Pemimpin Norwegia dan Finlandia Hubungi Putin, Eropa Mulai Buka Dialog?
Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI
HELSINKI, BeritaNow.com — Hubungan Eropa dan Rusia menunjukkan perkembangan diplomatik baru setelah Presiden Finlandia Alexander Stubb dan Perdana Menteri Norwegia Jonas Gahr Støre melakukan percakapan telepon bersama Presiden Rusia Vladimir Putin, Selasa (27/10/2026). Komunikasi yang jarang terjadi sejak invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022 itu bertujuan mendorong perundingan damai sekaligus membahas keamanan kawasan Eropa Utara. Namun, pembukaan kembali jalur komunikasi tersebut belum menunjukkan adanya perubahan posisi mendasar dari Moskow.
Percakapan berlangsung atas inisiatif kedua pemimpin Nordik dari Helsinki, Finlandia. Menurut pernyataan resmi pemerintah Finlandia dan Norwegia, komunikasi dilakukan melalui konsultasi dengan Ukraina dan berkaitan dengan rencana perundingan berikutnya di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Stubb dan Støre menegaskan bahwa mereka berbicara sebagai pemimpin negara masing-masing, bukan sebagai wakil seluruh Eropa.
Dalam pembicaraan itu, kedua pemimpin menyerukan penghentian perang dan kelanjutan perundingan diplomatik. Mereka juga menegaskan dukungan terhadap Ukraina tidak akan dihentikan meskipun komunikasi dengan Kremlin kembali dilakukan. Sikap tersebut memperlihatkan upaya membuka ruang diplomasi tanpa secara resmi mengubah kebijakan dukungan terhadap Kyiv.
Mengapa Negara Tetangga Rusia Memulai Dialog?
Sejak Rusia melancarkan invasi besar-besaran ke Ukraina pada Februari 2022, hubungan Moskow dengan sebagian besar negara Eropa memburuk. Uni Eropa dan sejumlah negara Barat menjatuhkan sanksi ekonomi, sementara negara-negara anggota NATO meningkatkan dukungan militer dan keuangan bagi Ukraina. Kontak langsung dengan Putin kemudian menjadi semakin jarang, meskipun sejumlah saluran diplomatik tetap berlangsung.
Finlandia dan Norwegia memiliki kepentingan keamanan yang langsung berkaitan dengan Rusia karena keduanya berbagi perbatasan darat dengan negara tersebut. Finlandia bergabung dengan NATO pada 2023 setelah meninggalkan kebijakan lama untuk tidak menjadi anggota aliansi militer. Sementara itu, Norwegia telah menjadi anggota NATO sejak organisasi tersebut didirikan pada 1949.
Kedua negara juga berkepentingan menjaga stabilitas kawasan Laut Baltik dan wilayah utara Eropa, termasuk kawasan Arktik. Ketegangan antara Rusia dan NATO dapat memengaruhi keamanan perbatasan serta perencanaan pertahanan kawasan tersebut. Karena itu, Stubb dan Støre menilai komunikasi langsung memiliki arti penting sekalipun hubungan politik masih diliputi ketidakpercayaan.
Perundingan Abu Dhabi Jadi Pembahasan
Kontak dengan Putin merupakan kelanjutan dari pertemuan di Oslo pada 20 Oktober 2026. Pertemuan tersebut melibatkan Stubb, Støre, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, dan utusan khusus Amerika Serikat Steve Witkoff. Pembahasannya berfokus pada upaya diplomatik mengakhiri perang serta mempersiapkan perundingan lanjutan.
Perwakilan Ukraina, Rusia, dan Amerika Serikat direncanakan melakukan pembicaraan tingkat teknis di Abu Dhabi pada awal November. Pertemuan itu diharapkan membuka kembali proses negosiasi yang sebelumnya mengalami kebuntuan. Namun, jadwal perundingan dan kesediaan para pihak menghadiri forum tersebut belum menjamin tercapainya kesepakatan damai.
Setelah berbicara dengan Putin, kedua pemimpin Nordik juga menghubungi Zelenskyy untuk menyampaikan hasil komunikasi. Presiden Ukraina menyambut penjelasan tersebut dan menekankan perlunya langkah nyata mengurangi eskalasi, terutama serangan terhadap fasilitas energi dan infrastruktur. Sikap Kyiv menunjukkan bahwa keberhasilan diplomasi akan dinilai dari perubahan situasi di lapangan, bukan semata-mata terselenggaranya percakapan.
Rusia Belum Mengubah Tuntutan
Menurut keterangan Kremlin yang diberitakan Reuters, Putin menyatakan perdamaian jangka panjang hanya dapat dicapai apabila kepentingan Rusia diperhitungkan sepenuhnya. Moskow juga kembali menyalahkan kebijakan Uni Eropa dan NATO yang dianggap memperpanjang konflik. Pernyataan itu memperlihatkan bahwa perbedaan mendasar mengenai penyelesaian perang masih berlangsung.
Sumber yang dikutip Reuters menyebut Putin tetap mempertahankan tuntutan agar Rusia menguasai seluruh wilayah Donbas. Informasi tersebut berasal dari sumber yang mengetahui posisi Kremlin, bukan kesepakatan resmi yang dihasilkan melalui percakapan telepon. Karena itu, pembicaraan tersebut belum dapat disebut sebagai terobosan substantif mengenai wilayah atau pengaturan keamanan Ukraina.
Meski belum mencapai kesepakatan, Kremlin menyampaikan bahwa komunikasi langsung dapat dilanjutkan. Kemungkinan tersebut membuka saluran baru untuk bertukar pandangan mengenai keamanan kawasan dan penyelesaian konflik. Namun, keberlanjutan kontak tidak otomatis menunjukkan normalisasi hubungan diplomatik ataupun pencabutan sanksi terhadap Rusia.
Perbedaan Respon Eropa
Inisiatif Finlandia dan Norwegia tidak memperoleh tanggapan seragam dari negara-negara Eropa. Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen mengkritik langkah tersebut karena menilai pendekatan terhadap Rusia seharusnya dikoordinasikan secara lebih luas. Ia juga mempertanyakan manfaat komunikasi langsung apabila belum terdapat tanda kesediaan Moskow mengubah kebijakannya.
Perbedaan pandangan itu memperlihatkan dilema diplomasi Eropa. Sebagian pihak memandang hubungan langsung dengan Rusia diperlukan agar kepentingan keamanan Eropa tidak hanya dibahas melalui perantara Amerika Serikat. Pihak lainnya mengkhawatirkan komunikasi yang tidak terkoordinasi dapat melemahkan kesatuan sikap Eropa dalam menghadapi Rusia.
Komisi Eropa dan Dewan Eropa juga dilaporkan tengah mempertimbangkan koordinasi perwakilan dalam proses perundingan. Tujuannya agar kepentingan negara-negara Eropa turut diperhitungkan dalam pembahasan keamanan kawasan. Namun, hingga kini belum terdapat mandat resmi yang menjadikan Stubb dan Støre sebagai perunding atas nama Uni Eropa.
Percakapan Helsinki menandai terbukanya satu jalur komunikasi dalam hubungan Eropa–Rusia yang selama beberapa tahun didominasi ketegangan. Keberhasilannya belum dapat diukur dari adanya kontak langsung dengan Putin, tetapi dari kemungkinan langkah konkret menuju pengurangan kekerasan dan perundingan yang dapat diterima para pihak. Bagi Eropa, tantangannya adalah menjaga dukungan terhadap Ukraina sekaligus mencari penyelesaian perang yang memberikan kepastian keamanan jangka panjang.(*)