Sabtu, 07 November 2026
Breaking News
Nasional

Pesawat Australia Siram Kaltim, Asap Masih Mengancam

Riskal Arief | | 3 mnt baca
Pesawat Australia Siram Kaltim, Asap Masih Mengancam
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

SAMARINDA, BeritaNow.com – Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Timur kini mendapat lawan dari udara. Sebuah pesawat Hercules asal Australia dikerahkan untuk menjatuhkan ribuan liter air ke kawasan yang dilalap api. Namun, di balik operasi pemadaman berteknologi tinggi itu, muncul pertanyaan yang lebih membumi: mengapa kebakaran lahan masih menjadi ancaman berulang hingga Indonesia membutuhkan bantuan negara tetangga?

Pesawat Australia berjenis Hercules C-130 mulai menjalankan operasi pemadaman di Samarinda pada Jumat (6/11/2026). Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan tiga kali penjatuhan air hingga pukul 15.00 WIB, dengan sasaran dua titik kebakaran yang berada dekat permukiman warga. Operasi tersebut merupakan bagian dari kerja sama Indonesia dan Australia untuk mengendalikan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur.

Wakil Gubernur Kalimantan Timur Seno Aji menjelaskan bahwa bantuan udara itu merupakan tindak lanjut permintaan pemerintah provinsi kepada BNPB. Armada tersebut direncanakan beroperasi hingga 12 November 2026 dengan sasaran sejumlah kawasan rawan kebakaran. Keberadaannya diharapkan mempercepat pemadaman, terutama pada lokasi yang sulit dijangkau petugas darat.

Hercules Turun Tangan, Api Dekat Rumah Jadi Sasaran
Pemerintah Australia mengirimkan satu pesawat Hercules C-130 berkapasitas 15.000 liter air untuk setiap penerbangan pemadaman. Pesawat itu didampingi Cessna Citation yang bertugas membantu navigasi dan penentuan sasaran. Sebanyak 20 personel dari New South Wales Rural Fire Service turut dikerahkan untuk mendukung operasi.

Pada hari pertama, pemadaman difokuskan di kawasan Makroman, Kecamatan Sambutan, Samarinda. Dua titik api yang berdekatan dengan permukiman diprioritaskan karena memiliki potensi mengancam keselamatan masyarakat apabila kebakaran meluas. Setiap penerbangan pemadaman membutuhkan koordinasi dengan petugas lapangan agar air dijatuhkan pada lokasi yang tepat.

Operasi tersebut juga dirancang menjangkau Kutai Kartanegara, Paser, dan Kutai Timur. Pesawat Hercules ditargetkan mampu melakukan hingga enam penerbangan pemadaman setiap hari, bergantung pada kondisi operasional. Namun, banyaknya air yang dijatuhkan bukan ukuran tunggal keberhasilan karena petugas tetap harus memastikan api benar-benar padam dan tidak muncul kembali.

Bantuan Datang, Mengapa Kebakaran Terus Berulang?
BNPB menyebut Kalimantan Timur sebagai salah satu wilayah dengan konsentrasi titik api tinggi pada awal November. Berdasarkan pemantauan 5 November, provinsi tersebut berada di urutan kedua setelah Kalimantan Tengah. Laporan operasional sehari sebelumnya juga mencatat peningkatan 53 persen luas lahan yang sedang ditangani di Kalimantan Timur.

Kondisi itu memperlihatkan besarnya tantangan pengendalian kebakaran, terutama pada lahan yang sulit diakses. Pemadaman melalui udara dapat membantu menurunkan intensitas api, tetapi tetap memerlukan dukungan petugas darat untuk memastikan titik panas tidak kembali menyala. Tanpa pengawasan lanjutan, kebakaran berisiko muncul lagi ketika kondisi lahan dan cuaca mendukung.

Persoalan karhutla juga menyangkut penyebab munculnya api. Pembukaan lahan dengan pembakaran, kelalaian manusia, dan kondisi vegetasi yang mengering merupakan faktor risiko yang perlu diawasi, meskipun penyebab kebakaran terbaru di Kaltim belum dipastikan. Karena itu, pengerahan pesawat asing seharusnya menjadi momentum memperkuat pencegahan, bukan sekadar menunjukkan kemampuan memadamkan api setelah kebakaran meluas.

Yang Dipertaruhkan Bukan Cuma Hutan
Bagi masyarakat sekitar kawasan terbakar, keberhasilan operasi udara memiliki arti lebih luas daripada statistik penerbangan pesawat. Asap kebakaran dapat mengganggu kenyamanan, kesehatan pernapasan, serta aktivitas masyarakat apabila mencapai permukiman. Ancaman terhadap rumah dan lahan usaha juga menjadi alasan mengapa kebakaran dekat kawasan hunian harus memperoleh perhatian utama.

Kerja sama Indonesia dan Australia menunjukkan bahwa bencana lingkungan dapat menjadi persoalan lintas negara. Pemerintah kedua negara memiliki pengalaman saling membantu menghadapi kebakaran dan bencana alam, sehingga operasi ini juga memperkuat hubungan kemanusiaan. Namun, bantuan internasional tetap perlu diikuti penguatan kemampuan nasional dalam deteksi dini, pengawasan lahan, dan pemadaman berbasis masyarakat.

Perlu digarisbawahi, ukuran keberhasilan operasi Hercules bukanlah besarnya pesawat atau banyaknya air yang tercurah dari langit. Hasil yang lebih penting adalah jumlah titik api yang berhasil dikendalikan, keselamatan warga, dan kemampuan mencegah kebakaran berikutnya. Sebab, mendatangkan pesawat dari Australia mungkin dapat membantu memadamkan api hari ini, tetapi memastikan hutan tidak kembali terbakar merupakan pekerjaan rumah Indonesia sendiri.(*)

Komentar (0)