Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI
JAKARTA, BERITANOW.COM – Penutupan IHSG 5 Oktober 2026 berakhir hampir tidak berubah dari sesi sebelumnya. Indeks Harga Saham Gabungan naik 2,10 poin atau 0,03 persen ke level 6.038,99.
Sepanjang sesi pertama, IHSG bergerak dalam rentang 6.019,84–6.085,45. Pergerakan yang sempit menunjukkan investor masih menahan transaksi besar setelah indeks mengalami tekanan pada akhir September.
Pada awal perdagangan, IHSG sempat naik 0,30 persen ke 6.055,16. Namun, penguatan tersebut menyusut hingga siang karena aksi beli dan jual berlangsung berimbang.
Rupiah Berakhir Melemah
Rupiah ditutup melemah 0,19 persen ke level Rp17.917 per dolar AS. Posisi tersebut lebih rendah dibandingkan penutupan Jumat sebelumnya di Rp17.882.
Pelemahan rupiah menjadi salah satu faktor yang membatasi ruang penguatan IHSG. Investor masih mencermati tekanan dari harga minyak, yield obligasi Amerika Serikat, dan ketegangan geopolitik.
Nilai tukar yang melemah dapat meningkatkan biaya bagi perusahaan dengan kewajiban dolar atau kebutuhan impor besar. Sebaliknya, emiten eksportir dapat memperoleh dukungan dari pendapatan valuta asing, meski dampaknya bergantung pada komposisi biaya dan struktur bisnis.
Kondisi rupiah juga berpengaruh terhadap persepsi investor asing. Jika tekanan nilai tukar berlanjut, investor dapat menahan pembelian saham domestik atau mengurangi eksposur pada aset berdenominasi rupiah.
Sektor Bergerak Berlawanan
Sektor properti dan real estat memimpin penguatan dengan kenaikan sekitar 1 persen. Barang konsumen non-primer dan transportasi juga menguat, masing-masing sekitar 0,87 persen dan 0,79 persen.
Sektor barang baku, energi, industri, dan infrastruktur turut mencatat kenaikan terbatas. Pergerakan tersebut membantu menjaga IHSG tetap berada di zona hijau meski penguatannya sangat tipis.
Sebaliknya, sektor teknologi merosot 2,13 persen dan menjadi pemberat utama indeks. Sektor kesehatan turun 0,20 persen, sementara sektor keuangan melemah tipis 0,07 persen.
Tekanan pada sektor teknologi menunjukkan investor masih berhati-hati terhadap saham pertumbuhan. Saham perbankan yang bergerak terbatas juga membuat IHSG kehilangan tenaga untuk melanjutkan penguatan.
Asing Masih Melepas Saham
Investor asing masih mencatatkan penjualan bersih pada perdagangan Senin. Saham BBRI, GOTO, SINI, BMRI, dan DSSA termasuk yang menjadi sasaran tekanan jual asing.
Pada sesi pertama, nilai transaksi tercatat sekitar Rp5,08 triliun dengan volume 21,08 miliar saham. Sebanyak 426 saham menguat, 222 saham melemah, dan 143 saham tidak berubah.
Perbedaan antara jumlah saham yang naik dan IHSG yang hanya menguat tipis menunjukkan indeks masih terbebani saham-saham berkapitalisasi besar. Kenaikan beberapa sektor belum cukup untuk mengimbangi tekanan pada saham yang memiliki bobot besar.
Kondisi ini membuat rebound IHSG belum dapat dianggap sebagai perubahan tren. Investor masih membutuhkan penguatan rupiah, penurunan aksi jual asing, dan peningkatan transaksi pada saham blue chips.
Posisi IHSG Berikutnya
Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG bergerak sideways dengan peluang menguat pada rentang 6.000–6.200. Area 6.000 menjadi support psikologis, sedangkan level 6.200 menjadi batas atas yang perlu ditembus untuk menguatkan momentum.
IHSG masih memiliki peluang menguji area 6.085–6.150 apabila tekanan jual asing berkurang. Namun, pelemahan rupiah dan sektor teknologi dapat kembali menarik indeks ke sekitar 6.000.
Investor perlu memperhatikan pergerakan saham perbankan, rupiah, yield obligasi AS, harga minyak, dan arus dana asing pada perdagangan berikutnya. Artikel ini bukan rekomendasi membeli atau menjual saham.(*)