Jumat, 25 September 2026
Breaking News
Ekonomi & Bisnis

Penutupan IHSG 25 September 2026: Indeks Berakhir di 6.241

Riskal Arief | | 3 mnt baca
Penutupan IHSG 25 September 2026: Indeks Berakhir di 6.241
Bagikan:

Gabung Di Kanal Whatsapp KLIK DISINI

JAKARTA, BERITANOW.COM – Penutupan IHSG 25 September 2026 mencatat pelemahan 56,71 poin atau 0,90 persen ke posisi 6.241,89. Koreksi ini memperpanjang tekanan pasar saham domestik pada akhir pekan.

Indeks sempat membuka perdagangan di zona hijau, tetapi tidak mampu mempertahankan kenaikan. Pada jeda siang, IHSG sudah turun 0,55 persen ke 6.263,73 dan tekanan berlanjut hingga pasar ditutup. 

Perdagangan hari ini menunjukkan sentimen investor masih rapuh. Pelemahan rupiah, tingginya imbal hasil obligasi Amerika Serikat, dan arus dana asing yang belum stabil membuat pelaku pasar mengurangi eksposur terhadap saham berisiko.

Semua Sektor Berakhir Negatif

Tekanan jual menyebar ke seluruh indeks sektoral. Sektor industri mengalami penurunan terdalam, sekitar 2,52 persen. Infrastruktur menyusul dengan pelemahan 2,22 persen, sementara sektor transportasi dan logistik turun 1,84 persen.

Sektor teknologi terkoreksi 1,73 persen, barang konsumen primer turun 1,37 persen, dan properti melemah 1,26 persen. Sektor energi juga turun 1,18 persen.

Pelemahan yang merata menunjukkan pasar tidak hanya menjual saham pada satu sektor tertentu. Investor tampak menahan risiko di tengah kekhawatiran terhadap kondisi keuangan global dan stabilitas nilai tukar.

Saham Bank Bergerak Beragam

Saham perbankan besar turut menentukan arah IHSG, tetapi pergerakannya tidak sepenuhnya seragam. BMRI melemah 2,86 persen ke Rp4.070. BBNI turun 1,95 persen menjadi Rp3.520. Tekanan pada dua saham tersebut memberi beban cukup besar bagi indeks karena kapitalisasi pasarnya besar. 

Di sisi lain, data penutupan lain menunjukkan BBRI naik 0,32 persen dan BBCA menguat 0,40 persen. Penguatan terbatas pada dua saham tersebut belum cukup untuk menahan tekanan lebih luas di pasar.

Pergerakan yang berbeda pada saham blue chips menandakan investor masih melakukan seleksi. Pasar tidak sepenuhnya meninggalkan saham perbankan, tetapi juga belum memperlihatkan minat beli yang cukup kuat untuk memulihkan indeks.

Investor Asing Masih Mencatat Penjualan

Investor asing tercatat membukukan penjualan bersih sekitar Rp355,7 miliar pada perdagangan Jumat. Aksi jual asing menjadi salah satu faktor yang membatasi pergerakan pasar, terutama setelah arus keluar dana juga terlihat pada perdagangan sebelumnya.

Dalam beberapa hari terakhir, saham-saham besar seperti BMRI, BBRI, TLKM, ANTM, dan DEWA menjadi perhatian karena masuk daftar saham yang banyak dilepas investor asing.

Arus dana asing penting bagi IHSG karena dapat memengaruhi saham berkapitalisasi besar, nilai tukar rupiah, dan persepsi risiko investor terhadap pasar keuangan Indonesia.

Rupiah dan Pasar Global

Rupiah memasuki perdagangan Jumat dengan tekanan dan sempat berada di kisaran Rp17.935 per dolar AS. Pelemahan nilai tukar membuat pasar lebih berhati-hati, terutama terhadap emiten dengan kewajiban dolar atau kebutuhan impor besar.

Sentimen eksternal juga belum sepenuhnya mendukung. Imbal hasil surat utang AS tetap tinggi, sehingga aset dolar masih menarik bagi investor global. Kondisi itu dapat membatasi aliran dana menuju pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Untuk perdagangan awal pekan depan, pelaku pasar akan memantau pergerakan rupiah, data arus dana asing, harga minyak, serta arah bursa global. Secara teknikal, area 6.200 akan menjadi level yang perlu diperhatikan setelah IHSG ditutup di 6.241,89.

Jika indeks mampu bertahan di atas area tersebut dan tekanan rupiah mereda, peluang pemulihan terbatas dapat terbuka. Namun, jika aksi jual asing berlanjut, IHSG berisiko kembali menguji level yang lebih rendah.(*)

Artikel ini bukan rekomendasi membeli atau menjual saham. Keputusan investasi perlu disesuaikan dengan profil risiko dan analisis masing-masing investor.

Komentar (0)