Rabu, 21 Oktober 2026
Breaking News
Daerah

Produksi Padi Cianjur Capai 645 Ribu Ton, Mampukah Irigasi Bendung Ancaman El Nino?

Effra S. Husein | | 2 mnt baca
Produksi Padi Cianjur Capai 645 Ribu Ton, Mampukah Irigasi Bendung Ancaman El Nino?
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

CIANJUR, BERITANOW.COM — Produksi Padi Cianjur mencapai 645.522 ton gabah kering giling (GKG) hingga September 2026. Capaian ini menjadi modal penting dalam menjaga pasokan pangan daerah, meskipun ancaman El Nino dan potensi kekeringan masih perlu diwaspadai. Pemerintah Kabupaten Cianjur pun memperkuat langkah antisipasi, terutama melalui pembenahan irigasi dan upaya menjaga ketersediaan air bagi petani.

Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Cianjur kini memperkuat langkah antisipasi untuk menjaga lahan pertanian tetap produktif. Perhatian utama diarahkan pada ketersediaan air, terutama menjelang musim tanam pertama periode Oktober hingga Desember 2026.

Perbaikan Irigasi Jadi Langkah Antisipasi

Kepala Bidang Tanaman DTPHP Kabupaten Cianjur, Dandan Hendayana, mengatakan potensi kekeringan di sejumlah wilayah sejauh ini diperkirakan belum menimbulkan gangguan besar terhadap produksi padi. Meski demikian, pemerintah daerah tetap menyiapkan langkah pencegahan untuk menghadapi kemungkinan El Nino berlanjut hingga awal 2027.

Salah satu upaya yang dilakukan ialah memetakan jaringan irigasi yang membutuhkan perbaikan. Proses tersebut dikoordinasikan bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) dan Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kabupaten Cianjur agar distribusi air ke lahan pertanian dapat lebih terjaga.

Langkah ini dinilai penting karena ketersediaan air berpengaruh langsung terhadap keberlangsungan kegiatan tanam. Jika pasokan air terganggu dalam waktu lama, petani berisiko menghadapi hambatan dalam memulai musim tanam berikutnya.

Sekitar 201 Hektare Lahan Pernah Terancam

Data Juni 2026 menunjukkan sekitar 201 hektare lahan pertanian di Cianjur masuk dalam wilayah yang terancam kekeringan. Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah untuk memperkuat mitigasi sebelum dampaknya meluas ke areal persawahan lainnya.

Selain pembenahan infrastruktur pengairan, upaya antisipasi juga didukung pemanfaatan program irigasi dan bantuan pompa air dari pemerintah pusat. Koordinasi lintas instansi terus diperlukan agar kebutuhan air petani dapat ditangani sesuai kondisi di lapangan.

Dandan memperkirakan gangguan terhadap produksi padi akibat kondisi tersebut berada di kisaran satu persen. Dengan demikian, dampaknya diperkirakan tidak sampai memicu penurunan produksi secara drastis, meskipun perkembangan cuaca dan ketersediaan air tetap perlu dipantau.

Cianjur saat ini menempati peringkat keempat di Jawa Barat berdasarkan capaian produksi GKG yang dilaporkan tersebut. Tantangan selanjutnya adalah menjaga agar capaian produksi hingga September dapat dipertahankan melalui pengelolaan air yang lebih baik dan kesiapan menghadapi perubahan kondisi iklim. (*)

Komentar (0)