Jumat, 06 November 2026
Breaking News
Nasional

Prabowo Mau Museum Raksasa, Monas Bakal Disulap?

Riskal Arief | | 4 mnt baca
Prabowo Mau Museum Raksasa, Monas Bakal Disulap?
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

JAKARTA, BeritaNow.com – Jalan-jalan ke Monas mungkin kelak bukan lagi sekadar berfoto dengan latar tugu emas, menggelar tikar, atau mencari tempat berteduh dari panasnya Jakarta. Presiden Prabowo Subianto punya ambisi baru untuk kawasan bersejarah di jantung ibu kota itu. Sebuah museum berskala besar bernama Museum Agung Nasional atau Grand National Museum ingin dihadirkan sebagai ruang belajar sejarah sekaligus tempat rekreasi masyarakat.

Gagasan tersebut terungkap setelah Prabowo menggelar pertemuan di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (5/11/2026). Menteri Kebudayaan Fadli Zon menjadi salah satu pejabat yang menerima arahan terkait pengembangan kawasan Monas. Rencana tersebut dikonfirmasi Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya dan dimuat dalam keterangan resmi pemerintah pada hari yang sama.

Namun, ada pertanyaan menarik di balik ambisi membangun museum megah itu. Akankah Indonesia akhirnya memiliki pusat sejarah yang membuat anak-anak bersemangat belajar, atau justru menambah daftar bangunan monumental yang lebih sering dikagumi dari luar ketimbang dijelajahi isinya? Jawabannya tentu tidak cukup ditemukan dalam kemegahan rancangan arsitektur.

Museum Besar, Sejarah Jangan Sampai Membosankan
Dalam penjelasan pemerintah, Museum Agung Nasional diharapkan menjadi pusat sejarah, pendidikan, hiburan, dan rekreasi, terutama bagi pelajar dan generasi muda. Kehadirannya direncanakan melengkapi pengembangan fasilitas kebudayaan nasional, termasuk revitalisasi Galeri Nasional Indonesia dan Museum Nasional yang dikenal sebagai Museum Gajah. Pemerintah ingin kawasan bersejarah di pusat Jakarta menawarkan pengalaman lebih luas daripada sekadar kunjungan wisata biasa.

Gagasan tersebut membuka peluang mengubah cara masyarakat menikmati sejarah. Bayangkan anak sekolah datang ke museum bukan karena terpaksa mengerjakan tugas, melainkan karena penasaran dengan kisah kerajaan Nusantara, perjuangan kemerdekaan, hingga perjalanan Indonesia modern. Museum yang menarik bisa membuat pelajaran sejarah terasa seperti petualangan, bukan sekadar lomba menghafal tanggal dan nama tokoh.

Namun, keberhasilan museum tidak otomatis mengikuti ukuran bangunannya. Koleksi yang relevan, penyajian interaktif, pemandu yang komunikatif, dan akses bagi penyandang disabilitas justru menjadi ukuran penting kualitas pelayanan. Sebab, museum sebesar apa pun berisiko kehilangan daya tarik apabila pengunjung hanya menemukan deretan benda dengan penjelasan yang sulit dipahami.

Monas dan Gambir Masuk Rencana Penataan
Ambisi Prabowo ternyata tidak berhenti pada pembangunan museum. Pemerintah juga merencanakan pembenahan kawasan Monas dan revitalisasi Stasiun Gambir agar lingkungan di sekitarnya lebih nyaman untuk wisata, pendidikan, dan aktivitas keluarga. Dalam keterangan resmi Istana, Gambir bahkan diproyeksikan menjadi pusat transportasi nasional yang terhubung dengan fasilitas hiburan dan rekreasi.

Jika gagasan itu terlaksana secara terpadu, kawasan Monas berpeluang berkembang menjadi ruang publik dengan fungsi yang lebih beragam. Masyarakat bisa menikmati kawasan bersejarah, mengunjungi museum, kemudian memanfaatkan fasilitas transportasi di sekitarnya. Meski demikian, manfaat tersebut masih bergantung pada perencanaan akses, pengelolaan kawasan, serta keterjangkauan fasilitas bagi masyarakat luas.

Di sinilah persoalan yang lebih membumi mulai muncul. Museum megah tentu terdengar membanggakan, tetapi keluarga juga membutuhkan fasilitas sederhana seperti toilet bersih, ruang istirahat, jalur pejalan kaki yang aman, dan tempat berteduh. Jangan sampai pengunjung sudah dibuat terpukau oleh sejarah bangsa, tetapi perjuangan mencari tempat duduk justru menjadi pengalaman yang paling sulit dilupakan.

Ambisi Besar, Publik Menunggu Kejelasan
Pemerintah menempatkan pengembangan museum dan penataan kawasan Monas sebagai bagian dari upaya membangun kebanggaan nasional. Namun, dari keterangan resmi yang telah dipublikasikan, rincian anggaran, desain bangunan, titik lokasi pembangunan, dan jadwal penyelesaian Museum Agung Nasional belum dijelaskan. Karena itu, gagasan tersebut masih perlu dibedakan dari proyek konstruksi yang telah memiliki kepastian pelaksanaan.

Pertanyaan mengenai biaya dan manfaat publik menjadi penting, terutama jika pembangunan nantinya menggunakan anggaran negara. Pengembangan museum memerlukan investasi bukan hanya untuk mendirikan bangunan, tetapi juga untuk merawat koleksi, menghadirkan tenaga profesional, dan menyelenggarakan program pendidikan secara berkelanjutan. Kemegahan fisik tanpa pengelolaan yang kuat berpotensi menghasilkan fasilitas mahal dengan manfaat yang tidak maksimal.

Keberhasilan Museum Agung Nasional bukanlah seberapa megah bangunannya dibandingkan museum di negara lain. Ukuran yang lebih bermakna ialah seberapa banyak masyarakat dapat mengakses pengetahuan sejarah, memahami perjalanan bangsanya, dan merasa memiliki warisan kebudayaan Indonesia. Jika ambisi Prabowo benar-benar diwujudkan, Monas mungkin akan memperoleh daya tarik baru, tetapi nilai terbesarnya harus tetap terletak pada pengalaman manusia yang datang berkunjung, bukan sekadar kemegahan gedung.(*)

Komentar (0)