Pembukaan IHSG 29 September 2026: Dollar Mendekati Rp18.000
Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI
JAKARTA, BERITANOW.COM – Pembukaan IHSG 29 September 2026 berlangsung dalam tekanan. Indeks Harga Saham Gabungan turun pada menit awal perdagangan, sementara rupiah kembali melemah dan bergerak mendekati batas psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat.
IHSG dibuka turun 29,05 poin atau 0,47 persen ke level 6.118,81. Pada fase awal sesi pertama, indeks bergerak dalam kisaran 6.116,25–6.118,81 setelah sehari sebelumnya ditutup di 6.147,85.
Tekanan kemudian bertambah. Sekitar pukul 09.22 WIB, IHSG tercatat turun 1,89 persen ke level 6.031,52. Indeks sempat menyentuh level tertinggi 6.126,62 pada awal perdagangan, tetapi tidak mampu mempertahankan posisi tersebut.
Rupiah Berada di Zona Kritis
Rupiah dibuka melemah sekitar 0,03 persen ke level Rp17.970 per dolar AS berdasarkan data Refinitiv. Sumber lain mencatat rupiah berada di kisaran Rp17.997 hingga Rp18.001 per dolar AS pada awal perdagangan.
Perbedaan angka antarplatform dapat terjadi karena perbedaan waktu pencatatan dan sumber harga. Namun, arahnya sama, yakni rupiah kembali melemah dan semakin dekat dengan level psikologis Rp18.000.
Indeks dolar AS juga bergerak menguat tipis di sekitar level 101,2. Kombinasi dolar yang kuat dan tekanan pasar negara berkembang membuat rupiah masih menghadapi risiko volatilitas tinggi.
Pelemahan rupiah dapat meningkatkan beban perusahaan dengan utang dolar, kewajiban impor, atau biaya bahan baku dari luar negeri. Emiten eksportir dapat memperoleh dukungan dari pendapatan valuta asing, tetapi dampaknya tetap bergantung pada komposisi biaya dan kinerja operasional.
Saham Blue Chips Ikut Terseret
Sejumlah saham berkapitalisasi besar ikut melemah pada pembukaan. BBCA turun sekitar 0,80 persen ke level Rp6.175 per saham, sementara saham PACK dan BUMI juga berada di zona merah.
Tekanan pada saham blue chips memiliki pengaruh besar terhadap IHSG karena bobot kapitalisasinya. Jika pelemahan meluas ke saham perbankan besar seperti BBRI, BMRI, BBCA, dan BBNI, indeks akan semakin sulit memulihkan posisi pada sesi pertama.
Namun, tidak semua saham bank bergerak negatif. BBRI tercatat menguat 0,64 persen ke level Rp3.160 pada awal perdagangan. Perbedaan arah tersebut menunjukkan adanya rotasi dana dan aksi beli selektif di tengah tekanan pasar secara umum.
Kebijakan Saham Rp1 Masih Jadi Perhatian
Pasar juga masih beradaptasi dengan kebijakan BEI yang menurunkan harga minimum saham menjadi Rp1. Aturan tersebut mulai berlaku pada Senin, 28 September 2026.
Pada hari kedua penerapan, saham-saham berharga rendah tetap menjadi perhatian karena perubahan nominal kecil dapat menghasilkan perubahan persentase besar. Investor perlu berhati-hati membedakan pergerakan teknikal akibat mekanisme harga dengan perubahan yang didukung fundamental emiten.
Tekanan IHSG hari ini tidak dapat hanya dikaitkan dengan kebijakan saham Rp1. Faktor eksternal, rupiah, harga minyak, yield obligasi global, dan aksi jual investor asing juga memengaruhi arah indeks.
Pasar Masih Menunggu Kepastian
Pembukaan perdagangan Selasa menunjukkan investor belum bersedia mengambil risiko besar. IHSG berada di bawah tekanan meski pasar masih memiliki peluang rebound apabila rupiah stabil dan saham perbankan mulai menguat.
Level 6.000 menjadi area psikologis penting untuk dipantau. Jika IHSG bertahan di atasnya, pemulihan teknikal masih mungkin terjadi, tetapi penembusan ke bawah dapat memperbesar risiko pelemahan lanjutan.
Investor perlu memantau pergerakan rupiah, saham blue chips, transaksi asing, dan respons pasar terhadap perkembangan global hingga penutupan sesi pertama.(*)
Artikel ini bukan rekomendasi membeli atau menjual saham. Keputusan investasi perlu disesuaikan dengan profil risiko dan analisis masing-masing investor.