Polemik ‘Munafik’ Memanas, Anggota Parlemen Malaysia Terancam Diperiksa Komite Khusus
Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI
KUALA LUMPUR, BERITANOW.COM — Polemik munafik di Parlemen Malaysia memasuki babak baru setelah anggota parlemen oposisi dari Partai Islam Se-Malaysia (PAS), Takiyuddin Hassan, menolak menarik kembali pernyataannya yang dinilai menyindir Perdana Menteri Anwar Ibrahim. Persoalan ini berpotensi dibawa ke Komite Hak dan Kebebasan Parlemen.
Perkembangan terbaru terjadi pada Senin, 26 Oktober 2026. Ketua Dewan Rakyat Johari Abdul meminta anggota parlemen dari koalisi pemerintah, RSN Rayer, mengajukan surat resmi jika ingin membawa persoalan tersebut ke Komite Hak dan Kebebasan Parlemen.
Sebelumnya, Johari telah meminta Takiyuddin menarik kembali kata “munafik” yang digunakan saat membahas Anggaran Belanja Negara Malaysia 2027 pada 19 Oktober lalu. Namun, Takiyuddin justru mengusulkan mediasi yang melibatkan dirinya, Rayer, dan Ketua Dewan Rakyat, tanpa menarik pernyataan tersebut.
Kontroversi bermula ketika Takiyuddin mengutip hadis mengenai ciri-ciri orang munafik, termasuk mengingkari janji. Ia kemudian mengaitkan pembahasannya dengan penggunaan kata wa'ad, yang berarti janji, dalam pidato anggaran Anwar Ibrahim.
Rayer memprotes pernyataan tersebut karena menilai konteksnya mengarah kepada perdana menteri. Perdebatan antara anggota parlemen pemerintah dan oposisi pun memanas hingga mengganggu jalannya persidangan.
Johari menegaskan, persoalan ini akan ditelaah melalui mekanisme parlemen jika permohonan resmi diajukan. Keputusan mengenai tindak lanjut berada di tangan komite yang beranggotakan perwakilan dari kedua kubu politik, bukan pada Ketua Dewan Rakyat seorang diri.
Hingga Senin, 26 Oktober 2026, belum ada keputusan sanksi terhadap Takiyuddin. Polemik ini kini berlanjut pada persoalan kepatuhan terhadap tata tertib parlemen di tengah perdebatan politik Malaysia. (*)