Senin, 05 Oktober 2026
Breaking News
Ekonomi & Bisnis

Pembukaan IHSG 5 Oktober 2026 Menguat, Rupiah Tertekan

Riskal Arief | | 3 mnt baca
Pembukaan IHSG 5 Oktober 2026 Menguat, Rupiah Tertekan
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

JAKARTA, BERITANOW.COM – Pembukaan IHSG 5 Oktober 2026 berlangsung positif setelah indeks mengawali perdagangan pekan ini di zona hijau. IHSG naik 18,27 poin atau 0,30 persen ke level 6.055,16, melanjutkan penguatan 0,46 persen pada akhir pekan sebelumnya.

Pada menit awal perdagangan, indeks sempat naik ke 6.085,45 sebelum bergerak lebih rendah. Rentang tersebut menunjukkan aksi beli sudah muncul, tetapi investor belum sepenuhnya agresif menambah posisi.

Penguatan IHSG berlangsung ketika rupiah justru melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Perbedaan arah antara pasar saham dan nilai tukar membuat pelaku pasar tetap berhati-hati membaca penguatan indeks.

Rupiah Melemah di Awal Pekan
Rupiah dibuka pada kisaran Rp17.916–Rp17.918 per dolar AS. Posisi tersebut melemah sekitar 34–36 poin atau 0,19–0,20 persen dibandingkan penutupan Jumat di sekitar Rp17.882.

Pelemahan rupiah dapat menambah beban bagi perusahaan dengan kewajiban dolar dan kebutuhan impor bahan baku. Namun, emiten eksportir masih berpotensi memperoleh manfaat dari penerimaan valuta asing yang lebih tinggi ketika dikonversi ke rupiah.

Analis menilai rupiah masih memiliki peluang menguat, tetapi risikonya tetap besar karena dipengaruhi sentimen global, arah dolar AS, harga minyak, dan arus dana asing. Pergerakan rupiah akan menjadi salah satu penentu apakah penguatan IHSG dapat bertahan hingga penutupan.

LQ45 dan Saham yang Dipantau
Penguatan juga terlihat pada indeks LQ45. Indeks yang berisi saham-saham unggulan tersebut naik 1,90 poin atau 0,32 persen ke level 597,36.

Saham ADRO, PTBA, dan ASII menjadi beberapa emiten yang dipantau pada perdagangan Senin. Pergerakan saham komoditas dapat dipengaruhi harga energi, sementara ASII memiliki bobot besar dan kerap menjadi indikator minat investor terhadap saham blue chips.

Saham BSWD, MGNA, SAFE, CCSI, dan BRNA juga masuk jajaran penguat awal perdagangan. Namun, penguatan saham-saham tersebut perlu dilihat bersama volume transaksi karena kenaikan pada menit awal belum cukup untuk menunjukkan tren harian.

Investor tetap perlu mencermati saham perbankan besar seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI. Jika saham-saham tersebut ikut menguat, peluang IHSG mempertahankan posisi di atas 6.000 akan lebih besar.

IHSG Masih dalam Fase Konsolidasi
Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG masih bergerak dalam fase konsolidasi di sekitar level 6.000. Indeks diproyeksikan bergerak sideways dengan kecenderungan menguat dalam kisaran 6.000–6.200.

Area 6.000 menjadi support psikologis yang penting. Selama IHSG mampu bertahan di atas level tersebut, peluang rebound menuju 6.095 dan 6.150 masih terbuka.

Namun, penguatan awal dapat berubah apabila rupiah terus melemah, investor asing kembali melakukan penjualan, atau sentimen global memburuk. Pasar juga tetap mencermati harga minyak dan data ekonomi yang dapat memengaruhi ekspektasi suku bunga.

Investor sebaiknya menunggu perkembangan hingga sesi pertama sebelum menarik kesimpulan mengenai arah IHSG. Pembukaan yang positif memberi sinyal perbaikan, tetapi belum membuktikan bahwa tekanan pasar telah berakhir.(*)

Artikel ini bukan rekomendasi membeli atau menjual saham. Keputusan investasi perlu disesuaikan dengan profil risiko dan analisis masing-masing investor.

Komentar (0)