Rutan Depok Buka Suara soal Video Pesta Sabu, 22 Warga Binaan dan 2 Petugas Diperiksa
Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI
DEPOK, BERITANOW.COM — Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Depok akhirnya angkat bicara soal video viral yang diduga memperlihatkan pesta narkoba dan aksi berjoget di dalam sel. Pihak rutan mengakui peristiwa dalam rekaman itu memang terjadi di wilayahnya dan menyatakan telah menindaklanjuti temuan tersebut secara internal maupun melalui jalur hukum.
Kepala Rutan Kelas I Depok, Ario Galih Maduseno, menyatakan pemeriksaan telah dilakukan terhadap 22 warga binaan yang berada di kamar lokasi kejadian. Dari jumlah itu, tiga hingga empat orang masih didalami lebih lanjut karena diduga terlibat langsung dalam aktivitas yang terekam.
Pengakuan Pihak Rutan
Ario membenarkan bahwa lokasi dalam video tersebut memang berada di Rutan Depok. Pengakuan itu disampaikan setelah pihaknya melakukan investigasi internal pasca rekaman menyebar di media sosial pada Sabtu (3/10/2026).
"Setelah kami investigasi, apa yang ada di video tersebut memang berada di Rutan Depok," ujar Ario dalam konferensi pers, seperti dikutip Kompas.com.
Pihak rutan juga menyampaikan permintaan maaf atas kelalaian yang terjadi. Ario mengakui ada dugaan keterlibatan oknum petugas dalam memfasilitasi aktivitas tersebut.
"Jelas petugas kami, pegawai Rutan Depok, posisinya ada di jajaran satuan pengamanan dan staf di bimbingan kerja," kata Ario, seperti dikutip CNN Indonesia.
Dua Petugas Dilaporkan ke Polisi
Rutan Depok telah melaporkan dua petugas yang diduga terlibat ke Polres Metro Depok. Kepala Kesatuan Pengamanan Rutan (KPR) Rutan Depok, Bogi Nurseto, menyatakan pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan dari kepolisian.
"Kasus ini kan sedang dalam pendalaman oleh Polres. Kami juga hari ini sampai detik ini masih menunggu," kata Bogi, seperti dikutip ANTARA News.
Kedua petugas tersebut berasal dari jajaran pengamanan dan staf Bimbingan Kerja Rutan Depok. Menurut Bogi, sanksi akan diberikan sesuai dengan aturan Aparatur Sipil Negara (ASN) jika keduanya terbukti melanggar.
Kapolres Metro Depok, Kombes Christian Rony Putra, mengungkapkan peran awal kedua pegawai tersebut. Satu pegawai diduga berperan menyediakan sabu, sementara pegawai lainnya menyediakan alat musik.
"Tapi berdasarkan fakta hasil pemeriksaan dari Kasat Narkoba memang ada dua orang yang indikasi terlibat. Satu menyediakan sabu, satu menyediakan alat musik," ujar Christian, seperti dikutip iNews.ID.
Dugaan Peran Petugas dalam Peredaran Narkoba
Kanwil Ditjenpas Jawa Barat menegaskan tidak akan memberikan toleransi terhadap peredaran narkotika di lingkungan pemasyarakatan. Kepala Divisi Pemasyarakatan Kanwil Ditjenpas Jabar, Yudi Suseno, menyatakan pihaknya telah mengambil langkah hukum terhadap oknum pegawai yang diduga terlibat.
"Penanganannya dari hasil pemeriksaan yang masih berjalan. Untuk pegawainya yang terkait, dari kemarin Karutan sudah buat LP dan sedang ditindaklanjuti," kata Yudi, seperti dikutip ANTARA News.
Selain oknum pegawai, Ditjenpas juga memindahkan warga binaan yang diduga terlibat dalam pesta narkotika tersebut ke lembaga pemasyarakatan lain. "Untuk warga binaannya sudah digeser ke lapas lain," ungkap Yudi.
Kapolres Metro Depok menyatakan hasil tes urine terhadap oknum petugas yang diperiksa menunjukkan hasil negatif. Namun, polisi masih mendalami dari mana asal sabu yang masuk ke dalam rutan.
"Sudah tes urine, masih negatif. Tapi kami akan melakukan pemeriksaan secara mendalam dari mana asal sabu tersebut," jelas Christian, seperti dikutip TvOneNews.
Keterbatasan Pengawasan
Ario mengungkapkan bahwa keterbatasan sumber daya manusia menjadi salah satu tantangan dalam pengamanan Rutan Depok. Saat ini terdapat sekitar 1.279 warga binaan, sementara jumlah petugas yang berjaga dalam satu shift hanya sekitar 10 orang.
"Per hari ini 1.279, sedangkan yang shift berjaga itu 10 orang," ungkap Ario, seperti dikutip ANTARA News.
Karena itu, Rutan Depok menggandeng sejumlah pihak eksternal untuk memperkuat pengawasan, di antaranya kepolisian, TNI, BNNK, hingga Brimob. Ario menegaskan pihaknya berkomitmen untuk melakukan pembenahan dan perang terhadap peredaran gelap narkoba.
Sebelumnya, Rutan Depok melakukan razia gabungan pada 23 September 2026. Kala itu, 50 warga binaan menjalani tes urine secara acak dan hasilnya disebut seluruhnya negatif, dengan klaim zero handphone, zero senjata tajam, dan zero narkoba.(*)
Informasi ini dihimpun BeritaNow dari berbagai sumber.