Pembukaan IHSG 2 Oktober 2026 Menguat Tipis, Rupiah Pulih
Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI
JAKARTA, BERITANOW.COM – Pembukaan IHSG 2 Oktober 2026 berlangsung di zona hijau, tetapi pergerakan indeks masih dibayangi volatilitas. IHSG naik 8,58 poin atau 0,14 persen ke level 6.018,08 setelah sehari sebelumnya ditutup di posisi 6.009,50.
Pada menit-menit awal, IHSG sempat bergerak menuju 6.035,36. Namun, indeks kemudian berbalik arah dan turun ke sekitar 5.991,53 pada pukul 09.10 WIB, menunjukkan tekanan jual belum sepenuhnya hilang.
Perubahan cepat tersebut memperlihatkan investor masih berhati-hati menjelang akhir pekan. Pelaku pasar menimbang peluang rebound setelah penurunan tajam Kamis, tetapi tetap memperhitungkan risiko rupiah, sentimen global, dan kondisi politik domestik.
Rupiah Berbalik Menguat
Rupiah membuka perdagangan Jumat dengan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat. Berdasarkan data Refinitiv, rupiah berada di Rp17.925 per dolar AS, naik 0,08 persen dari penutupan sebelumnya di Rp17.940.
Data Bloomberg mencatat penguatan rupiah di sekitar Rp17.955 per dolar AS pada pukul 09.05 WIB. Perbedaan tersebut dapat terjadi karena perbedaan sumber serta waktu pencatatan, tetapi keduanya menunjukkan rupiah berbalik menguat dari posisi Kamis.
Indeks dolar AS berada di sekitar 102,107. Penguatan rupiah dapat membantu mengurangi tekanan pada emiten yang memiliki kewajiban dolar, meskipun keberlanjutan penguatan tetap bergantung pada arus modal, yield obligasi AS, dan kebijakan bank sentral global.
Pasar tetap perlu mewaspadai proyeksi rupiah yang masih fluktuatif. Sejumlah analis memperkirakan mata uang Garuda dapat kembali melemah dalam rentang Rp17.960–Rp18.030 per dolar AS jika tekanan eksternal berlanjut.
Sektor dan Saham yang Menarik
Sektor energi menjadi salah satu kelompok yang menguat pada awal perdagangan, dengan kenaikan sekitar 0,31 persen. Penguatan tersebut memberi dukungan bagi saham berbasis komoditas ketika investor mencari sektor yang memiliki perlindungan terhadap tekanan inflasi dan pelemahan rupiah.
Di antara saham yang patut dipantau, BSWD, MGNA, SAFE, CCSI, dan BRNA masuk jajaran penguat awal perdagangan. Kenaikan saham-saham tersebut perlu dilihat bersama volume transaksi agar investor dapat membedakan penguatan yang didukung likuiditas dari pergerakan sesaat.
Saham ASII, TLKM, dan UNTR juga menjadi perhatian karena memiliki kapitalisasi besar dan dapat memengaruhi arah IHSG. Pergerakan saham-saham tersebut penting untuk mengukur apakah aksi beli mulai menyebar ke emiten unggulan atau hanya terkonsentrasi pada saham tertentu.
Sektor teknologi justru menjadi kelompok yang paling lemah dan terkoreksi sekitar 3,93 persen pada awal sesi. Tekanan pada sektor ini menunjukkan bahwa investor masih selektif terhadap saham pertumbuhan dan emiten yang sensitif terhadap perubahan suku bunga.
IHSG Masih Menguji Level 6.000
Level 6.000 menjadi batas psikologis penting pada perdagangan Jumat. Jika IHSG mampu bertahan di atas area tersebut, indeks berpeluang mengalami pemulihan terbatas menuju 6.050–6.100.
Sebaliknya, penurunan di bawah 6.000 dapat memperbesar risiko koreksi lanjutan. Investor akan mencermati arus dana asing, saham perbankan, rupiah, serta volume transaksi hingga penutupan sesi pertama.
Pembukaan yang menguat belum cukup untuk menyimpulkan bahwa IHSG telah berbalik tren. Pasar masih memerlukan dukungan dari rupiah yang stabil, penguatan saham blue chips, dan berkurangnya tekanan jual asing.(*)
Artikel ini bukan rekomendasi membeli atau menjual saham. Keputusan investasi perlu disesuaikan dengan profil risiko dan analisis masing-masing investor.