Rabu, 28 Oktober 2026
Breaking News
Ekonomi & Bisnis

Pembukaan IHSG 28 Oktober 2026: Pasar Waspada Tekanan Rupiah dan SBN

Riskal Arief | | 3 mnt baca
Pembukaan IHSG 28 Oktober 2026: Pasar Waspada Tekanan Rupiah dan SBN
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

JAKARTA, BERITANOW.COM – Pembukaan IHSG 28 Oktober 2026 diperkirakan masih bergerak dalam tekanan setelah indeks ditutup melemah pada perdagangan Selasa. Investor memantau pelemahan rupiah, kenaikan yield Surat Berharga Negara, dan arus keluar modal asing.

IHSG ditutup turun 106,96 poin atau 1,99 persen ke level 5.266,13 pada Selasa. Indeks sempat menguat ke 5.418,14 pada sesi pagi, tetapi tekanan jual meningkat tajam menjelang penutupan. 

Pasar kini berada dalam mode defensif. Investor cenderung menunggu kejelasan mengenai arah kebijakan moneter global dan langkah regulator dalam menjaga stabilitas pasar sebelum menambah posisi. 

Rupiah dan Yield SBN Jadi Tekanan
Rupiah bertahan di kisaran Rp18.125 per dolar AS pada perdagangan Selasa. Pelemahan nilai tukar menambah tekanan pada saham dengan kewajiban dolar serta perusahaan yang bergantung pada bahan baku impor. 

Yield SBN tenor 10 tahun sempat menembus level 7,5 persen. Kenaikan yield tersebut menunjukkan biaya pembiayaan pemerintah semakin tinggi dan dapat menarik investor dari saham menuju instrumen pendapatan tetap. 

Kombinasi rupiah yang melemah dan yield SBN yang naik membuat aset berisiko seperti saham menjadi kurang menarik. Kondisi tersebut berpotensi memperbesar tekanan pada IHSG, khususnya saham pertumbuhan dan saham berkapitalisasi besar. 

Investor perlu memantau langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Kebijakan intervensi, pengelolaan likuiditas, dan komunikasi regulator dapat memengaruhi arah sentimen pasar. 

Arus Dana Asing Masih Menekan
Investor asing mencatat penjualan bersih Rp2,03 triliun pada perdagangan Selasa. Aksi jual tersebut memperbesar tekanan terhadap saham berkapitalisasi besar dan memperburuk pelemahan IHSG. 

Secara kumulatif sepanjang 2026, penjualan bersih investor asing telah mencapai Rp122,20 triliun. Angka tersebut menunjukkan tekanan arus keluar modal asing masih menjadi risiko utama bagi pasar saham Indonesia. 

Tekanan arus keluar dana asing membuat saham big cap menjadi sasaran pelepasan. Kondisi tersebut memperlebar tekanan terhadap IHSG karena saham berbobot besar memiliki pengaruh dominan dalam perhitungan indeks. 

Pasar juga menunggu hasil RUPSLB BEI yang digelar pada Rabu. Agenda tersebut membahas demutualisasi dan masuknya Danantara, sehingga dapat memengaruhi sentimen investor terhadap tata kelola bursa. 

Peluang Teknikal IHSG
Kontan Sekuritas memperkirakan IHSG berpotensi menguji area support 5.182–5.118 setelah gagal bertahan di atas level 5.400. Area tersebut menjadi batas penting untuk melihat apakah pelemahan berlanjut. 

Sementara itu, MNC Sekuritas memperkirakan IHSG berpeluang menguat menuju 5.456–5.564. Dalam skenario tersebut, resistance terdekat berada di 5.460 dan 5.563. 

Secara teknikal, IHSG masih berada di bawah moving average 20 hari. Kondisi tersebut menunjukkan tren jangka pendek masih cenderung tertekan. 

Indikator MACD juga masih berada di area negatif, sementara Stochastic RSI bergerak mendekati area jenuh jual. Kondisi tersebut membuka peluang rebound teknikal, tetapi keberlanjutannya masih perlu dikonfirmasi oleh volume dan arus dana. 

Indikator yang Harus Diperhatikan
Investor perlu memantau pergerakan rupiah, yield SBN, dan arus dana asing sebagai indikator utama. Ketiga faktor tersebut akan menentukan apakah IHSG mampu bertahan atau terus tertekan. 

Keputusan suku bunga The Fed juga menjadi sorotan utama. Hasil keputusan tersebut dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter global. 

Saham perbankan, energi, telekomunikasi, dan komoditas kemungkinan tetap menjadi penentu arah IHSG. Pergerakan saham berbobot besar tersebut akan sangat memengaruhi pergerakan indeks secara keseluruhan.(*)

Artikel ini bukan rekomendasi membeli atau menjual saham. Keputusan investasi perlu disesuaikan dengan profil risiko dan analisis masing-masing investor.

Komentar (0)