Minggu, 25 Oktober 2026
Breaking News
Olahraga

Sulut Jawara Kejurnas Pacuan Kuda 2026, Membuka Jalan Menuju Level Dunia

Riskal Arief | | 4 mnt baca
Sulut Jawara Kejurnas Pacuan Kuda 2026, Membuka Jalan Menuju Level Dunia
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

MINAHASA, BERITANOW.COM — Sulawesi Utara (Sulut) berhasil menguasai Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Pacuan Kuda Pordasi ke-60 Tahun 2026 setelah mengumpulkan 149 poin dari dua seri perlombaan. Keberhasilan tersebut mengantarkan Sulut meraih Piala Bergilir Presiden Republik Indonesia sekaligus mempertegas posisinya sebagai salah satu pusat pembinaan olahraga berkuda nasional. Prestasi ini juga membuka peluang pengembangan atlet, peternakan kuda pacu, dan industri olahraga di daerah.

Gelar juara umum dipastikan setelah seri kedua Indonesia's Horse Racing (IHR) Kejurnas Pordasi berlangsung di Gelanggang Pacuan Kuda Maesa Tompaso, Kabupaten Minahasa, Sabtu (24/10/2026). Kontingen Sulut mengumpulkan 91 poin pada seri penutup tersebut, menambah 58 poin yang telah diperoleh dalam seri pertama di Pangandaran, Jawa Barat, pada Juli lalu. Hasil akumulasi itu menempatkan Sulut jauh di depan 13 provinsi lainnya yang mengikuti kejuaraan.

Jawa Barat menyelesaikan kejuaraan pada posisi kedua dengan 44,5 poin, disusul Papua Selatan dengan 39,5 poin. Jawa Tengah berada di urutan keempat dengan 33,5 poin, sedangkan DKI Jakarta menempati peringkat kelima dengan 24 poin. Perbedaan perolehan tersebut menunjukkan dominasi Sulawesi Utara dalam pengumpulan poin sepanjang dua seri kejuaraan.

Tompaso Kembali Jadi Panggung Pacuan Kuda Nasional
Keberhasilan Sulut terasa istimewa karena Kejurnas Pordasi kembali digelar di Tompaso setelah lebih dari satu dekade. Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (PP Pordasi) Aryo Djojohadikusumo menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan kejuaraan yang mempertemukan kontingen dari 14 provinsi. Ajang tersebut sekaligus memperlihatkan besarnya peran daerah dalam mengembangkan olahraga berkuda nasional.

Sebanyak 16 kelas dipertandingkan dalam seri kedua, terdiri atas sepuluh kelas pacuan utama dan enam kelas tambahan. Pada kelompok pacuan utama, hadiah terbesar mencapai Rp90 juta untuk kelas A Terbuka jarak 2.200 meter dan kelas A Sprint jarak 1.300 meter. Kompetisi juga menjadi ajang pembuktian kemampuan kuda pacu, joki, serta pengelola kandang dari berbagai daerah.

Salah satu kemenangan Sulut diraih kuda Paco Eclipse yang ditunggangi joki Maikel Soleran pada kelas tiga tahun calon derby jarak 1.400 meter. Prestasi tersebut menjadi bagian dari keberhasilan kontingen tuan rumah dalam mengumpulkan poin kejuaraan. Namun, keberhasilan keseluruhan tim merupakan hasil kontribusi dari berbagai kelas, bukan hanya satu kemenangan.

Pembinaan Joki dan Peternak Jadi Kunci
Kemenangan Sulut juga memperlihatkan potensi daerah sebagai pusat pengembangan kuda pacu. Aryo menyebut lebih dari 60 persen kuda yang mengikuti kejuaraan merupakan kuda kelahiran Tompaso dan wilayah lain di Sulawesi Utara. Menurutnya, kondisi tersebut memperlihatkan kontribusi peternak dan pemilik kuda lokal terhadap penyelenggaraan kompetisi nasional.

Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus menyatakan prestasi tersebut harus menjadi momentum memperkuat pembinaan atlet dan pelatih. Pemerintah provinsi berencana mendukung pengembangan fasilitas olahraga, peningkatan kemampuan joki, serta kebutuhan komunitas pacuan kuda. Yulius berharap pembalap, pelatih, dan kuda pacu asal Sulut dapat meningkatkan daya saing hingga ke tingkat internasional.

Namun, keberhasilan satu kejuaraan belum otomatis menjamin munculnya atlet berkualitas internasional. Pembinaan joki membutuhkan kompetisi berjenjang, pelatihan teknik, penguatan keselamatan berkuda, dan kesempatan menghadapi pesaing dari luar negeri. Pengembangan kualitas kuda juga memerlukan perhatian terhadap kesehatan hewan, sistem pembiakan, dan fasilitas pemeliharaan.

Pacuan Kuda Berpotensi Menggerakkan Ekonomi Daerah
Perkembangan pacuan kuda dapat menciptakan kegiatan ekonomi yang melibatkan banyak pelaku usaha. Selain joki dan pemilik kuda, kegiatan tersebut membutuhkan peternak, pelatih, tenaga kesehatan hewan, penyedia pakan, pengelola kandang, serta jasa transportasi. Penyelenggaraan kompetisi juga berpotensi meningkatkan permintaan terhadap penginapan, makanan, dan layanan masyarakat di sekitar lokasi pertandingan.

Aryo menyebut meningkatnya antusiasme terhadap pacuan kuda telah diikuti kenaikan harga kuda pacu dan munculnya pemilik baru. Pernyataan tersebut menunjukkan adanya optimisme pelaku industri terhadap perkembangan olahraga berkuda. Meski demikian, belum tersedia data transaksi dan nilai ekonomi yang cukup untuk mengukur pertumbuhan industri pacuan kuda secara nasional.

Di sisi lain, Gubernur Yulius mengungkapkan rencana Presiden Prabowo Subianto membangun gelanggang pacuan kuda berskala internasional di Sulawesi Utara. Rencana tersebut disampaikan setelah Yulius mengaku membicarakan pengembangan olahraga berkuda dalam pertemuan dengan Presiden di Hambalang. Namun, lokasi, nilai investasi, dan jadwal pembangunan belum diumumkan secara terperinci.

Keberhasilan Sulawesi Utara meraih Piala Presiden kini menghadirkan tantangan untuk mempertahankan prestasi sekaligus memperluas manfaatnya. Pengembangan fasilitas dan penyelenggaraan kompetisi yang berkesinambungan dapat membuka kesempatan lebih besar bagi joki muda serta peternak lokal. Jika pembinaan berjalan konsisten, Tompaso berpeluang memperkuat kedudukannya sebagai salah satu pusat olahraga berkuda dan kegiatan ekonomi berbasis pacuan kuda di Indonesia.(*)

Komentar (0)