Penutupan Market 28 September 2026: IHSG Turun ke 6.147,85
Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI
JAKARTA, BERITANOW.COM – Penutupan market pada Senin (28/9/2026) berakhir penuh tekanan. IHSG kehilangan 94,03 poin atau 1,51 persen dan menetap di level 6.147,85.
Indeks bergerak dalam rentang 6.140,34–6.241,89 sebelum berakhir dekat titik terendah hariannya. Nilai transaksi tercatat sekitar Rp8,97 triliun, menunjukkan aktivitas pasar yang relatif terbatas di tengah tekanan jual.
Pelemahan IHSG berlangsung pada hari pertama penerapan batas harga minimum saham Rp1 di BEI. Kebijakan tersebut menjadi perhatian pasar, tetapi tekanan indeks juga dipengaruhi pelemahan rupiah, harga minyak, dan sentimen global.
Rupiah Melemah, Minyak Jadi Risiko
Rupiah ditutup di sekitar Rp17.978 per dolar AS, melemah 75 poin atau 0,42 persen. Penurunan rupiah menambah tekanan bagi emiten yang memiliki kewajiban valuta asing atau bergantung pada bahan baku impor.
Harga minyak yang masih tinggi menjadi faktor lain yang diperhatikan investor. Ketegangan di sekitar Selat Hormuz dan ketidakpastian pasokan energi dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi serta biaya produksi.
Dampak pelemahan rupiah tidak sama bagi semua perusahaan. Emiten eksportir dapat memperoleh tambahan nilai penerimaan, sedangkan perusahaan dengan kebutuhan impor besar berpotensi menghadapi kenaikan biaya.
Pasar juga mencermati kenaikan imbal hasil obligasi global. Yield yang tinggi dapat membuat aset berbasis dolar lebih menarik dan mengurangi minat terhadap saham negara berkembang.
Saham Berharga Rendah Jadi Sorotan
Penerapan batas minimum Rp1 membuat saham berharga rendah memiliki ruang pergerakan yang lebih luas. Sejumlah saham langsung mengalami tekanan hingga menyentuh batas ARB, sementara beberapa saham lain justru mencatat kenaikan maksimum harian.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa harga nominal rendah tidak otomatis berarti saham murah. Investor tetap perlu melihat kapitalisasi pasar, laporan keuangan, utang, likuiditas, serta prospek bisnis emiten.
Perubahan mekanisme harga dapat meningkatkan volatilitas, terutama pada saham yang sebelumnya tertahan di level Rp50. Pergerakan satu rupiah pada saham berharga rendah juga dapat menghasilkan perubahan persentase yang sangat besar.
Karena itu, kebijakan baru BEI perlu dibaca sebagai perubahan mekanisme perdagangan, bukan sebagai sinyal bahwa seluruh saham di bawah Rp50 memiliki peluang naik.
Prediksi Pembukaan Selasa
Untuk perdagangan Selasa (29/9/2026), sejumlah analis memperkirakan IHSG masih menghadapi tekanan. Area support terdekat berada di sekitar 6.110, dengan support lanjutan pada 6.030. Sementara itu, resistance berada di area 6.185 dan 6.230–6.270.
Jika IHSG mampu bertahan di atas 6.110, peluang rebound teknikal menuju 6.185 masih terbuka. Namun, penguatan kemungkinan berlangsung terbatas apabila rupiah tetap melemah dan investor asing kembali mencatat penjualan.
Rupiah juga diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada kisaran Rp17.900–Rp17.950 per dolar AS. Proyeksi tersebut dapat menjadi hambatan bagi saham-saham yang sensitif terhadap nilai tukar.
Pembukaan Selasa akan sangat ditentukan oleh pergerakan bursa global, harga minyak, dan arus dana asing. Investor perlu memperhatikan saham perbankan, energi, dan emiten yang terdampak langsung oleh perubahan batas harga minimum.
Jika tekanan eksternal berkurang, IHSG dapat mencoba stabil di sekitar 6.100–6.200. Sebaliknya, penembusan support 6.110 dapat memperbesar risiko indeks menguji area 6.030.(*)
Artikel ini merupakan analisis pasar dan bukan rekomendasi membeli atau menjual saham. Keputusan investasi perlu disesuaikan dengan profil risiko dan pertimbangan masing-masing investor.