Perdagangan IHSG 9 Oktober 2026: Menguat Tipis di Awal Sesi
Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI
JAKARTA, BERITANOW.COM – Perdagangan IHSG 9 Oktober 2026 dibuka dengan penguatan tipis setelah indeks mengalami tekanan cukup dalam pada sesi sebelumnya. IHSG naik 7,73 poin atau 0,13 persen ke level 6.039,01 pada awal perdagangan Jumat.
Indeks sempat bergerak dalam rentang 6.031–6.039 pada menit-menit pertama. Penguatan ini merupakan respons awal setelah IHSG pada Kamis ditutup turun 115,44 poin atau 1,88 persen ke level 6.031,28.
Meski dibuka hijau, IHSG diperkirakan masih menghadapi tekanan. Sejumlah analis memperkirakan indeks berpotensi menguji level psikologis 6.000 sebelum menentukan arah selanjutnya.
Rupiah Menguat Tipis
Rupiah dibuka menguat 19 poin atau sekitar 0,11 persen ke level Rp17.896 per dolar AS. Posisi tersebut lebih baik dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.915.
Penguatan rupiah dapat membantu meredakan tekanan pada emiten dengan kewajiban dolar dan kebutuhan impor. Namun, penguatan ini belum cukup kuat untuk secara langsung mendorong IHSG ke zona hijau yang lebih lebar.
Nilai tukar tetap dipengaruhi oleh pergerakan dolar AS, yield obligasi pemerintah Amerika Serikat, dan harga minyak. Jika dolar kembali menguat dan yield Treasury naik, rupiah berpotensi kembali tertekan.
Rupiah yang stabil akan menjadi salah satu faktor penting bagi kelanjutan pemulihan IHSG. Tanpa dukungan nilai tukar, penguatan indeks dapat bersifat terbatas dan rentan terhadap aksi ambil untung.
Level 6.000 Jadi Sorotan
BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan IHSG berpotensi menguji level 6.000 dengan area support terdekat di 6.019. Level psikologis tersebut menjadi perhatian karena penembusan ke bawahnya dapat memicu pelemahan lanjutan.
Di sisi lain, MNC Sekuritas melihat IHSG masih berpeluang menguji area gap di 6.227–6.231 jika tekanan jual mereda. Rentang tersebut menjadi target pemulihan jangka pendek apabila sentimen pasar membaik.
Pasar masih mencermati imbal hasil obligasi AS, nilai tukar dolar AS terhadap rupiah, dan harga minyak dunia. Ketiga faktor eksternal tersebut dapat menentukan apakah IHSG mampu mempertahankan level 6.000 atau justru tertekan lebih dalam.
Secara teknikal, IHSG berada dalam posisi rentan setelah penurunan tajam Kamis. Investor perlu memperhatikan apakah pembelian muncul di sekitar 6.000 atau justru terjadi pelepasan ketika level tersebut diuji.
Saham yang Dicermati
Pada perdagangan Kamis, sebanyak 187 saham menguat, 518 saham melemah, dan 258 saham stagnan. Komposisi tersebut menunjukkan tekanan jual masih lebih dominan dibandingkan aksi beli.
Untuk Jumat, beberapa saham yang menjadi perhatian antara lain BBRI, BBCA, BMRI, GOTO, dan saham-saham energi. Pergerakan saham perbankan dan energi akan sangat menentukan arah indeks karena memiliki bobot besar.
Saham yang sebelumnya mengalami tekanan dapat menjadi target akumulasi apabila investor melihat valuasi sudah menarik. Namun, pembelian selektif belum cukup untuk mengangkat pasar secara keseluruhan tanpa dukungan arus dana asing yang lebih kuat.
Investor perlu mencermati volume transaksi, pergerakan LQ45, dan reaksi pasar terhadap level 6.000. Pembukaan yang positif belum menjamin IHSG akan bertahan di zona hijau hingga penutupan.
Proyeksi Hari Ini
IHSG diperkirakan bergerak dalam rentang support-resistance 5.850–6.216. Area tersebut menjadi kisaran yang perlu dipantau untuk melihat apakah pemulihan dapat berlanjut atau tekanan jual kembali dominan.
Jika IHSG mampu bertahan di atas 6.000 dan rupiah tetap stabil, peluang rebound menuju 6.100–6.200 masih terbuka. Sebaliknya, penembusan ke bawah 6.000 dapat meningkatkan risiko pelemahan menuju 5.850–5.900.
Pasar juga akan menunggu perkembangan bursa global, terutama Wall Street dan bursa Asia. Sentimen eksternal yang positif dapat membantu meredakan tekanan, tetapi faktor domestik tetap menjadi penentu utama.(*)
Artikel ini bukan rekomendasi membeli atau menjual saham. Keputusan investasi perlu disesuaikan dengan profil risiko dan analisis masing-masing investor.