Gabung Di Kanal Whatsapp KLIK DISINI
LONDON, BERITANOW - Inggris sempat berada dalam posisi yang sangat menguntungkan ketika menghadapi Spanyol di Wembley, tetapi keunggulan itu tidak bertahan hingga akhir. Dalam laga pembuka UEFA Nations League 2026/27, Inggris kalah 2-3 setelah pertandingan berubah arah beberapa kali dalam 90 menit. Kekalahan ini memperlihatkan bahwa kemampuan membalikkan keadaan belum otomatis berarti mampu mengendalikan pertandingan sampai peluit terakhir.
Inggris Bangkit, Lalu Kehilangan Kendali
Spanyol membuka pertandingan dengan cepat melalui Lamine Yamal pada menit kedua. Inggris kemudian menemukan jalan keluar melalui serangan balik yang diselesaikan Anthony Gordon pada menit ke-36, sebelum Harry Kane membawa tuan rumah unggul 2-1 empat menit kemudian. Dalam waktu singkat, pertandingan yang semula berada di bawah tekanan Spanyol berubah menjadi keuntungan bagi Inggris.
Perubahan itu menunjukkan bahwa Inggris memiliki senjata ketika permainan berlangsung lebih terbuka. Gordon dan Jude Bellingham menjadi bagian penting dari transisi cepat yang menghasilkan gol penyama, sementara tekanan Inggris kemudian menghasilkan gol kedua. Namun, keunggulan tersebut belum berarti Inggris sepenuhnya menguasai jalannya pertandingan.
Momen paling menentukan datang pada awal babak kedua. Inggris mendapatkan penalti setelah pelanggaran Rodri terhadap Bellingham ditinjau melalui VAR, tetapi eksekusi Kane mengenai mistar setelah sang kapten terpeleset ketika melakukan tendangan. Jika bola masuk, Inggris akan unggul 3-1; yang terjadi justru sebaliknya karena Spanyol segera mengambil kembali kendali permainan.
Spanyol Memanfaatkan Kesalahan
Setelah penalti gagal, Spanyol tidak membutuhkan waktu lama untuk mengubah tekanan menjadi gol. Álex Baena menyamakan kedudukan pada menit ke-60 setelah Inggris kehilangan bola di area yang berbahaya, lalu pemain yang sama memberikan umpan untuk gol kemenangan Mikel Oyarzabal pada menit ke-74. Dua momen tersebut memperlihatkan perbedaan penting dalam memanfaatkan kesalahan lawan.
Inggris sebenarnya masih memiliki peluang untuk memberikan respons. Namun, Spanyol mampu mengelola fase akhir pertandingan dengan lebih tenang, sementara Inggris kesulitan mengubah tekanan menjadi peluang yang menghasilkan gol. Hasil akhirnya menjadi kemenangan 3-2 bagi Spanyol sekaligus memperpanjang catatan tidak terkalahkan mereka menjadi 39 pertandingan.
Pertandingan ini juga menjelaskan mengapa penilaian terhadap Inggris setelah laga bisa berbeda. Anthony Gordon menilai Inggris tidak berjarak jauh dari Spanyol dan merasa hasil pertandingan dapat berubah jika penalti Kane masuk, sementara Roy Keane melihat masih terdapat perbedaan antara kedua tim. Thomas Tuchel sendiri mengakui bahwa kesalahan-kesalahan kecil dan ketenangan di area akhir menjadi persoalan yang dihukum Spanyol pada level tertinggi.
Evaluasi
Bagi Inggris, persoalannya bukan hanya kalah dari juara dunia. Pertandingan di Wembley menunjukkan bahwa mereka mampu memberikan tekanan, menciptakan perubahan permainan, bahkan membalikkan skor ketika menghadapi tim dengan kualitas tinggi. Yang masih menjadi pekerjaan rumah adalah bagaimana mempertahankan kontrol ketika lawan kembali menaikkan intensitas.
Bagi Spanyol, kemenangan tersebut menunjukkan kemampuan untuk tetap berada dalam pertandingan meskipun sempat kehilangan kendali selama beberapa menit. Mereka tidak panik ketika Inggris berbalik unggul dan mampu memanfaatkan dua kesempatan penting setelah turun minum. Oyarzabal kembali menjadi penentu melawan Inggris, setelah sebelumnya mencetak gol kemenangan Spanyol pada final Euro 2024.
Inggris kini harus menjadikan kekalahan tersebut sebagai bahan evaluasi sebelum pertandingan berikutnya. Mereka masih akan menghadapi Republik Ceko dan Kroasia dalam rangkaian Nations League, sebelum kembali bertemu Spanyol pada November. Jika pertandingan di Wembley menjadi ukuran awal, tantangan Inggris bukan sekadar menciptakan momentum, melainkan memastikan momentum tersebut tidak kembali berpindah ke tangan lawan.(*)