Perdagangan IHSG 8 Oktober 2026 Tertekan, Emas dan Rupiah Disorot
Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI
JAKARTA, BERITANOW.COM – Perdagangan IHSG 8 Oktober 2026 berbalik melemah setelah sempat dibuka di zona hijau. IHSG turun 49,32 poin atau 0,80 persen ke level 6.097,40 pada penutupan sesi pertama.
Indeks sempat naik ke 6.179,09, tetapi kemudian berbalik turun dan menyentuh level terendah 6.088,89. Tekanan terlihat cukup luas dengan 461 saham melemah, sementara nilai transaksi mencapai sekitar Rp6,9 triliun.
Pelemahan tersebut terjadi setelah IHSG pada Rabu ditutup turun 0,75 persen ke level 6.146,72. Investor masih mencermati tekanan eksternal, arus dana asing, serta posisi rupiah dan harga komoditas.
Saham dan Sektor Tertekan
Pembalikan arah IHSG dari zona hijau ke merah menunjukkan aksi jual masih dominan. Saham-saham berkapitalisasi besar menjadi perhatian karena pergerakannya memiliki pengaruh besar terhadap indeks.
Investor asing justru tercatat membeli beberapa saham ketika IHSG melemah. BBCA dan GOTO menjadi dua saham yang ditampung asing pada sesi pertama, sementara MEDC dan EMAS juga mencatat pembelian bersih masing-masing sekitar Rp10,15 miliar dan Rp10,07 miliar.
Kondisi tersebut menunjukkan adanya rotasi dana, bukan aksi jual menyeluruh terhadap semua saham. Investor masih memilih emiten tertentu yang dianggap memiliki prospek atau valuasi lebih menarik setelah mengalami tekanan.
Di sisi lain, pelemahan IHSG menunjukkan bahwa pembelian selektif belum cukup untuk mengangkat pasar. Investor tetap perlu memperhatikan saham perbankan, energi, teknologi, dan komoditas karena sektor-sektor tersebut sensitif terhadap perubahan sentimen global.
Rupiah Bergerak Menguat
Rupiah dibuka menguat ke level Rp17.871 per dolar AS, naik sekitar 16 poin dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp17.887. Penguatan tersebut memberi sedikit ruang bagi pasar domestik, meskipun belum mampu menahan IHSG sepanjang sesi pertama.
Rupiah yang lebih stabil dapat membantu emiten dengan kewajiban dolar dan kebutuhan impor. Namun, tekanan terhadap saham tetap dapat muncul apabila investor asing melakukan penjualan atau bursa global bergerak negatif.
Nilai tukar juga perlu dibaca bersama pergerakan yield obligasi Amerika Serikat dan harga komoditas. Dolar yang kembali menguat dapat membatasi ruang rupiah, sementara kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan tekanan biaya dan inflasi.
Emas Turun di Pasar Domestik
Harga emas Antam turun Rp15.000 menjadi Rp2.565.000 per gram. Harga pembelian kembali atau buyback juga turun Rp25.000 menjadi Rp2.366.000 per gram.
Penurunan harga emas Antam terjadi meski harga emas spot dunia naik 0,4 persen menjadi US$4.127,40 per troy ounce. Perbedaan tersebut dapat dipengaruhi pergerakan rupiah, penyesuaian harga domestik, dan dinamika pasar lokal.
Harga emas global masih dipengaruhi oleh ketidakpastian geopolitik dan ekspektasi suku bunga. Namun, kenaikan yield obligasi dan dolar AS dapat membatasi minat terhadap emas karena aset tersebut tidak memberikan kupon atau bunga.
Komoditas Lain
Harga batu bara acuan yang tercatat dalam data pasar berada di sekitar US$99,87 per ton. Harga nikel berada di sekitar US$17.092,67 per ton, sehingga investor komoditas masih perlu memperhatikan permintaan industri dan prospek ekonomi China.
Komoditas energi dapat membantu emiten tambang apabila harga tetap tinggi. Namun, bagi sektor transportasi dan industri, harga energi tinggi dapat menaikkan biaya operasional.
Untuk perdagangan berikutnya, area 6.100 menjadi support penting bagi IHSG. Jika indeks mampu bertahan, peluang pemulihan menuju 6.200 masih terbuka. Sebaliknya, penembusan level tersebut dapat meningkatkan risiko pelemahan lanjutan.(*)
Artikel ini bukan rekomendasi membeli atau menjual saham, emas, atau komoditas. Keputusan investasi perlu disesuaikan dengan profil risiko dan analisis masing-masing investor.