Jumat, 25 September 2026
Breaking News
Ekonomi & Bisnis

Pembukaan IHSG 25 September 2026 Menguat, Rupiah Masih Tertekan

Riskal Arief | | 3 mnt baca
Pembukaan IHSG 25 September 2026 Menguat, Rupiah Masih Tertekan
Bagikan:

Gabung Di Kanal Whatsapp KLIK DISINI

JAKARTA, BERITANOW.COM – Pembukaan IHSG 25 September 2026 menunjukkan indeks bergerak menguat, meski pasar tetap dibayangi pelemahan rupiah dan tingginya imbal hasil obligasi Amerika Serikat.

IHSG dibuka naik 16,92 poin atau 0,27 persen ke level 6.315,53 pada perdagangan Jumat. Penguatan awal ini terjadi setelah indeks terkoreksi 1,20 persen dan berakhir di posisi 6.298,61 pada perdagangan Kamis.

Penguatan pembukaan belum serta-merta menandakan tekanan pasar telah berakhir. Investor masih menilai ketahanan indeks setelah tekanan dua hari terakhir, sekaligus memperhatikan arus dana asing, kurs rupiah, serta pergerakan pasar regional.

Rupiah Kembali Melemah

Di pasar valuta asing, rupiah memasuki perdagangan terakhir pekan ini dengan tekanan yang masih kuat. Rupiah dibuka di kisaran Rp17.935 per dolar AS, melemah dibanding penutupan perdagangan sebelumnya.

Kenaikan dolar AS dan tingginya yield obligasi pemerintah AS masih menjadi faktor utama yang mendorong investor memilih aset dolar. Kondisi tersebut membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, menghadapi tekanan.

Rupiah yang melemah dapat meningkatkan kehati-hatian investor terhadap saham perusahaan dengan utang dalam dolar AS atau kebutuhan impor bahan baku yang besar. Sebaliknya, beberapa eksportir dapat memperoleh dukungan dari pendapatan dolar yang nilainya lebih tinggi saat dikonversi ke rupiah.

Bursa Asia Bergerak Beragam

Perdagangan di Asia pada pagi hari berlangsung tanpa arah yang seragam. Nikkei 225 Jepang menguat sekitar 0,54 persen, sementara Hang Seng Hong Kong dibuka melemah 0,96 persen. Perbedaan arah ini mencerminkan sikap investor yang masih mengukur dampak aksi jual obligasi global dan prospek suku bunga.

Kondisi pasar global memengaruhi minat risiko investor domestik. Yield obligasi AS yang tinggi dapat menarik dana ke instrumen dolar, sehingga ruang aliran dana masuk ke pasar negara berkembang menjadi lebih terbatas.

Di dalam negeri, pasar juga mencermati perkembangan kebijakan Bank Indonesia setelah bank sentral mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen. Pelaku pasar akan melihat efektivitas kebijakan tersebut dalam menahan tekanan rupiah dan menjaga likuiditas di pasar keuangan.

Bisnis Hadapi Biaya dan Ketidakpastian

Pelemahan rupiah dan kenaikan yield global dapat berdampak pada dunia usaha melalui biaya pembiayaan serta harga bahan baku impor. Perusahaan yang membutuhkan pendanaan dolar atau memiliki kewajiban valuta asing perlu menghadapi potensi kenaikan biaya jika rupiah terus melemah. Sektor manufaktur, transportasi, ritel, serta perusahaan dengan kebutuhan impor tinggi menjadi kelompok yang perlu diperhatikan.

Namun, bagi eksportir di sektor komoditas, perkebunan, dan sebagian manufaktur, pelemahan rupiah dapat meningkatkan nilai penerimaan ketika pendapatan dolar dikonversi ke mata uang domestik. Dampaknya tetap bergantung pada komposisi biaya, kontrak penjualan, dan harga komoditas global.

Pasar saham memasuki perdagangan Jumat dengan kondisi yang masih selektif. Penguatan IHSG pada pembukaan menunjukkan adanya minat beli setelah koreksi, tetapi arah berikutnya akan ditentukan oleh stabilitas rupiah, transaksi investor asing, dan kinerja saham-saham berkapitalisasi besar.(*)

Artikel ini bukan rekomendasi membeli atau menjual saham. Keputusan investasi perlu disesuaikan dengan profil risiko dan analisis masing-masing investor.

Komentar (0)