Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI
JAKARTA, BERITANOW.COM – Perdagangan IHSG 7 Oktober 2026 berubah arah setelah indeks sempat dibuka menguat. IHSG turun 34,15 poin atau 0,55 persen ke level 6.158,78 pada penutupan sesi pertama.
Pada awal perdagangan, IHSG naik 0,28 persen ke 6.210,42. Namun, indeks kemudian bergerak turun dan mencatat level terendah 6.146,02, meski sempat menyentuh titik tertinggi 6.241,76.
Perubahan arah tersebut menunjukkan aksi ambil untung mulai muncul setelah IHSG menguat 1,21 persen pada perdagangan Selasa. Investor juga mencermati pergerakan saham berkapitalisasi besar serta laporan cadangan devisa Indonesia.
BYAN Jadi Pemberat Utama
Saham PT Bayan Resources Tbk atau BYAN menjadi salah satu sumber tekanan terbesar pada sesi pertama. Saham tersebut melemah sekitar 6,3 persen ke level Rp12.600.
Tekanan terhadap BYAN terjadi bersamaan dengan transaksi jumbo di pasar negosiasi senilai sekitar Rp26,9 triliun. Transaksi besar tersebut diduga berkaitan dengan perpindahan sebagian kepemilikan saham, tetapi transaksi negosiasi tidak secara langsung mencerminkan tekanan jual di pasar reguler.
Saham GOTO turun sekitar 3,2 persen, sementara DSSA melemah sekitar 2,6 persen. Penurunan saham-saham tersebut ikut menekan indeks karena sebagian memiliki kapitalisasi dan bobot yang cukup besar.
Sektor energi menjadi sektor dengan penurunan terdalam, yakni sekitar 1,38 persen. Sektor industri turun 1,33 persen, properti melemah 0,92 persen, dan infrastruktur terkoreksi 0,91 persen.
Sektor Positif Belum Cukup
Walaupun mayoritas sektor tertekan, masih ada kelompok saham yang menguat. Sektor teknologi, keuangan, dan beberapa saham konsumer sempat memberikan penopang pada awal perdagangan. Namun, kekuatan tersebut belum mampu mengimbangi tekanan dari saham energi dan industri.
Perbedaan kinerja antar sektor memperlihatkan investor masih melakukan rotasi dana. Sebagian pelaku pasar mengambil keuntungan dari saham yang telah naik tajam, sementara sebagian lainnya berpindah ke saham yang dinilai memiliki prospek lebih defensif.
Kondisi tersebut membuat kenaikan awal IHSG tidak bertahan. Investor perlu melihat perkembangan sesi kedua untuk menilai apakah pelemahan merupakan koreksi sementara atau awal konsolidasi setelah reli sebelumnya.
Saham TAXI turun 12,50 persen, BBSI melemah 6,22 persen, dan sejumlah saham lain masuk daftar top losers. Pergerakan saham-saham lapis bawah tetap perlu dibaca secara hati-hati karena volatilitasnya lebih tinggi.
Data Ekonomi Jadi Perhatian
Pasar menunggu laporan cadangan devisa Indonesia sebagai salah satu indikator ketahanan eksternal. Data tersebut dapat memengaruhi persepsi investor terhadap kemampuan negara menjaga stabilitas rupiah dan memenuhi kebutuhan pembayaran eksternal.
Pergerakan rupiah, harga komoditas, yield obligasi global, dan arah bursa Asia juga tetap menjadi faktor penting. Jika rupiah stabil dan tekanan jual saham berkapitalisasi besar mereda, IHSG masih berpeluang memulihkan sebagian penurunan.
Namun, apabila aksi ambil untung berlanjut dan saham energi tetap tertekan, indeks berisiko menguji area 6.120–6.150. Investor perlu mencermati volume transaksi, arus dana asing, dan kemampuan IHSG bertahan di atas level 6.100.(*)
Artikel ini bukan rekomendasi membeli atau menjual saham. Keputusan investasi perlu disesuaikan dengan profil risiko dan analisis masing-masing investor.