Jumat, 09 Oktober 2026
Breaking News
Ekonomi & Bisnis

Penutupan IHSG 9 Oktober 2026 Menguat 1,04% ke 6.093

Riskal Arief | | 3 mnt baca
Penutupan IHSG 9 Oktober 2026 Menguat 1,04% ke 6.093
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

JAKARTA, BERITANOW.COM – Penutupan IHSG 9 Oktober 2026 berakhir menguat 62,48 poin atau 1,04 persen ke level 6.093,76. Kenaikan tersebut menjadikan indeks bursa Indonesia salah satu yang bergerak paling kuat di Asia pada Jumat.

IHSG dibuka di level 6.039,01, namun sempat tertekan hingga 5.995,82 atau turun di bawah level psikologis 6.000. Pasar kemudian bangkit dan mencapai posisi tertinggi di 6.100,58 sebelum ditutup dekat puncak hariannya. 

Penguatan ini kontras dengan penurunan 1,88 persen pada Kamis, ketika IHSG ditutup di 6.031,28. Rebound Jumat menunjukkan minat beli kembali muncul setelah aksi jual pada sesi sebelumnya. 

Aktivitas Pasar Kembali Ramai
Nilai transaksi seluruh pasar mencapai Rp9,93 triliun dengan volume 37,57 miliar lembar saham. Frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 1,42 juta kali. 

Sebanyak 407 saham menguat, 245 saham melemah, dan 311 saham stagnan. Komposisi tersebut menunjukkan penguatan tidak hanya terjadi pada saham berkapitalisasi besar, tetapi juga merata di sejumlah sektor. 

Aktivitas yang tinggi menandakan kepercayaan investor mulai kembali setelah tekanan jual pada Kamis. Namun, pergerakan indeks yang sempat turun di bawah 6.000 juga menunjukkan pasar masih berada dalam fase yang tidak stabil.

Saham Perbankan dan Energi Mengangkat Indeks
Saham Telkom Indonesia (TLKM) ditutup menguat 2,65 persen ke Rp2.320 per lembar. Saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI) naik 2,31 persen ke Rp3.100, sedangkan Bumi Resources (BUMI) melonjak 3,45 persen ke Rp180. 

Penguatan saham perbankan menjadi faktor penting karena BBRI, BMRI, dan BBCA memiliki bobot besar dalam perhitungan IHSG. Kenaikan saham-saham tersebut membantu indeks bangkit dari tekanan pada awal sesi.

Saham energi dan batu bara juga memberikan dukungan positif. Pergerakan harga komoditas dan prospek pendapatan emiten energi membantu menopang sentimen pasar menjelang akhir pekan. 

Pada sesi pertama, IHSG sudah menunjukkan sinyal pemulihan dengan menguat 0,35 persen ke 6.052,51. Momentum tersebut kemudian berlanjut pada sesi kedua hingga indeks menutup di zona hijau yang lebih kuat. 

Sentimen Global dan Rupiah
Rupiah pada pembukaan Jumat menguat tipis ke Rp17.896 per dolar AS. Penguatan nilai tukar membantu meredakan tekanan pada emiten dengan kewajiban dolar dan kebutuhan impor. 

Pergerakan pasar global tetap menjadi perhatian utama. Investor memantau harga minyak, yield obligasi pemerintah Amerika Serikat, dan pergerakan bursa Asia dalam menilai arah arus modal ke pasar berkembang.

IHSG sempat tertekan pada awal sesi karena kekhawatiran terhadap tekanan eksternal belum sepenuhnya mereda. Namun, pembelian pada saham berbobot besar mampu mengubah arah pasar menjadi positif. 

Penguatan 1,04 persen menunjukkan pasar masih memiliki ruang pemulihan jangka pendek. Meski demikian, keberlanjutan rebound akan bergantung pada stabilitas rupiah dan sentimen global pada pekan berikutnya.

Proyeksi Pekan Depan
Level 6.000 kembali menjadi area psikologis yang penting. Selama indeks bertahan di atas level tersebut, peluang pemulihan menuju 6.100–6.200 masih terbuka. 

Sebaliknya, penembusan ke bawah 6.000 dapat memicu tekanan jual kembali. Investor perlu memantau pergerakan rupiah, harga minyak, dan yield Treasury AS sebagai indikator utama arah pasar.

Saham perbankan, telekomunikasi, dan energi kemungkinan tetap menjadi penentu arah IHSG. Pergerakan saham berbobot besar tersebut akan sangat memengaruhi pergerakan indeks secara keseluruhan.(*)

Artikel ini bukan rekomendasi membeli atau menjual saham. Keputusan investasi perlu disesuaikan dengan profil risiko dan analisis masing-masing investor.

Komentar (0)