Kamis, 01 Oktober 2026
Breaking News
Ekonomi & Bisnis

Penutupan IHSG 1 Oktober 2026: Indeks Jebol Level 6.000

Riskal Arief | | 3 mnt baca
Penutupan IHSG 1 Oktober 2026: Indeks Jebol Level 6.000
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

JAKARTA, BERITANOW.COM – Penutupan IHSG 1 Oktober 2026 berakhir dengan tekanan cukup berat. Indeks Harga Saham Gabungan turun 61,64 poin atau 1,02 persen ke level 6.009,50 pada perdagangan Kamis.

IHSG sempat menyentuh titik terendah 5.973,16 pada pukul 14.51 WIB sebelum mengurangi sebagian pelemahan menjelang penutupan. Pergerakan tersebut membuat indeks kembali mendekati level psikologis 6.000.

Sebanyak 218 saham menguat, 470 saham melemah, dan 275 saham bergerak stagnan. Komposisi tersebut menunjukkan tekanan jual berlangsung cukup luas, bukan hanya menimpa beberapa saham penggerak indeks.

Rupiah dan Sentimen Domestik

Rupiah ikut melemah pada perdagangan Kamis. Berdasarkan data Refinitiv, mata uang Garuda turun 0,39 persen ke level Rp17.940 per dolar AS, berbalik dari penguatan pada perdagangan sebelumnya.

Pelemahan rupiah menambah kehati-hatian investor terhadap aset domestik. Emiten dengan utang dolar atau kebutuhan impor besar berpotensi menghadapi kenaikan biaya, sementara perusahaan eksportir memperoleh manfaat yang berbeda-beda sesuai komposisi pendapatan dan biaya.

Pasar juga mencermati inflasi September yang mencapai 0,30 persen secara bulanan dan 3,28 persen secara tahunan. Data tersebut menjadi bagian dari pertimbangan investor ketika menilai ruang kebijakan moneter dan daya beli masyarakat.

Perhatian lain datang dari perombakan kabinet. Ketidakpastian mengenai arah kebijakan ekonomi dan fiskal dapat membuat investor menahan transaksi agresif, terutama ketika pasar global sedang menghadapi tekanan yield dan harga komoditas.

Saham Big Caps Menekan

Saham berkapitalisasi besar menjadi salah satu sumber tekanan utama pada perdagangan Kamis. AMMN, TPIA, dan sejumlah saham yang terafiliasi dengan kelompok usaha besar mengalami penurunan dan ikut membebani indeks.

Saham perbankan besar juga berada dalam radar investor karena memiliki bobot signifikan terhadap IHSG. Jika tekanan berlanjut pada BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI, indeks akan lebih sulit melakukan pemulihan.

Pelemahan tidak hanya terjadi pada sektor keuangan. Data sesi pertama menunjukkan sektor teknologi turun 1,9 persen, utilitas melemah 1,7 persen, dan barang konsumen primer turun 1,6 persen.

Saham yang bergerak melawan arus tetap ada. Sejumlah saham seperti MGNA dan CSMI mencatat kenaikan besar, tetapi penguatan saham-saham tersebut belum mampu mengimbangi tekanan pada emiten berkapitalisasi besar.

Prediksi IHSG Jumat

Untuk perdagangan Jumat (2/10/2026), IHSG berpeluang bergerak volatil dengan kecenderungan defensif. Area 6.000 menjadi support psikologis utama, sedangkan penutupan di bawah level tersebut dapat membuka ruang pengujian menuju 5.900–5.950.

Jika indeks mampu bertahan di sekitar 6.000 dan tekanan rupiah mereda, technical rebound menuju 6.050–6.100 masih mungkin terjadi. Namun, pemulihan akan membutuhkan dukungan dari saham perbankan, arus dana asing, serta stabilnya nilai tukar.

Tekanan dapat berlanjut apabila investor kembali menjual saham big caps, rupiah melemah lebih jauh, atau ketidakpastian akibat perombakan kabinet meningkat. Pasar juga akan mencermati respons investor terhadap data inflasi dan perkembangan kebijakan ekonomi pemerintah.

Pembukaan Jumat akan menjadi indikator penting apakah pelemahan Kamis merupakan koreksi lanjutan atau mulai menemukan titik stabilisasi. Investor perlu memperhatikan volume transaksi, posisi rupiah, saham penggerak indeks, serta arah bursa global sebelum menilai peluang rebound.(*)

Artikel ini bukan rekomendasi membeli atau menjual saham. Keputusan investasi perlu disesuaikan dengan profil risiko dan analisis masing-masing investor.

Komentar (0)