Selasa, 29 September 2026
Breaking News
Ekonomi & Bisnis

Penutupan Perdagangan BEI 29 September 2026: IHSG Turun ke 6.121

Riskal Arief | | 3 mnt baca
Penutupan Perdagangan BEI 29 September 2026: IHSG Turun ke 6.121
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

JAKARTA, BERITANOW.COM – Penutupan perdagangan BEI 29 September 2026 berakhir di zona negatif. IHSG turun 26,16 poin atau 0,43 persen ke level 6.121,70 setelah bergerak fluktuatif sepanjang sesi.

Indeks sempat mengalami tekanan lebih dalam pada awal perdagangan dan turun lebih dari 2 persen. Namun, aksi beli pada sejumlah saham mampu mengurangi sebagian pelemahan hingga penutupan.

Perdagangan berlangsung dengan 303 saham menguat, 373 saham melemah, dan 118 saham stagnan. Data tersebut menunjukkan tekanan masih lebih dominan, meski pemulihan intraday berhasil menahan IHSG dari penurunan yang lebih tajam.

Saham Teknologi Jadi Beban

Sektor teknologi menjadi salah satu pemberat terbesar dengan penurunan sekitar 3,37 persen. Sektor properti turun 1,31 persen, sedangkan sektor energi melemah sekitar 1,10 persen.

Tekanan pada sektor teknologi memperlihatkan bahwa investor masih berhati-hati terhadap saham pertumbuhan dan emiten yang sensitif terhadap perubahan suku bunga. Penurunan saham GOTO, BBCA, dan BREN turut membatasi kemampuan indeks untuk pulih.

Di sisi lain, sektor konsumen siklikal menguat 0,70 persen, sektor industri naik 0,50 persen, dan infrastruktur bertambah 0,06 persen. Pergerakan positif pada ketiga sektor tersebut membantu mengurangi tekanan, meski belum mampu membawa IHSG ke zona hijau.

BBRI dan ASII Menahan Pelemahan

Saham Bank Rakyat Indonesia atau BBRI menjadi salah satu penahan tekanan pasar. BBRI ditutup naik 0,96 persen ke level Rp3.170 dan mencatat net foreign buy sekitar Rp66,87 miliar.

Saham Astra International atau ASII juga menguat 0,64 persen ke Rp4.700. Investor asing tercatat membukukan pembelian bersih sekitar Rp21,68 miliar pada saham tersebut.

Masuknya dana asing ke BBRI dan ASII menunjukkan bahwa investor masih melakukan akumulasi selektif terhadap saham berkapitalisasi besar. Namun, pembelian pada beberapa saham belum cukup besar untuk membalikkan arah IHSG secara keseluruhan.

Kondisi ini perlu dibaca secara hati-hati karena kenaikan saham tertentu tidak selalu berarti pasar telah memasuki tren pemulihan. Investor masih mempertimbangkan risiko rupiah, harga komoditas, dan arus dana asing secara keseluruhan.

Volatilitas Masih Tinggi

IHSG mengalami pergerakan yang lebar setelah dibuka melemah. Tekanan awal dipengaruhi oleh sentimen pasar global, rupiah yang berada dekat Rp18.000 per dolar AS, serta penyesuaian perdagangan setelah kebijakan harga minimum saham Rp1 mulai berlaku di BEI.

Bursa menegaskan bahwa penghapusan batas harga minimum saham Rp50 bukan penyebab langsung pelemahan IHSG. Penurunan indeks lebih banyak dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal, nilai tukar, aksi investor, dan tekanan pada saham-saham berkapitalisasi besar.

Investor perlu memisahkan dampak mekanisme perdagangan dari kondisi fundamental perusahaan. Saham berharga rendah dapat bergerak sangat volatil, tetapi perubahan nominal kecil tidak otomatis mencerminkan peningkatan atau penurunan nilai bisnis emiten.

Untuk perdagangan berikutnya, perhatian akan tertuju pada kemampuan IHSG bertahan di atas level 6.100. Jika tekanan jual kembali meningkat, indeks berpotensi menguji area 6.000. Sebaliknya, berkurangnya aksi jual asing dan penguatan saham perbankan dapat membuka peluang pemulihan teknikal.(*)

Artikel ini bukan rekomendasi membeli atau menjual saham. Keputusan investasi perlu disesuaikan dengan profil risiko dan analisis masing-masing investor.

Komentar (0)