Perdagangan Wall Street 14 Oktober 2026: Nasdaq Anjlok 1,88%
Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI
NEW YORK, BERITANOW.COM – Perdagangan Wall Street 14 Oktober 2026 ditutup melemah setelah data inflasi Amerika Serikat tercatat lebih tinggi dari perkiraan. Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve dapat kembali menaikkan suku bunga.
Nasdaq Composite menjadi indeks yang paling tertekan dengan anjlok 1,88 persen atau 511,51 poin ke level 26.692,87. Penurunan tersebut merupakan pelemahan harian terbesar Nasdaq sejak 23 Juli.
S&P 500 turun 1,11 persen atau 86,51 poin ke 7.718,94. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average hanya melemah 0,09 persen atau 48,62 poin ke 51.621,48.
Inflasi Picu Kekhawatiran Suku Bunga
Indeks Harga Konsumen atau Consumer Price Index (CPI) September Amerika Serikat naik 0,6 persen secara bulanan. Secara tahunan, inflasi mencapai 3,7 persen, lebih tinggi dibandingkan ekspektasi pasar sebesar 3,6 persen.
Core CPI, yang mengecualikan harga makanan dan energi, naik 0,3 persen secara bulanan dan 2,6 persen secara tahunan. Angka tersebut juga melampaui konsensus pasar sebesar 2,5 persen.
Kenaikan inflasi membuat investor menilai Federal Reserve memiliki ruang lebih kecil untuk menahan suku bunga. Ekspektasi kenaikan suku bunga meningkat dan menekan sentimen terhadap saham pertumbuhan.
Biaya pinjaman yang lebih tinggi berpotensi memperlambat pembangunan pusat data AI. Kondisi tersebut menjadi pemicu utama tekanan pada saham teknologi dan perusahaan infrastruktur kecerdasan buatan.
Saham AI dan Teknologi Tertekan
Saham Oracle turun 8,8 persen, sedangkan CoreWeave melonjak turun 15 persen. Nebius juga melemah 10 persen, menandakan tekanan tidak hanya terjadi pada perusahaan teknologi besar, tetapi juga penyedia infrastruktur AI.
CoreWeave menjadi salah satu saham yang paling tertekan setelah yield obligasinya dilaporkan mencapai 15 persen. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran mengenai biaya pendanaan dan keberlanjutan ekspansi infrastruktur AI.
Dell Technologies juga tercatat melemah 11 persen, sementara Marvell turun sekitar 9 persen. Pelemahan tersebut menunjukkan koreksi menyebar ke rantai pasok perangkat keras dan infrastruktur data.
Saham teknologi besar seperti Alphabet juga mengalami tekanan. Investor mulai menilai ulang apakah belanja besar untuk pengembangan AI dapat diterjemahkan menjadi pertumbuhan laba yang sepadan.
Dampak bagi Pasar Global
Pelemahan Wall Street berpotensi menjadi sentimen negatif bagi bursa Asia pada perdagangan Kamis, 15 Oktober 2026. Tekanan dapat terasa pada saham teknologi, semikonduktor, dan perusahaan dengan ketergantungan pada pendanaan global.
Bagi Indonesia, kenaikan ekspektasi suku bunga AS berpotensi menekan rupiah dan membatasi arus dana asing ke pasar saham domestik. Kondisi tersebut dapat menambah tekanan pada IHSG, khususnya saham pertumbuhan.
Saham teknologi Indonesia dan emiten yang memiliki kewajiban dolar perlu diwaspadai. Kenaikan biaya pembiayaan global dapat meningkatkan beban keuangan serta menekan valuasi perusahaan.
Namun, saham energi dan komoditas dapat menjadi pilihan defensif apabila harga minyak tetap tinggi. Investor juga perlu memantau pergerakan yield Treasury AS sebagai indikator utama arah pasar.
Proyeksi Kamis
Wall Street diperkirakan masih bergerak fluktuatif pada Kamis. Investor akan terus menilai dampak data inflasi terhadap ekspektasi kebijakan Federal Reserve serta kinerja laporan keuangan perusahaan besar.
Jika ekspektasi kenaikan suku bunga semakin kuat, saham AI dan teknologi berpotensi menghadapi tekanan lanjutan. Sebaliknya, perbaikan sentimen dapat terjadi apabila pasar menilai reaksi The Fed tidak terlalu agresif.
Bagi IHSG, level 5.900 menjadi area penting untuk dipertahankan. Penembusan ke bawah level tersebut dapat memperbesar risiko koreksi, sementara pemulihan menuju 6.000 membutuhkan dukungan rupiah dan arus dana asing yang lebih stabil.(*)
Artikel ini bukan rekomendasi membeli atau menjual saham. Keputusan investasi perlu disesuaikan dengan profil risiko dan analisis masing-masing investor.