Kamis, 15 Oktober 2026
Breaking News
Ekonomi & Bisnis

Penutupan IHSG 15 Oktober 2026 Anjlok 1,33% ke 5.863

Riskal Arief | | 3 mnt baca
Penutupan IHSG 15 Oktober 2026 Anjlok 1,33% ke 5.863
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

JAKARTA, BERITANOW.COM – Penutupan IHSG 15 Oktober 2026 berakhir melemah setelah tekanan jual meluas sepanjang sesi perdagangan Kamis. Indeks Harga Saham Gabungan turun 79,24 poin atau 1,33 persen ke level 5.863,78.

IHSG dibuka melemah 0,44 persen ke level 5.917,13. Tekanan kemudian meningkat hingga indeks menyentuh posisi terendah 5.804,21 sebelum sedikit pulih menjelang penutupan. 

Pada sesi pertama, IHSG sudah terkoreksi 2,16 persen ke level 5.814,72. Pelemahan tersebut berlanjut hingga sesi kedua, meski indeks sempat mencoba bangkit dari area terendah hariannya. 

Aktivitas Jual Masih Dominan
Nilai transaksi mencapai Rp10,25 triliun dengan volume 306,62 juta lot saham. Aktivitas tersebut menunjukkan investor tetap aktif bertransaksi, tetapi arah pasar lebih banyak didorong oleh aksi pelepasan. 

Pada sesi pertama, investor asing mencatat penjualan bersih Rp182,94 miliar. Saham Telkom Indonesia (TLKM), GoTo Gojek Tokopedia (GOTO), dan Adaro Energy Indonesia (ADRO) menjadi beberapa saham yang mengalami tekanan jual asing. 

Tekanan tersebut terjadi di tengah pelemahan bursa Asia dan meningkatnya kekhawatiran mengenai arah kebijakan moneter global. Investor cenderung mengurangi paparan pada aset berisiko, termasuk saham pasar berkembang. 

Saham DEWA, HRTA, dan WIFI tercatat menjadi kontributor utama penurunan IHSG. Pelemahan pada saham-saham tersebut memperlebar tekanan pada indeks sepanjang hari perdagangan. 

Inflasi AS dan Sentimen Global
Tekanan pada IHSG dipicu oleh data inflasi Amerika Serikat yang lebih tinggi dari perkiraan. Investor menilai kondisi tersebut meningkatkan kemungkinan Federal Reserve kembali menaikkan suku bunga. 

Ekspektasi kenaikan suku bunga membuat yield obligasi AS berpotensi menguat. Kondisi tersebut menekan valuasi saham pertumbuhan dan mendorong investor global untuk mengurangi paparan pada pasar berkembang. 

Bursa Asia juga bergerak melemah pada perdagangan Kamis. Kondisi tersebut memperkuat sentimen negatif dan membuat investor Indonesia semakin berhati-hati. 

Pelemahan rupiah menjadi faktor tambahan yang memperberat tekanan. Nilai tukar yang melemah dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi impor serta membatasi minat investor asing terhadap aset domestik. 

Sektor dan Saham yang Tertekan
Tekanan paling besar terlihat pada saham-saham yang sebelumnya menjadi penggerak penguatan. Saham energi, infrastruktur, dan teknologi mengalami koreksi karena investor mengurangi posisi pada aset berisiko. 

Saham DEWA, HRTA, dan WIFI menjadi top losers LQ45. Penurunan pada saham-saham tersebut menunjukkan tekanan jual tidak hanya terjadi pada saham kecil, tetapi juga menjangkau saham unggulan. 

Saham TLKM, GOTO, dan ADRO juga menghadapi tekanan dari aksi jual investor asing. Pelemahan pada saham berbobot besar tersebut memperkuat tekanan terhadap pergerakan IHSG. 

Kondisi ini menunjukkan pasar berada dalam mode defensif. Investor kemungkinan menunggu kejelasan mengenai arah inflasi global, kebijakan Federal Reserve, dan pergerakan rupiah sebelum kembali menambah posisi.

Proyeksi Jumat
IHSG diperkirakan masih bergerak dalam tekanan pada Jumat, 16 Oktober 2026. Level 5.900 kini berubah menjadi resistance setelah indeks gagal bertahan di atasnya. 

Area support terdekat berada di sekitar 5.804–5.814. Jika level tersebut berhasil dipertahankan, peluang rebound teknikal menuju 5.863–5.900 masih terbuka. 

Namun, pelemahan lanjutan dapat terjadi jika investor asing kembali melakukan penjualan bersih dan rupiah semakin tertekan. Investor perlu memantau pergerakan dolar AS, harga minyak, dan yield Treasury sebagai indikator utama. 

Saham perbankan, energi, dan teknologi kemungkinan tetap menjadi penentu arah IHSG. Pergerakan saham berbobot besar tersebut akan sangat memengaruhi pergerakan indeks secara keseluruhan.(*) 

Artikel ini bukan rekomendasi membeli atau menjual saham. Keputusan investasi perlu disesuaikan dengan profil risiko dan analisis masing-masing investor.

Komentar (0)