Minggu, 18 Oktober 2026
Breaking News
Internasional

Riyadh Belajar Daring Lagi, Apa Dampaknya bagi Umrah?

Riskal Arief | | 3 mnt baca
Riyadh Belajar Daring Lagi, Apa Dampaknya bagi Umrah?
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

RIYADH, BERITANOW — Pemerintah Arab Saudi memperpanjang pembelajaran jarak jauh di Riyadh dan Kegubernuran Diriyah hingga Kamis, 22 Oktober 2026. Kegiatan sekolah tetap berlangsung melalui platform Madrasati dan layanan pendidikan daring resmi lainnya, mencakup murid, guru, serta staf administrasi. Kebijakan ini memperpanjang sistem belajar dari rumah yang telah diterapkan sejak 11 Oktober setelah serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh.

Perpanjangan sekolah daring menjadi salah satu indikator bahwa otoritas Saudi masih menerapkan langkah kewaspadaan di ibu kota. Sekolah-sekolah sebelumnya beralih ke sistem daring sehari setelah serangan rudal terhadap Bandara King Khalid yang menimbulkan korban jiwa dan luka. Otoritas pendidikan menyebut langkah tersebut sebagai bagian dari kebijakan pencegahan demi menjaga keselamatan komunitas sekolah.

Bagi masyarakat Indonesia, perkembangan tersebut terutama relevan bagi calon jamaah umrah yang menggunakan Riyadh sebagai titik transit atau memiliki agenda perjalanan di ibu kota Saudi. Namun, kebijakan sekolah daring di Riyadh tidak berarti penyelenggaraan umrah dihentikan ataupun perjalanan ke Makkah dan Madinah ditutup. Pemerintah Indonesia hingga pertengahan Oktober menyatakan perjalanan umrah tetap berlangsung dan belum ada instruksi penghentian keberangkatan.

Jamaah Umrah Diminta Lebih Cermat Memilih Rute
Kementerian Haji dan Umrah RI sebelumnya mengimbau jamaah Indonesia memilih penerbangan langsung menuju Jeddah atau Madinah apabila memungkinkan. Imbauan itu disampaikan sebagai respons terhadap peningkatan ketegangan keamanan di kawasan, terutama setelah serangan ke bandara Riyadh. Penerbangan langsung dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Jeddah dan Madinah saat itu dilaporkan tetap berjalan normal dan lancar.

Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf juga meminta jamaah yang menggunakan penerbangan transit meningkatkan kewaspadaan. Jamaah disarankan memperhatikan daerah transit, mengikuti arahan otoritas, serta tidak melakukan perjalanan yang tidak diperlukan ke wilayah yang dinilai memiliki risiko keamanan lebih tinggi. Pemerintah Indonesia belum menerapkan larangan perjalanan ke Arab Saudi, sehingga imbauan yang berlaku saat ini lebih diarahkan pada kehati-hatian dan pemilihan jalur perjalanan.

Artinya, dampak langsung bagi jamaah umrah Indonesia sejauh ini lebih banyak terkait perencanaan perjalanan dibandingkan pelaksanaan ibadah itu sendiri. Jamaah dengan tiket langsung ke Jeddah atau Madinah tidak otomatis terdampak oleh perubahan sistem sekolah di Riyadh, sedangkan mereka yang transit atau bepergian melalui ibu kota perlu lebih aktif memantau jadwal penerbangan dan situasi keamanan. Penyelenggara perjalanan umrah juga perlu menjaga komunikasi dengan jamaah apabila muncul perubahan rute, transit, atau jadwal.

Riyadh Menjadi Sinyal Kewaspadaan, Bukan Larangan Umrah
Keputusan mempertahankan pembelajaran daring memperlihatkan bahwa pemerintah Saudi masih membatasi sebagian aktivitas normal di Riyadh sebagai langkah pencegahan. Kebijakan tersebut tidak secara langsung mengatur wisatawan atau jamaah, tetapi dapat dibaca sebagai sinyal bahwa otoritas belum sepenuhnya mencabut kewaspadaan di ibu kota. Karena itu, informasi mengenai sekolah perlu ditempatkan dalam konteks keamanan yang lebih luas, bukan dianggap sebagai pembatasan terhadap kegiatan umrah.

Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia Faisal Abdullah Al-Amoudi menyatakan pemerintahnya tetap berkomitmen melindungi warga, pengunjung, dan jamaah umrah. Ia juga menyebut situasi domestik Saudi tetap stabil dan aman menurut penilaian pemerintah Kerajaan. Pernyataan tersebut berjalan beriringan dengan langkah pencegahan seperti pembelajaran daring, sehingga kondisi keamanan saat ini lebih tepat dibaca sebagai situasi yang tetap memungkinkan aktivitas berlangsung dengan pengamanan dan kewaspadaan tambahan.

Bagi jamaah umrah Indonesia, pesan terpentingnya bukan membatalkan perjalanan secara otomatis, melainkan memperbarui informasi sebelum berangkat. Pilihan penerbangan langsung ke Jeddah atau Madinah dapat mengurangi kebutuhan transit di kawasan yang tengah menjadi perhatian keamanan, sementara jamaah yang harus melalui Riyadh perlu mengikuti perkembangan resmi dari maskapai, penyelenggara perjalanan, Kementerian Haji dan Umrah, serta Kementerian Luar Negeri. Sampai ada perubahan kebijakan resmi, umrah tetap berjalan, tetapi situasi Riyadh menunjukkan bahwa kewaspadaan perjalanan belum boleh dikendurkan.(*)

Komentar (0)