sektor teknologinya.

Karena itu, pertemuan kali ini bukan sekadar soal tarif. Yang sedang dinegosiasikan adalah bagaimana dua ekonomi terbesar dunia mengelola hubungan dagang tanpa kembali terjerumus ke eskalasi.

AI berubah menjadi isu strategis

Kecerdasan buatan atau AI menjadi lapisan baru dalam persaingan kedua negara. Washington berusaha mempertahankan keunggulan pada teknologi mutakhir, terutama semikonduktor dan teknologi yang mendukung pengembangan model AI. 

Di sisi lain, Beijing berkepentingan memperluas kemampuan industrinya sendiri dan mengurangi ketergantungan terhadap teknologi Amerika.

Persoalannya bukan hanya siapa yang memiliki produk AI terbaik. Teknologi tersebut telah masuk ke wilayah ekonomi, keamanan nasional, industri pertahanan, dan penguasaan data. 

Kantor berita Reuters mencatat bahwa kontrol teknologi dan akses China terhadap chip canggih menjadi salah satu persoalan yang berada di balik pembicaraan kedua negara.

Taiwan tetap menjadi titik sensitif

Di antara berbagai agenda ekonomi, Taiwan memiliki karakter berbeda. China menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya, sementara Amerika Serikat memiliki hubungan keamanan dan politik yang kuat dengan Taipei.

Setiap perubahan kebijakan Washington terhadap Taiwan dapat dibaca Beijing sebagai sinyal strategis. Sebaliknya, sikap Beijing terhadap Taiwan menjadi perhatian serius bagi Amerika dan sekutunya.

Karena itu, pembicaraan Trump dan Xi akan berlangsung dengan satu batas penting: menjaga komunikasi agar persaingan tidak berubah menjadi konflik terbuka.

Iran masuk ke meja pembicaraan

Perang dan perkembangan geopolitik di Timur Tengah juga ikut menyeret hubungan AS-China. 

Washington memperhatikan hubungan ekonomi China dengan Iran, termasuk aktivitas perdagangan energi. Beijing sendiri mempunyai kepentingan mempertahankan hubungan dengan negara tersebut.

Situasi ini membuat Iran bukan semata persoalan Timur Tengah. Ia telah menjadi bagian dari perhitungan strategis hubungan Amerika-China.

Teknologi dan mineral kritis

Ada pula persoalan yang sering tidak terlihat di permukaan yaitu persoalan rantai pasok teknologi.

China memiliki posisi penting dalam pasokan mineral tanah jarang yang dibutuhkan berbagai industri berteknologi tinggi. Amerika Serikat berupaya mengurangi kerentanan terhadap pasokan tersebut, sementara Beijing menggunakan posisi industrinya sebagai salah satu instrumen dalam hubungan ekonomi.

Pada saat yang sama, Washington mempertahankan sejumlah pembatasan terhadap teknologi yang dapat memperkuat kemampuan industri strategis China. Dengan demikian, perdagangan dan teknologi tidak lagi dapat dipisahkan.

Seremoni besar, hasilnya ditentukan meja negosiasi

Kunjungan Xi ke Washington merupakan kunjungan kenegaraan pertama dalam lebih dari satu dekade. Penyambutan langsung Trump di bandara juga memiliki nilai simbolis yang besar. Namun simbol tidak otomatis menyelesaikan persoalan.

Di balik foto kedua pemimpin berdiri berdampingan, terdapat kepentingan yang berbeda: Amerika ingin mempertahankan keunggulan teknologi dan memperbaiki posisi ekonominya, sementara China ingin memastikan akses pasar, teknologi, dan ruang strategisnya tidak semakin dibatasi.

Itulah sebabnya pertemuan Trump Xi Jinping kali ini menarik bukan hanya karena siapa menyambut siapa di landasan. Yang lebih penting adalah apakah kemesraan seremoni tersebut mampu menghasilkan mekanisme baru untuk mengelola persaingan.

Sebab hubungan Washington dan Beijing tampaknya tidak sedang menuju persahabatan. Keduanya sedang mencari cara agar persaingan tetap berlangsung tanpa berubah menjadi benturan.(*)

Komentar (0)