Kamis, 08 Oktober 2026
Breaking News
Internasional

Prancis Hentikan Sementara Pemakaian Granat Setrum Usai Tangan Pelajar Putus

Riskal Arief | | 4 mnt baca
Prancis Hentikan Sementara Pemakaian Granat Setrum Usai Tangan Pelajar Putus
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

JAKARTA, BERITANOW.COM – Pemerintah Prancis menghentikan sementara penggunaan granat setrum oleh polisi dalam pembubaran demonstrasi pelajar, Rabu (7/10/2026). Keputusan ini diumumkan Menteri Dalam Negeri Laurent Nuñez lewat siaran radio RTL, sehari setelah seorang remaja berusia 15 tahun kehilangan tangannya akibat ledakan alat tersebut di Kota Lens, utara Prancis. Langkah ini datang di tengah gelombang protes pelajar yang oleh Perdana Menteri Sebastien Lecornu disebut sebagai demonstrasi paling keras dalam beberapa dekade terakhir.

Insiden di Lens terjadi Senin (5/10) di depan SMA Auguste-Béhal, saat bentrokan pecah antara pelajar dan polisi antihuru-hara. Alat yang meledak adalah grenade de désencerclement, granat yang melontarkan peluru karet disertai gelombang kejut suara keras, dan dirancang untuk membubarkan kerumunan dari jarak dekat. Sehari setelah insiden itu, seorang petugas polisi resmi didakwa terkait penembakan tersebut, menurut keterangan yang dikutip media internasional.

Gelombang protes ini sendiri sudah berlangsung sejak akhir September, dipicu kemarahan pelajar terhadap kelas yang terlalu padat, kekurangan guru, dan gedung sekolah yang rusak dimakan usia. Para pelajar menuding kondisi itu sebagai akibat bertahun-tahun minimnya investasi pemerintah di sektor pendidikan. Gerakan ini juga disebut sejumlah pemantau sebagai bagian dari rangkaian "protes Gen Z" yang lebih luas, pola demonstrasi yang digerakkan generasi muda dan belakangan muncul di berbagai negara.

Hari aksi terbesar dan korban yang terus bertambah
Selasa (6/10) menjadi hari aksi terbesar sejak gelombang protes dimulai, yang oleh sejumlah pemantau disebut sebagai "Aksi Ketiga". Perkiraan jumlah peserta sangat lebar, antara 250 ribu hingga 450 ribu orang turun ke jalan di seluruh Prancis, terdiri dari pelajar, orang tua, guru, dan serikat pekerja. Serikat Pelajar SMA Prancis mencatat hampir 2.000 sekolah menengah atas diblokade atau ditutup pada hari itu.

Lecornu menyampaikan kepada para politisi bahwa setidaknya 215 remaja dan 85 staf sekolah terluka dalam rangkaian bentrokan, sementara kantornya mencatat lebih dari 700 petugas polisi turut cedera. Ia menyebut angka itu sebagai beban terberat yang ditanggung sistem pendidikan dalam beberapa dekade. Di sisi lain, Kementerian Kehakiman mencatat total 5.060 orang telah ditangkap sejak gelombang protes dimulai, dengan 87 persen di antaranya adalah anak di bawah umur.

Respons pemerintah terhadap eskalasi ini adalah menghentikan kegiatan belajar mengajar di sekolah menengah atas se-Prancis untuk sisa pekan ini. Lecornu menegaskan bahwa membakar gedung sekolah tidak akan memperbaiki kondisi bangunan yang dikeluhkan. Namun, kebijakan ini juga memicu kritik dari sebagian kalangan yang menilai pemerintah lebih fokus meredam kerusuhan ketimbang menjawab tuntutan substansial soal kondisi belajar.

Perdebatan soal taktik kepolisian
Insiden Lens membuka perdebatan lebih luas soal taktik kepolisian dalam menghadapi demonstrasi pelajar yang mayoritas masih berusia remaja. Organisasi hak asasi manusia Amnesty International mendesak agar seluruh jenis granat setrum dilarang permanen dari aktivitas pengamanan unjuk rasa, bukan sekadar dihentikan sementara. Menurut organisasi itu, alat tersebut punya rekam jejak panjang menyebabkan cedera serius pada penggunanya di lapangan.

Nuñez sendiri, dalam pernyataannya di radio, menolak tudingan bahwa aparat bertindak brutal terhadap pelajar. Ia berargumen keputusan menghentikan sementara pemakaian granat itu diambil untuk menunggu kejelasan fakta di lapangan terkait insiden Lens, bukan sebagai pengakuan kesalahan institusional. Posisi ini menempatkan pemerintah dalam situasi sulit, membela aparat sekaligus meredam kemarahan publik yang kian meluas.

Ketegangan ini turut diperumit oleh perbedaan klaim jumlah korban antarpihak dari hari ke hari, sebuah pola yang sudah tercatat sejak akhir September. Pada akhir September misalnya, Kementerian Dalam Negeri sempat mencatat dua angka berbeda untuk jumlah polisi yang terluka pada tanggal yang sama. Perbedaan versi semacam ini membuat upaya menilai skala sebenarnya dari kekerasan di lapangan menjadi lebih rumit bagi publik maupun media internasional.

Yang perlu dipantau
Hasil penyelidikan resmi terhadap petugas yang didakwa dalam insiden Lens akan jadi penentu arah kebijakan berikutnya, termasuk apakah larangan granat setrum akan bersifat permanen atau hanya sementara. Perkembangan lanjutan unjuk rasa pekan ini, setelah sekolah dijadwalkan kembali dibuka, juga layak diikuti, mengingat gelombang protes ini telah berlangsung lebih dari sepekan tanpa tanda mereda.(*)

Informasi ini dihimpun Beritanow dari berbagai sumber.

Komentar (0)