Teungku Nyak Sandang Meninggal Dunia, Penyumbang Pembelian Pesawat Pertama Indonesia

Kabar duka menyelimuti perjalanan sejarah bangsa Indonesia atas wafatnya Teungku Nyak Sandang bin Lamudin. Tokoh yang dikenal berjasa dalam pengadaan pesawat pertama Indonesia, Seulawah RI-001, itu meninggal dunia pada Selasa siang, 7 April 2026, di usia 100 tahun. Informasi kepergiannya disampaikan oleh cucunya, Athaillah.

Dalam beberapa tahun terakhir, kondisi kesehatan Nyak Sandang sempat menurun dan ia beberapa kali menjalani perawatan. Seiring usia yang semakin lanjut, ia pun lebih banyak beraktivitas di rumah. Pihak keluarga menyampaikan bahwa almarhum akan dimakamkan di kampung halamannya, Desa Lhuet, Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya.

Semasa hidupnya, Nyak Sandang dikenal sebagai sosok penting dalam sejarah awal dunia penerbangan Indonesia. Pada tahun 1950, ia menyumbangkan sebidang sawah senilai Rp100, yang saat itu menjadi kontribusi besar dalam pembelian pesawat Seulawah RI-001. Pesawat tersebut kemudian menjadi cikal bakal berdirinya maskapai nasional Garuda Indonesia.

Atas jasa-jasanya, Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan Bintang Jasa Utama pada 25 Agustus 2025 di Istana Negara, Jakarta. Dalam momen penuh haru tersebut, Nyak Sandang hadir dengan kursi roda didampingi keluarga, sementara Presiden Prabowo tampak berlutut saat menyematkan penghargaan itu.

Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas peran besarnya dalam perjuangan kemerdekaan sekaligus kontribusinya dalam membangun kemandirian sektor transportasi udara di Indonesia.

Bentuk penghormatan lainnya diwujudkan melalui pembangunan Masjid Nyak Sandang di Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya. Masjid ini dirancang dengan konsep modern yang mengusung nilai Islam, Iman, dan Ihsan, serta berdiri di atas lahan seluas 4.900 meter persegi. Kompleksnya terdiri dari bangunan utama, balai pengajian, hingga menara, dengan kapasitas sekitar 940 jamaah.

Pembangunan masjid tersebut berawal dari tiga permintaan Nyak Sandang saat bertemu Presiden Joko Widodo di Istana pada Maret 2018. Selain dikenal sebagai dermawan, ia juga tercatat sebagai pejuang yang pernah bertugas sebagai pengintai pada masa penjajahan.

Dalam perannya sebagai pemimpin kelompok, Nyak Sandang bertugas memantau pergerakan musuh dan menyampaikan informasi kepada pasukan lain, termasuk saat mendeteksi keberadaan kapal Belanda di wilayah Puncak Gureutee, Aceh Jaya.

Loading

Be the first to comment

Leave a Reply