Selasa, 06 Oktober 2026
Breaking News
Ekonomi & Bisnis

Perdagangan IHSG 6 Oktober 2026 Menguat, Asing Masih Jual

Riskal Arief | | 3 mnt baca
Perdagangan IHSG 6 Oktober 2026 Menguat, Asing Masih Jual
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

JAKARTA, BERITANOW.COM – Perdagangan IHSG 6 Oktober 2026 bergerak positif sejak awal sesi. IHSG naik 77,23 poin atau 1,26 persen ke level 6.196,09 pada penutupan sesi pertama, setelah dibuka di 6.139,13.

Indeks sempat melewati level 6.200 sebelum sedikit menurun menjelang jeda siang. Penguatan ini memperpanjang rebound IHSG setelah indeks menguat 0,03 persen pada sesi pertama perdagangan Senin.

Kenaikan IHSG berlangsung luas. Sebanyak 516 saham berada di zona hijau, sedangkan aktivitas transaksi asing masih menunjukkan tekanan jual bersih sekitar Rp273,81 miliar pada seluruh pasar.

Hampir Semua Sektor Menguat
Seluruh sektor saham tercatat menguat pada sesi pertama. Sektor transportasi dan logistik memimpin kenaikan dengan pertumbuhan 3,33 persen, disusul teknologi 2,59 persen dan energi 2,33 persen.

Sektor industri naik 1,68 persen, sementara infrastruktur bertambah 1,16 persen. Barang konsumen siklikal, material dasar, properti, konsumer primer, keuangan, dan kesehatan juga ikut menguat.

Pergerakan sektoral yang serempak memberi sinyal bahwa penguatan tidak hanya bertumpu pada satu kelompok saham. Namun, investor tetap perlu melihat apakah kenaikan tersebut bertahan hingga sesi kedua atau justru berkurang akibat aksi ambil untung.

Saham ASMI menjadi top gainer dengan kenaikan 32 persen ke Rp33. TRUE melonjak 28,26 persen ke Rp59, sedangkan CSIS bertambah 25 persen menjadi Rp210. IFSH dan GMTD juga masuk jajaran saham dengan penguatan besar.

Di kelompok saham LQ45, DEWA naik 7,51 persen ke Rp372, GOTO menguat 6,90 persen ke Rp31, dan INDY bertambah 4,28 persen ke Rp2.680. Kenaikan GOTO dan saham energi membantu memperbaiki sentimen terhadap emiten berkapitalisasi besar dan saham yang sebelumnya berada di bawah tekanan.

Asing Masih Selektif
Investor asing membukukan pembelian bersih terbesar pada BBRI sekitar Rp57,22 miliar. ANTM, SMDR, dan ENRG juga mencatat net buy asing dengan nilai lebih kecil.

Namun, posisi agregat asing masih berada di sisi jual. Nilai foreign buy mencapai Rp1,85 triliun, sedangkan foreign sell berada di Rp2,12 triliun. Selisih tersebut menghasilkan net sell sekitar Rp273,81 miliar.

Kondisi ini menunjukkan penguatan IHSG belum sepenuhnya didukung arus modal asing. Investor domestik dan pembelian selektif pada beberapa saham tampaknya lebih berperan menjaga indeks di zona hijau.

Saham BBRI menjadi pengecualian penting karena memperoleh akumulasi asing di tengah pasar yang masih mencatat net sell. Pergerakan saham perbankan besar pada sesi kedua akan menjadi indikator apakah rebound IHSG memiliki tenaga lanjutan.

Rupiah Melemah Tipis
Rupiah berada di sekitar Rp17.902 per dolar AS pada pembukaan perdagangan, sedikit melemah dibandingkan posisi sebelumnya di Rp17.895. Pelemahan terbatas tersebut belum menghalangi penguatan IHSG, tetapi tetap menjadi risiko yang perlu dipantau.

Jika rupiah kembali tertekan, emiten dengan utang dolar atau ketergantungan pada bahan baku impor dapat menghadapi tekanan. Sebaliknya, emiten eksportir dan saham komoditas dapat memperoleh dukungan dari penerimaan valuta asing.

Secara teknikal, IHSG berpeluang menguji area 6.200–6.250 jika penguatan bertahan hingga penutupan. Namun, investor perlu mencermati volume transaksi, arus asing, serta potensi aksi ambil untung setelah kenaikan cukup tajam pada sesi pertama.(*)

Artikel ini bukan rekomendasi membeli atau menjual saham. Keputusan investasi perlu disesuaikan dengan profil risiko dan analisis masing-masing investor.

Komentar (0)