Gabung Di Kanal Whatsapp KLIK DISINI
JAKARTA, BERITANOW.COM — Media sosial kini tidak lagi sekadar menjadi tempat berbagi foto, video, opini, atau aktivitas sehari-hari. Side job di media sosial berkembang menjadi ruang baru untuk menawarkan jasa, mencari proyek, membangun personal branding, hingga menemukan peluang kerja.
Fenomena pekerjaan sampingan tersebut terlihat di berbagai platform digital. Threads, TikTok, Instagram, hingga YouTube tidak hanya digunakan untuk membuat konten, tetapi juga menjadi tempat memperkenalkan kemampuan, menawarkan layanan, mencari klien, dan membangun jaringan profesional.
Pada titik tertentu, pekerjaan sampingan bukan lagi sekadar aktivitas yang dilakukan setelah pekerjaan utama selesai. Ia mulai menjadi bagian dari identitas digital seseorang.
Dari pekerjaan sampingan menjadi konten
Pekerjaan sampingan sebenarnya bukan fenomena baru. Yang berubah adalah cara orang menemukan, menawarkan, dan memperkenalkannya kepada publik.
Jika dahulu informasi mengenai pekerjaan tambahan lebih banyak beredar melalui jaringan pertemanan, komunitas, atau rekomendasi personal, media sosial membuat proses tersebut berlangsung lebih terbuka.
Seorang desainer dapat memajang portofolio di Instagram. Kreator dapat membangun audiens melalui TikTok dan YouTube. Penulis dapat memperkenalkan kemampuan melalui unggahan. Pemilik usaha kecil dapat menjadikan media sosial sebagai etalase produk sekaligus saluran mendapatkan pelanggan.
Satu unggahan bahkan dapat menjalankan beberapa fungsi sekaligus: memperkenalkan kemampuan, menawarkan jasa, mencari klien, dan membangun reputasi.
Media sosial akhirnya berfungsi seperti etalase, portofolio, papan informasi pekerjaan, ruang promosi, sekaligus tempat membangun personal branding.
Threads dan pasar kerja informal
Fenomena side job di media sosial menjadi menarik ketika melihat perkembangan Threads.
Platform percakapan milik Meta tersebut bukan situs pencari kerja formal. Namun, karakter percakapannya memungkinkan pengguna menyampaikan kebutuhan, menawarkan kemampuan, mencari proyek, atau menghubungkan diri dengan calon klien.
Di Threads, unggahan mengenai pekerjaan sampingan dapat muncul dalam bentuk percakapan sederhana. Seseorang bisa menulis bahwa dirinya membutuhkan editor, desainer, penulis, fotografer, admin, atau pekerja lepas untuk sebuah proyek.
Sebaliknya, pengguna lain dapat merespons dengan menawarkan kemampuan yang dimiliki.
Pola tersebut memperlihatkan bahwa pasar kerja informal dapat terbentuk dari percakapan yang awalnya terlihat sederhana.
Sebuah postingan dapat berubah menjadi portofolio, iklan jasa, percakapan bisnis, hingga pintu masuk sebuah pekerjaan.
TikTok dan personal branding
Pola berbeda terlihat di TikTok.
Platform berbasis video pendek tersebut memungkinkan seseorang mengemas pengetahuan, pengalaman, keterampilan, maupun aktivitas profesional menjadi konten yang mudah dikonsumsi.
Vina Muliana, misalnya, dikenal melalui konten mengenai dunia kerja, CV, wawancara, dan pengembangan karier. Fenomena semacam ini menunjukkan bagaimana pengetahuan profesional dapat dikemas menjadi konten sekaligus membentuk identitas profesional di ruang digital.
Dalam ekosistem side job di media sosial, seseorang tidak selalu menjual produk secara langsung.
Pengetahuan dan pengalaman juga dapat menjadi bagian dari personal branding.
Konten mengenai desain, fotografi, penulisan, pemasaran, pendidikan, teknologi, hingga keterampilan tertentu dapat menjadi cara untuk memperkenalkan kompetensi kepada calon klien atau mitra.
Konten yang awalnya dibuat untuk berbagi informasi juga dapat membuka ruang kolaborasi, konsultasi, pekerjaan, maupun jaringan profesional.
Instagram dan YouTube memperluas etalase
Instagram memiliki karakter yang kuat sebagai ruang visual. Karena itu, platform tersebut banyak digunakan untuk menampilkan portofolio pekerjaan.
Fotografer dapat memperlihatkan hasil pemotretan. Desainer menampilkan karya. Perias membagikan hasil pekerjaan. Pelaku usaha menampilkan produk. Pekerja kreatif dapat menggunakan akun pribadi sebagai katalog kemampuan.
Sementara itu, YouTube menawarkan ruang yang lebih panjang untuk membangun audiens dan memperlihatkan proses kerja.
Pengalaman menjalankan usaha, mengembangkan keterampilan, atau mengelola proyek dapat dikemas menjadi video.
Dengan demikian, pekerjaan sampingan di platform digital tidak selalu berbentuk unggahan yang secara langsung mengatakan bahwa seseorang sedang mencari pekerjaan.
Kadang peluang muncul karena orang lain melihat kemampuan yang ditampilkan secara konsisten.
Dari menawarkan hingga merekrut
Perubahan fungsi media sosial juga melahirkan pola perekrutan baru.
Sebuah akun dapat membuat postingan untuk mencari editor video. Pengguna lain menawarkan jasa desain. Ada pula yang membuka peluang untuk admin, reseller, afiliator, tenaga pemasaran, hingga pekerja berbasis proyek.
Informasi tersebut kemudian dapat menyebar melalui komentar, repost, pesan pribadi, dan jaringan pertemanan.
Dalam konteks side job di media sosial, proses mendapatkan pekerjaan tidak selalu dimulai dari formulir lamaran atau situs lowongan kerja.
Kadang prosesnya dimulai dari sebuah unggahan, komentar, rekomendasi teman, atau percakapan melalui pesan pribadi.
Namun, peluang tersebut tetap perlu disikapi secara hati-hati. Pengguna perlu mengetahui siapa pihak yang menawarkan pekerjaan, apa bentuk pekerjaannya, bagaimana sistem pembayaran, serta apakah terdapat permintaan biaya atau data pribadi yang tidak wajar.
Ketika side job ikut ditampilkan
Ada sisi lain yang tidak kalah menarik.
Sebagian pengguna tidak hanya menjalankan pekerjaan sampingan, tetapi juga menceritakan aktivitas tersebut kepada pengikutnya.
Mereka membagikan proses mendapatkan klien, menunjukkan ruang kerja, menceritakan pengalaman menjalankan bisnis kecil, atau membahas proyek yang sedang dikerjakan.
Publikasi semacam itu tidak selalu berarti pamer dalam pengertian negatif.
Bagi sebagian orang, memperlihatkan pekerjaan merupakan bagian dari strategi personal branding. Dengan menunjukkan apa yang sedang dikerjakan, seseorang dapat memperkenalkan kemampuan sekaligus membuka peluang baru.
Karena itu, pekerjaan sampingan di media sosial memiliki dimensi yang berbeda dari pekerjaan tambahan konvensional.
Pekerjaan tidak hanya dilakukan untuk mendapatkan penghasilan. Aktivitas tersebut juga dapat menjadi materi komunikasi, portofolio, dan bagian dari citra profesional seseorang.
Ketika semua orang terlihat sibuk
Media sosial memiliki karakter yang membuat keberhasilan lebih mudah terlihat dibandingkan proses di belakangnya.
Satu unggahan dapat memperlihatkan seseorang mendapatkan klien, menerima proyek, membuka usaha, atau memperoleh penghasilan tambahan.
Yang tidak selalu terlihat adalah waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan klien, kegagalan memperoleh proyek, biaya operasional, pekerjaan yang tidak dibayar, hingga berkurangnya waktu istirahat.
Karena itu, budaya side job di media sosial perlu dilihat secara lebih luas.
Tidak semua orang memiliki kondisi ekonomi, waktu, keterampilan, dan kesempatan yang sama untuk menjalankan pekerjaan tambahan.
Pekerjaan sampingan dapat menjadi pilihan untuk memperluas pengalaman dan sumber penghasilan. Namun, aktivitas tersebut tidak semestinya menjadi satu-satunya ukuran produktivitas atau keberhasilan seseorang.
Etalase kemampuan dan pasar peluang
Fenomena side job di media sosial pada akhirnya memperlihatkan perubahan yang lebih besar dalam cara masyarakat bekerja.
Platform digital membuat seseorang dapat menjadi pekerja, pemasar, pemilik usaha, pencari klien, sekaligus pembangun merek pribadi dalam ruang yang sama.
Threads menunjukkan bagaimana percakapan informal dapat membuka peluang kerja. TikTok memperlihatkan bagaimana konten dapat membangun reputasi. Instagram dapat menjadi portofolio visual, sedangkan YouTube memungkinkan pengalaman dan pengetahuan dikembangkan menjadi konten yang menjangkau audiens lebih luas.
Media sosial pun berubah menjadi etalase kemampuan dan pasar peluang.
Di sana, orang bukan hanya mencari pekerjaan.
Mereka juga menjual kemampuan, mencari klien, membangun nama, menawarkan jasa, dan terkadang merekrut orang lain.
Pada akhirnya, side job di media sosial bukan sekadar cerita tentang mencari uang tambahan. Fenomena tersebut mencerminkan perubahan cara masyarakat bekerja sekaligus cara seseorang memperkenalkan dirinya di dunia digital.
Produktivitas, keahlian, jaringan, dan kemampuan menawarkan sesuatu kini dapat menjadi bagian dari identitas yang terlihat publik.
Di tengah perubahan itu, media sosial semakin menyerupai sebuah pasar terbuka: siapa pun dapat menawarkan kemampuan, tetapi peluang tidak selalu datang dengan cara yang sama kepada setiap orang. (*)