Sabtu, 03 Oktober 2026
Breaking News
Ekonomi & Bisnis

Penutupan Wall Street 2 Oktober 2026: Nasdaq Menguat 1,19%

Riskal Arief | | 4 mnt baca
Penutupan Wall Street 2 Oktober 2026: Nasdaq Menguat 1,19%
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

NEW YORK, BERITANOW.COM – Penutupan Wall Street pada Jumat (2/10/2026) berakhir menguat setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat menunjukkan perlambatan perekrutan yang lebih tajam dari perkiraan pasar.

Dow Jones Industrial Average naik 250,40 poin atau 0,49 persen ke level 51.176,96. S&P 500 bertambah 56,27 poin atau 0,73 persen menjadi 7.722,72, sedangkan Nasdaq Composite menguat 319,27 poin atau 1,19 persen ke 27.190,86.

Kenaikan Nasdaq menjadi yang paling besar karena saham teknologi dan perusahaan pertumbuhan paling diuntungkan oleh menurunnya ekspektasi kenaikan suku bunga. Investor menilai data pekerjaan yang lemah dapat membuat Federal Reserve lebih berhati-hati sebelum menaikkan suku bunga.

Data Pekerjaan Mengubah Ekspektasi
Laporan tenaga kerja AS menunjukkan perekrutan hanya menambah 29.000 pekerjaan pada September. Angka tersebut jauh di bawah perkiraan ekonom dan lebih rendah dibandingkan ekspektasi sekitar 84.000–90.000 pekerjaan.

Tingkat pengangguran juga naik menjadi 4,2 persen dari 4,1 persen pada Agustus. Kondisi tersebut membuat investor memperkirakan Federal Reserve lebih mungkin mempertahankan suku bunga pada pertemuan Oktober.

Namun, data pekerjaan yang lemah memiliki dua sisi. Di satu sisi, peluang suku bunga yang lebih rendah membantu saham. Di sisi lain, perlambatan perekrutan dapat menjadi sinyal pelemahan konsumsi dan laba perusahaan jika berlanjut dalam beberapa bulan ke depan.

Pasar juga tetap menghadapi tekanan dari harga minyak dan yield obligasi. Yield Treasury AS 10 tahun sempat turun setelah rilis data, tetapi kemudian kembali naik ke sekitar 5,28 persen.

Dampak bagi IHSG Minggu Depan
Penguatan Wall Street dapat memberi sentimen positif bagi IHSG pada awal pekan depan. Penguatan Nasdaq sebesar 1,19 persen berpotensi menopang saham teknologi, emiten digital, serta perusahaan yang bergerak di bidang kecerdasan buatan dan infrastruktur data.

Namun, dampaknya tidak otomatis besar bagi pasar Indonesia. IHSG tetap dipengaruhi oleh rupiah, arus investor asing, harga komoditas, yield obligasi AS, dan kondisi politik serta ekonomi domestik.

IHSG berakhir di sekitar level 6.000 pada pekan ini setelah mengalami tekanan cukup besar. Jika penguatan Wall Street diikuti rupiah yang stabil dan arus dana asing membaik, indeks berpeluang mencoba kembali ke area 6.050–6.100.

Sebaliknya, tekanan dapat berlanjut apabila rupiah melemah, investor asing kembali menjual saham, atau yield obligasi AS kembali naik. Saham perbankan, energi, dan emiten berkapitalisasi besar tetap menjadi indikator utama arah IHSG.

Rupiah dan Pasar Obligasi Perlu Dicermati
Rupiah akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah pasar Indonesia minggu depan. Penguatan Wall Street dapat membantu sentimen, tetapi tekanan pada rupiah belum sepenuhnya hilang karena yield Treasury masih berada di level tinggi.

Jika rupiah stabil atau menguat, investor dapat lebih berani mengambil posisi pada saham domestik. Kondisi tersebut juga dapat mengurangi kekhawatiran terhadap emiten yang memiliki kewajiban dalam dolar AS.

Di pasar obligasi, yield SBN perlu dipantau karena kenaikan yield AS dapat menular ke pasar domestik. Yield yang tinggi dapat membuat obligasi lebih menarik dibandingkan saham, sehingga membatasi penguatan IHSG.

Pasar juga akan mengamati harga minyak dan perkembangan geopolitik. Kenaikan harga energi dapat menambah risiko inflasi, sementara penurunan harga minyak dapat memberi ruang bagi saham dan mata uang negara berkembang untuk pulih.

Perhatian Investor Minggu Depan
Investor perlu memantau data ekonomi AS, arah Federal Reserve, pergerakan dolar, serta harga komoditas. Ketiga faktor tersebut akan menentukan apakah penguatan Wall Street dapat bertahan hingga pekan berikutnya.

Bagi IHSG, kenaikan teknologi di Wall Street dapat menjadi peluang bagi saham digital dan teknologi domestik. Namun, pemulihan akan lebih kuat apabila saham perbankan dan saham berkapitalisasi besar ikut mendapatkan dukungan.

Pasar Indonesia juga perlu mencermati kebijakan pemerintah terkait ekonomi, fiskal, dan hubungan industrial. Kepastian kebijakan dapat membantu meningkatkan kepercayaan investor, sementara ketidakpastian dapat membuat pasar tetap defensif.

Secara keseluruhan, penguatan Wall Street memberi peluang rebound bagi IHSG, tetapi keberlanjutannya bergantung pada rupiah, arus asing, dan kondisi pasar obligasi. Investor sebaiknya tetap menerapkan manajemen risiko karena volatilitas masih tinggi.(*)

Artikel ini bukan rekomendasi membeli atau menjual saham. Keputusan investasi perlu disesuaikan dengan profil risiko dan analisis masing-masing investor.

Komentar (0)