Kamis, 29 Oktober 2026
Breaking News
Olahraga

Suporter Ricuh, Poin Klub Bisa Ikut Amblas!

Riskal Arief | | 4 mnt baca
Suporter Ricuh, Poin Klub Bisa Ikut Amblas!
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

JAKARTA, BeritaNow.com — Bayangkan sebuah klub sepak bola sudah bersusah payah mengumpulkan poin sepanjang musim, tetapi hasil perjuangan para pemain justru terancam berkurang akibat kericuhan suporter. Kemungkinan itulah yang kembali diingatkan Ketua Umum PSSI Erick Thohir menyusul sejumlah insiden kekerasan dalam sepak bola Indonesia. Jika situasi keamanan tidak membaik, pengurangan poin dapat menjadi salah satu sanksi yang dipertimbangkan terhadap klub.

Erick menyampaikan peringatan tersebut di Jakarta, Rabu (28/10/2026) malam, seusai menghadiri pemutaran perdana film dokumenter tim nasional Indonesia, The Longest Wait. Ia meminta operator kompetisi dan pengelola klub tidak menganggap kerusuhan sebagai persoalan biasa yang selesai setelah pertandingan berakhir. Keselamatan penonton, menurut Erick, harus menjadi bagian penting dari penyelenggaraan sepak bola profesional.

Pernyataan tersebut belum berarti PSSI telah menjatuhkan pengurangan poin kepada klub tertentu. Erick masih membicarakan kemungkinan penerapan sanksi apabila pelanggaran terus terjadi dan memenuhi ketentuan disiplin. Namun, peringatannya cukup untuk mengingatkan bahwa hasil pertandingan bukan satu-satunya hal yang dapat memengaruhi perjalanan sebuah klub di kompetisi.

Pemain Kejar Gol, Kericuhan Mengintai di Luar Lapangan
Sepak bola Indonesia belakangan diwarnai sejumlah peristiwa yang mengkhawatirkan. Keributan terjadi dalam pertandingan Persita Tangerang melawan Persija Jakarta di Banten International Stadium pada 17 Oktober. Beberapa hari kemudian, seorang suporter Persib Bandung meninggal setelah menjadi korban penyerangan seusai pertandingan Persib menghadapi Garudayaksa FC di Kabupaten Bogor.

Peristiwa terakhir memperlihatkan bahwa bahaya bagi pendukung sepak bola tidak selalu berhenti ketika wasit meniup peluit panjang. Seorang penonton dapat pulang dengan membawa kegembiraan atau kekecewaan atas hasil pertandingan, tetapi tidak seharusnya kehilangan keselamatan dalam perjalanan. Karena itu, penanganan kekerasan memerlukan keterlibatan klub, penyelenggara, suporter, dan aparat penegak hukum.

Erick mengingatkan pengalaman tragedi Kanjuruhan sebagai alasan pentingnya tindakan pencegahan. Ia menilai kekerasan di lingkungan sepak bola tidak boleh dibiarkan berkembang menjadi kejadian yang lebih besar. PSSI pun meminta operator liga dan klub menjalankan tindakan disiplin sesuai kewenangan masing-masing.

Menang Tiga Poin, Jangan Sampai Hilang di Luar Stadion
Ancaman pengurangan poin memiliki konsekuensi berbeda dibandingkan denda uang. Apabila dijatuhkan berdasarkan aturan yang berlaku, sanksi tersebut dapat langsung memengaruhi posisi klub di klasemen. Bagi tim yang sedang bersaing memperebutkan gelar atau menghindari degradasi, kehilangan poin tentu bukan persoalan kecil.

Ibarat sudah menang susah payah di lapangan, klub bisa kembali menghadapi masalah akibat tindakan yang terjadi di sekitar pertandingan. Namun, tanggung jawab suatu klub atas pelanggaran suporter tetap harus diperiksa melalui mekanisme disiplin. Tidak setiap tindak kriminal yang melibatkan seseorang beratribut klub otomatis dapat dibebankan kepada klub tersebut.

Erick juga menyinggung kebijakan pembatasan kehadiran pendukung tim tamu dalam pertandingan tertentu. Setelah beberapa musim diterapkan pembatasan suporter tandang, terdapat pelonggaran pada musim berjalan. Akan tetapi, kesempatan menyaksikan pertandingan di kandang lawan harus diimbangi pengelolaan keamanan yang memadai.

PSSI dan Polisi Siapkan Langkah Bersama
Erick mengungkapkan telah mengadakan pertemuan tertutup dengan Kapolri untuk membahas penanganan tindak pidana di luar pertandingan. Menurutnya, komitmen lanjutan antara PSSI dan kepolisian kemungkinan diumumkan dalam satu hingga dua pekan. Hingga pernyataan tersebut disampaikan, rincian kerja sama baru belum dipublikasikan.

Pembedaan antara pelanggaran disiplin pertandingan dan tindak pidana menjadi penting. Kericuhan yang berhubungan dengan penyelenggaraan kompetisi dapat ditangani melalui aturan sepak bola, sedangkan penyerangan atau kekerasan yang memenuhi unsur pidana menjadi kewenangan penegak hukum. Kedua proses tersebut dapat berjalan sesuai dasar hukum dan bukti masing-masing.

Bagi suporter, persoalan utamanya jauh lebih sederhana daripada perdebatan mengenai jenis sanksi. Mereka ingin menonton pertandingan, mendukung klub kesayangan, lalu kembali kepada keluarga dengan selamat. Sepak bola boleh membuat orang kehilangan suara karena terlalu banyak bernyanyi di tribun, tetapi tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan nyawa.

Pada akhirnya, peringatan PSSI bukan hanya mengenai kemungkinan berkurangnya poin klub di klasemen. Lebih dari itu, keselamatan penonton harus menjadi ukuran keberhasilan penyelenggaraan pertandingan. Kemenangan yang sesungguhnya adalah ketika pemain, petugas, dan suporter sama-sama bisa pulang tanpa rasa takut.(*)

Komentar (0)