Rabu, 21 Oktober 2026
Breaking News
Teknologi

Telkom Perketat Keamanan Siber, Apa Dampaknya bagi Pelanggan?

Riskal Arief | | 4 mnt baca
Telkom Perketat Keamanan Siber, Apa Dampaknya bagi Pelanggan?
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

DENPASAR, BERITANOW — PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk memperkuat keamanan infrastruktur digital di tengah meningkatnya ketergantungan masyarakat dan dunia usaha terhadap jaringan telekomunikasi. Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom Seno Soemadji mengatakan pengamanan difokuskan pada jaringan serta data yang ditransmisikan melalui infrastruktur digital. Bagi pelanggan, penguatan ini penting karena gangguan keamanan tidak hanya berpotensi mengancam data, tetapi juga dapat memengaruhi keandalan layanan yang digunakan sehari-hari. 

Dalam Bali Tech Week 2026 di Denpasar, Telkom menekankan penerapan pendekatan zero trust network protection. Konsep tersebut tidak otomatis mempercayai pengguna atau perangkat hanya karena sudah berada di dalam jaringan, tetapi meminta verifikasi sebelum akses diberikan. Autentikasi multifaktor atau MFA juga dinilai penting agar pencurian kata sandi tidak langsung membuka jalan menuju sistem atau data.

Langkah tersebut sejalan dengan strategi TelkomGroup yang menempatkan keamanan dan ketahanan digital sebagai bagian dari pembangunan infrastruktur nasional. Telkom juga berkoordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Digital serta Badan Siber dan Sandi Negara sesuai kewenangan masing-masing. Perusahaan sebelumnya telah membentuk Computer Security Incident Response Team atau CSIRT yang terdaftar di BSSN sejak 2023. 

Keamanan Siber Telkom dan Dampaknya bagi Pelanggan
Bagi pelanggan individu, hasil yang paling diharapkan dari penguatan keamanan adalah layanan yang lebih sulit ditembus dan lebih tahan terhadap gangguan serangan. Jaringan telekomunikasi menjadi pintu menuju banyak aktivitas digital, mulai dari komunikasi, pembayaran, layanan pemerintah, hingga aplikasi bisnis. Karena itu, serangan terhadap infrastruktur dapat memiliki dampak yang lebih luas daripada sekadar tidak bisa mengakses internet untuk sementara.

Risiko tersebut bukan sekadar teori. Laporan Keberlanjutan Telkom 2025 mencatat 994 upaya brute force terhadap elemen jaringan, sementara serangan distributed denial of service atau DDoS terlama berlangsung 4.320 menit dan volume terbesar mencapai 1.160 Gbps. Telkom menjelaskan kenaikan sejumlah indikator deteksi juga dipengaruhi penambahan sensor, sehingga angka tersebut tidak boleh langsung dibaca sebagai bukti bahwa sistem semakin tidak aman. 

Bagi pengguna, keamanan jaringan juga berkaitan dengan perlindungan informasi yang bergerak dari satu sistem ke sistem lain. Telkom menegaskan data yang ditransmisikan perlu diamankan, sementara akses ke sumber daya digital harus dikontrol secara ketat. Pendekatan semacam itu bertujuan memperkecil kemungkinan akses ilegal apabila akun atau kredensial seseorang jatuh ke tangan pihak lain.

Teknologi Saja Tidak Cukup
Namun pertahanan siber tidak berhenti pada pemasangan perangkat keamanan. Telkom mengingatkan bahwa banyak insiden bermula dari faktor manusia, seperti mengeklik tautan berbahaya, mengabaikan pembaruan perangkat lunak, atau mempertahankan hak akses pegawai dan vendor yang seharusnya sudah dicabut. Karena itu, keamanan digital juga bergantung pada disiplin prosedur dan kesadaran pengguna. 

Ancaman terhadap masyarakat juga semakin banyak berbentuk penipuan digital melalui panggilan, pesan, dan tautan. Komdigi menyebut sistem anti-spam dan anti-scam pada jaringan telekomunikasi telah membantu mencegah potensi kerugian hampir Rp8 triliun dalam enam bulan implementasi hingga Februari 2026. Data tersebut merupakan capaian ekosistem telekomunikasi nasional dan tidak dapat secara khusus diatribusikan kepada Telkom saja. 

Artinya, perlindungan pelanggan membutuhkan dua lapisan sekaligus. Operator harus menjaga jaringan, identitas, akses, dan data, sementara pengguna tetap perlu berhati-hati terhadap kata sandi, tautan mencurigakan, permintaan OTP, serta aplikasi yang tidak dikenal. Infrastruktur yang kuat dapat mempersempit ruang serangan, tetapi tidak dapat sepenuhnya menggantikan kewaspadaan orang yang menggunakannya.

Menjaga Kepercayaan pada Ekonomi Digital
Bagi pelanggan bisnis, dampaknya bahkan lebih langsung. Gangguan jaringan dapat menghentikan transaksi, komunikasi, pelayanan pelanggan, hingga akses terhadap sistem perusahaan yang berada di cloud. Telkom karena itu mengembangkan layanan keamanan mulai dari pengelolaan identitas dan akses, Security Operation Center, managed security services, hingga perlindungan cloud.

Penguatan keamanan menjadi semakin penting ketika Telkom memperluas pusat data, konektivitas, AI, dan infrastruktur digital lainnya. Semakin banyak layanan bergantung pada jaringan yang sama, semakin besar pula dampak jika infrastruktur tersebut terganggu. Keamanan akhirnya bukan fitur tambahan, melainkan bagian dari kualitas layanan yang dibeli pelanggan. 

Bagi masyarakat, ukuran keberhasilannya sederhana: layanan tetap tersedia, data lebih terlindungi, dan risiko penyalahgunaan akses semakin kecil. Bagi Telkom, tantangannya adalah memastikan teknologi zero trust, MFA, pemantauan ancaman, serta prosedur keamanan benar-benar bekerja secara konsisten ketika ancaman terus berubah. Pada persilangan inilah keamanan siber Telkom berhubungan langsung dengan kepercayaan pelanggan terhadap layanan digital yang semakin menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.(*)

Komentar (0)