Selasa, 27 Oktober 2026
Breaking News
Ekonomi & Bisnis

Penutupan IHSG 27 Oktober 2026 Anjlok 1,99% ke 5.266

Riskal Arief | | 3 mnt baca
Penutupan IHSG 27 Oktober 2026 Anjlok 1,99% ke 5.266
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

JAKARTA, BERITANOW.COM – Penutupan IHSG 27 Oktober 2026 berakhir melemah setelah tekanan jual meningkat tajam pada sesi kedua. Indeks Harga Saham Gabungan turun 106,96 poin atau 1,99 persen ke level 5.266,13 pada perdagangan Selasa.

IHSG dibuka melemah 0,28 persen ke level 5.357,97. Indeks sempat menguat hingga posisi tertinggi 5.418,14 pada sesi pagi, sebelum berbalik tertekan menjelang penutupan. 

Tekanan jual meningkat sekitar pukul 14.00 WIB dan membawa IHSG turun dari area 5.350 ke bawah 5.225 dalam waktu satu jam. Indeks sempat menyentuh level terendah 5.210,29 sebelum pulih tipis pada akhir sesi. 

Aksi Jual Asing Kian Kuat
Investor asing mencatat penjualan bersih Rp2,03 triliun pada perdagangan Selasa. Aksi jual tersebut memperbesar tekanan terhadap saham berkapitalisasi besar dan memperburuk pelemahan IHSG. 

Secara kumulatif sepanjang 2026, penjualan bersih investor asing telah mencapai Rp122,20 triliun. Angka tersebut menunjukkan tekanan arus keluar modal asing masih menjadi risiko utama bagi pasar saham Indonesia. 

Pada sesi pertama, investor asing sudah mencatat penjualan bersih Rp578,30 miliar. Nilai transaksi jual investor asing mencapai Rp2,24 triliun, lebih besar dibandingkan pembelian sebesar Rp1,66 triliun. 

Tekanan arus keluar dana asing membuat saham berkapitalisasi besar menjadi sasaran pelepasan. Kondisi tersebut memperlebar tekanan terhadap IHSG karena saham big cap memiliki bobot dominan dalam perhitungan indeks. 

Rupiah dan Sentimen Global Menekan
Rupiah ditutup melemah 0,2 persen ke level Rp18.127 per dolar AS pada Senin. Pelemahan nilai tukar menambah tekanan pada saham dengan kewajiban dolar serta perusahaan yang bergantung pada bahan baku impor. 

Investor juga menunggu keputusan suku bunga Federal Reserve atau The Fed. Ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter AS dapat memengaruhi pergerakan dolar, yield Treasury, dan arus modal ke pasar berkembang. 

Kenaikan harga minyak dunia juga menjadi faktor tekanan. Kenaikan energi berpotensi mendorong inflasi impor dan menekan daya beli konsumen. 

Kombinasi pelemahan rupiah, ekspektasi kebijakan The Fed, dan tekanan harga minyak membuat investor cenderung mengurangi paparan pada aset berisiko. Kondisi tersebut memperkuat tekanan jual pada pasar saham Indonesia. 

Sektor Energi dan Teknologi Tertekan
Sektor energi dan teknologi menjadi kelompok yang paling tertekan pada perdagangan Selasa. Kedua sektor tersebut tercatat melemah sekitar 3 persen pada penutupan. 

Tekanan pada saham energi terjadi karena fluktuasi harga minyak dan kekhawatiran terhadap dampak inflasi global. Sementara itu, saham teknologi tertekan karena investor mengurangi paparan pada aset pertumbuhan bernilai tinggi. 

Saham bank dan konglomerasi juga menjadi beban utama bagi indeks. Pelemahan pada saham berbobot besar membuat IHSG sulit bertahan di atas level 5.300. 

Aktivitas transaksi tetap ramai dengan volume 36,27 miliar lembar saham dan nilai transaksi Rp17,53 triliun. Tingginya volume di tengah penurunan indeks menunjukkan pelepasan berlangsung dalam skala besar. 

Indikator yang Harus Diperhatikan
Investor perlu memantau pergerakan rupiah, harga minyak, dan arus dana asing sebagai indikator utama. Ketiga faktor tersebut akan menentukan apakah IHSG mampu pulih atau terus tertekan. 

Keputusan suku bunga The Fed juga menjadi sorotan utama. Hasil keputusan tersebut dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter global. 

Saham perbankan, energi, telekomunikasi, dan komoditas kemungkinan tetap menjadi penentu arah IHSG. Pergerakan saham berbobot besar tersebut akan sangat memengaruhi pergerakan indeks secara keseluruhan.(*) 

Artikel ini bukan rekomendasi membeli atau menjual saham. Keputusan investasi perlu disesuaikan dengan profil risiko dan analisis masing-masing investor.

Komentar (0)