Tragedi Karhutla Bromo Berakhir Duka, Enam Petugas dan Relawan Gugur
Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI
PROBOLINGGO, BERITANOW – Tragedi karhutla Bromo berujung duka setelah seluruh enam orang yang menjadi korban saat membantu pemadaman kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, meninggal dunia. Korban terakhir, Suraji (44), mengembuskan napas terakhir di RSUD Dr. Soetomo Surabaya pada Jumat (23/10/2026), setelah menjalani perawatan intensif akibat luka bakar berat.
Suraji merupakan petugas keamanan di Artotel Bromo yang turut membantu upaya pemadaman api. Kepergiannya menambah daftar korban jiwa dalam insiden yang terjadi di kawasan perbukitan sekitar Cemorolawang, Kabupaten Probolinggo, pada 15 Oktober 2026. Sebelumnya, lima orang lainnya juga meninggal dunia setelah terlibat dalam upaya penanganan kebakaran tersebut.
Kondisi Suraji Memburuk Selama Perawatan
Pihak RSUD Dr. Soetomo mengonfirmasi Suraji meninggal pada pukul 12.00 WIB. Ia mengalami luka bakar sekitar 49 persen dari luas permukaan tubuh, terutama pada bagian wajah hingga dada, serta cedera saluran pernapasan akibat menghirup udara panas dan asap kebakaran.
Selama dirawat, Suraji membutuhkan bantuan ventilator untuk mempertahankan fungsi pernapasannya. Tim medis juga menangani sejumlah komplikasi, termasuk infeksi berat, infeksi paru, anemia, penurunan kadar protein darah, dan gangguan keseimbangan elektrolit.
Kondisinya memburuk pada Jumat pagi akibat syok sepsis, komplikasi infeksi berat yang dapat mengganggu sirkulasi darah dan fungsi organ vital. Meski telah mendapatkan penanganan intensif, nyawanya tidak berhasil diselamatkan.
Enam Orang Meninggal dalam Insiden Pemadaman
Enam korban meninggal dunia terdiri atas petugas TNBTS, relawan, serta pekerja hotel yang ikut membantu pemadaman. Mereka adalah Sukaris, Hendra Rony Wagiyanata, Wisnu Yuda Pratama, Sefriel Ardiansyah, Munawi, dan Suraji.
Munawi menjadi korban kelima yang meninggal dunia setelah wafat ketika menjalani perawatan di RSUD Dr. Soetomo pada Senin (19/10/2026). Empat korban lainnya telah meninggal lebih dahulu setelah insiden kebakaran yang menjerat sejumlah personel di lapangan.
Kebakaran yang kembali membesar pada 15 Oktober itu membuat enam orang terjebak ketika upaya pemadaman berlangsung. Peristiwa tersebut memperlihatkan besarnya risiko yang dihadapi petugas dan warga yang berupaya mengendalikan api di medan perbukitan dengan kondisi yang dapat berubah cepat.
Keluarga Korban Mendapat Perhatian Pemerintah
Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya para korban. Sebelumnya, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyiapkan santunan sebesar Rp10 juta bagi keluarga setiap korban yang meninggal dunia dalam peristiwa tersebut.
Tragedi ini menjadi catatan penting bagi penanganan kebakaran hutan dan lahan, terutama terkait keselamatan personel yang bertugas di lokasi. Pemetaan risiko, pemantauan perubahan arah angin, ketersediaan jalur penyelamatan, serta koordinasi antarpersonel perlu menjadi perhatian dalam operasi pemadaman berikutnya.
Enam korban telah meninggal dunia setelah berupaya membantu memadamkan api. Peristiwa ini sekaligus mengingatkan bahwa keberanian di lapangan harus diimbangi prosedur keselamatan yang ketat agar upaya melindungi kawasan hutan tidak kembali menelan korban jiwa. (*)