Senin, 05 Oktober 2026
Breaking News
Daerah

Sawala Putra Bangsa: Kesaktian Pancasila Tak Cukup Dibuktikan dengan Upacara

Riskal Arief | | 3 mnt baca
Sawala Putra Bangsa: Kesaktian Pancasila Tak Cukup Dibuktikan dengan Upacara
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

BOGOR, BERITANOW — Pancasila dapat terus dibacakan dalam upacara, dipelajari di sekolah, dan ditempatkan sebagai dasar negara. Namun, Kesaktian Pancasila sesungguhnya menghadapi ujian yang lebih konkret ketika nilai-nilainya berhadapan dengan kekuasaan, ketidakadilan, kepentingan, dan berbagai persoalan kehidupan sehari-hari. Pertanyaan itulah yang menjadi benang merah Diskusi Publik Sawala Putra Bangsa #2 di Bogor, Sabtu (3/10/2026).

Digelar Yayasan Daya Putra Bangsa dalam rangka refleksi Hari Kesaktian Pancasila, kegiatan tersebut mempertemukan pendidik, budayawan, seniman, aktivis sosial, mahasiswa, pelajar hingga perwakilan serikat buruh. Sekitar 50 peserta mengikuti sarasehan yang berlangsung di Balong Kabayan, Pamoyanan, Bogor Selatan. Alih-alih hanya membicarakan Pancasila secara normatif, peserta diajak mempertanyakan jarak antara nilai yang diajarkan dan kenyataan yang ditemui masyarakat.

Ketua Yayasan Daya Putra Bangsa Willy Kamawijaya mengatakan Pancasila tidak seharusnya berhenti sebagai sesuatu yang diingat dan diucapkan dalam kegiatan seremonial. Menurut dia, pengamalannya membutuhkan keteladanan mulai dari pemimpin negara hingga lingkungan keluarga dan masyarakat. Keteladanan itulah yang dinilainya dapat membuat Pancasila hadir dalam kehidupan nyata.

Dari Hafalan Menuju Kesadaran

Persoalan kesenjangan antara idealisme dan realitas menjadi perhatian Dr. Heri Santoso. Ia membuka pemaparannya melalui puisi yang mempertanyakan bagaimana masyarakat membela Pancasila di tengah kemunafikan dan retorika. Namun, ia kemudian membalik pertanyaan tersebut dengan gagasan bahwa bukan hanya manusia yang membela Pancasila, melainkan nilai Pancasila yang sesungguhnya menjaga kehidupan bersama bangsa Indonesia.

Menurut Heri, persoalan terbesarnya berada pada jarak antara Pancasila sebagai gagasan dan perilaku manusia dalam kenyataan. Ia menawarkan apa yang disebutnya sebagai “revolusi spiritual”, yakni perubahan kesadaran secara damai dari minaz-zulumati ilan-nur atau dari kegelapan menuju cahaya. Perubahan tersebut menempatkan manusia sebagai titik penting agar nilai tidak berhenti sebagai konsep.

Persoalan serupa dibahas Prof. Dr. Ir. Sedarnawati Yasni, M.Agr. melalui pendidikan. Berdasarkan pengalamannya mengajar Pancasila kepada mahasiswa, ia menilai metode pendidikan harus mampu membawa Pancasila dari pengetahuan menuju internalisasi nilai. Generasi muda tidak cukup mengetahui lima sila, tetapi perlu memiliki kemampuan menerapkannya saat menghadapi perubahan, hambatan, tantangan, maupun persoalan kehidupan.

Keteladanan Menjadi Ujian

Sedarnawati juga menempatkan keteladanan sebagai bagian penting dalam pengamalan Pancasila. Penyimpangan yang dilakukan penyelenggara negara, menurutnya, tidak seharusnya membuat masyarakat meninggalkan nilai Pancasila. Masyarakat justru perlu mendidik diri agar mampu menjadi teladan ketika suatu saat memperoleh amanah dalam kehidupan publik.

Pembicaraan mengenai Pancasila dalam acara tersebut tidak hanya berlangsung melalui ceramah. Teater Bocah Putra Bangsa menyampaikan pesan lima sila melalui pertunjukan, sedangkan Ki Dalang Ceceng Arifin menghadirkan Wayang Cepot dengan humor dan kritik sosial khas Sunda. Musik dari Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ) Bogor ikut menjadikan seni dan kebudayaan sebagai pintu masuk untuk membicarakan persoalan kebangsaan.

Moderator Heri Cokro kemudian merangkum persoalan itu melalui pertanyaan sederhana: “Di mana Pancasila dalam kehidupan kita hari ini?” Menurutnya, Kesaktian Pancasila tidak cukup dibuktikan dengan menyebutnya sebagai dasar negara, tetapi terlihat saat nilai tersebut diuji oleh kekuasaan, kepentingan, ketidakadilan dan perbedaan. Pancasila, dengan demikian, memperoleh maknanya bukan hanya ketika dibacakan, melainkan ketika hadir dalam perilaku, pendidikan, kebudayaan, kebijakan publik dan kehidupan masyarakat sehari-hari.(*)

Komentar (0)