Siti Nurhaliza dan Lesti Kejora Satukan Dua Panggung
Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI
KUALA LUMPUR, BERITANOW ā Panggung Stadion Nasional Bukit Jalil, Malaysia, menjadi ruang pertemuan dua nama besar musik serumpun ketika Lesti Kejora tampil bersama Siti Nurhaliza dalam Konser Tradisional Gema Bumantara, Sabtu (17/10/2026). Kehadiran penyanyi Indonesia itu menambah warna dalam pertunjukan yang menempatkan repertoar tradisional dan lagu-lagu klasik sebagai bagian utama konser. Momen kolaborasi tersebut memperlihatkan bagaimana hubungan musik Indonesia-Malaysia tetap hidup melalui pertunjukan lintas negara.
Selain Lesti, penyanyi Indonesia lain seperti Nassar juga ikut tampil dalam konser tersebut. Siti Nurhaliza membawakan sejumlah lagu yang telah lama melekat dengan kariernya, antara lain Cindai, Nirmala, Balqis, Joget Pahang, Kurik Kundi, Hati Kama, dan Pesanan Buat Diri. Komposisi penampil yang melibatkan artis dari dua negara membuat konser ini terasa lebih dari sekadar pertunjukan tunggal.
Kolaborasi Lesti dan Siti menarik karena keduanya memiliki basis penggemar yang kuat di wilayah Melayu. Lesti dikenal luas di Indonesia melalui musik dangdut dan pop Melayu, sementara Siti Nurhaliza sejak lama menjadi salah satu figur penting musik Malaysia. Pertemuan mereka di Bukit Jalil memperlihatkan bahwa pasar musik serumpun masih membuka ruang bagi kolaborasi yang melampaui batas negara.
Konser Serumpun, Bukan Sekadar Duet
Konser Tradisional Gema Bumantara dibangun dengan nuansa tradisi yang cukup kuat. Pilihan lagu Siti Nurhaliza menunjukkan upaya menjaga hubungan dengan akar musikal Melayu sekaligus menghidupkan kembali lagu-lagu yang sudah dikenal lintas generasi. Kehadiran artis Indonesia memberi lapisan tambahan karena publik tidak hanya melihat pertunjukan lokal, tetapi juga perjumpaan dua ekosistem musik yang memiliki banyak persinggungan budaya.
Bagi Lesti, tampil di Bukit Jalil juga memperluas ruang tampil di luar pasar domestik. Kolaborasi seperti ini membuka kemungkinan bagi artis Indonesia untuk menjangkau audiens Malaysia secara langsung, bukan hanya melalui platform digital. Sebaliknya, bagi Siti, kehadiran penyanyi Indonesia ikut memperkuat citra konser sebagai panggung regional, bukan hanya agenda musik nasional Malaysia.
Nilai penting lain dari konser ini adalah kemampuannya menghubungkan musik populer dengan elemen tradisional. Lagu-lagu yang dibawakan Siti membawa nuansa budaya Melayu yang kuat, sementara kehadiran penyanyi generasi lebih muda seperti Lesti memberi akses kepada audiens baru. Pertemuan dua generasi dan dua negara inilah yang membuat pertunjukan terasa relevan bagi penonton masa kini.
Musik Jadi Jembatan Indonesia-Malaysia
Hubungan budaya Indonesia dan Malaysia kerap berjalan dinamis, tetapi musik tetap menjadi salah satu ruang yang paling mudah mempertemukan keduanya. Bahasa yang serumpun, kedekatan budaya, dan kesamaan selera pasar membuat kolaborasi lintas negara relatif mudah diterima publik. Konser di Bukit Jalil menjadi contoh bagaimana hubungan itu dapat tumbuh melalui panggung hiburan.
Bagi industri musik, kolaborasi seperti ini juga memiliki nilai ekonomi. Artis dapat memperluas basis penggemar, promotor mendapatkan pasar yang lebih luas, dan lagu-lagu lama memperoleh kehidupan baru ketika dibawakan di hadapan audiens yang berbeda. Efeknya tidak selalu langsung terlihat dalam angka, tetapi penguatan pasar regional menjadi peluang yang sulit diabaikan.
Karena itu, penampilan Lesti Kejora bersama Siti Nurhaliza bukan hanya momen menarik bagi penggemar. Konser tersebut menunjukkan bahwa musik serumpun masih memiliki daya tarik besar untuk menjembatani dua pasar dan dua budaya. Di atas panggung Bukit Jalil, kolaborasi itu menjadi pengingat bahwa hubungan Indonesia-Malaysia juga dapat dirawat melalui lagu, tradisi, dan pertemuan para penyanyi dari kedua negara.(*)