Kamis, 05 November 2026
Breaking News
Olahraga

Pecah Rekor 53 Kartu Merah di Brasil, Wasit Kewalahan!

Riskal Arief | | 3 mnt baca
Pecah Rekor 53 Kartu Merah di Brasil, Wasit Kewalahan!
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

BRASIL, BeritaNow.com — Sepak bola biasanya menghadirkan drama lewat gol, penalti, atau penyelamatan gemilang penjaga gawang. Namun, pertandingan dua tim junior di Brasil justru menciptakan sensasi yang mungkin tidak pernah dibayangkan para pelatihnya. Sebanyak 53 orang tercatat diusir dalam satu pertandingan, menjadikan kartu merah jauh lebih banyak daripada pemain yang seharusnya berada di lapangan.

Peristiwa 53 kartu merah itu terjadi dalam pertandingan semifinal Divisi Dua Campeonato Mineiro U-20 antara Uberlândia dan Mamoré, di Stadion Parque do Sabiá, negara bagian Minas Gerais. Mamoré menang 3-1, tetapi hasil pertandingan tenggelam oleh keributan yang melibatkan pemain, staf pelatih, dan pengurus klub. Catatan pengusiran tersebut melampaui rekor 36 orang dalam pertandingan sepak bola Argentina pada 2011.

Gol Ketiga Berubah Menjadi Keributan Massal
Ketegangan sebenarnya sudah muncul sebelum pertandingan memasuki menit-menit akhir. Menurut laporan wasit Fernando Patrick Drosghic Modesto, pertandingan sempat dihentikan selama 40 menit setelah sejumlah pengurus Uberlândia memasuki lapangan menyusul pengusiran seorang pemain. Pertandingan kemudian dilanjutkan, tetapi suasana ternyata belum benar-benar terkendali.

Ketika Mamoré mencetak gol ketiga pada menit kesembilan tambahan waktu, situasi kembali memanas. Media Brasil melaporkan seorang pemain Mamoré bernama Davi melakukan selebrasi provokatif ke arah bangku cadangan Uberlândia. Tindakan tersebut diikuti perkelahian yang melibatkan banyak orang dari kedua kubu.

Wasit mencatat tindakan kekerasan, termasuk pukulan dan tendangan, dalam laporan pertandingan. Keributan begitu besar sehingga ia tidak dapat memperlihatkan seluruh kartu merah secara langsung ataupun menyelesaikan prosedur penutupan pertandingan secara normal. Dalam kondisi keamanan yang tidak terkendali, wasit akhirnya mengakhiri pertandingan.

Bukan Hanya Pemain, Pengurus Klub Ikut Diusir
Dari total 53 orang yang mendapat hukuman pengusiran, sebanyak 43 merupakan pemain. Delapan lainnya berasal dari jajaran staf pelatih dan pendukung teknis, sedangkan dua merupakan pengurus klub. Rinciannya menunjukkan bahwa keributan tidak terbatas pada para pemain muda yang sedang bertanding.

Sebagian pengusiran terjadi sebelum perkelahian besar, sementara mayoritas lainnya dicatat setelah keributan pecah. Laporan media Brasil menyebut 50 orang diusir terkait kerusuhan pada akhir pertandingan dan tiga orang lainnya telah mendapat hukuman lebih awal. Dengan demikian, angka tersebut merupakan keseluruhan catatan pengusiran, bukan 53 kartu yang semuanya diperlihatkan secara fisik dalam satu momen.

Persoalan tidak berhenti ketika para pemain meninggalkan lapangan. Wasit melaporkan adanya ancaman terhadap dirinya dan membuat laporan kepada kepolisian. Ia juga mencatat dugaan perusakan ruang ganti oleh pihak Mamoré, sehingga insiden tersebut berpotensi memiliki konsekuensi di luar hukuman olahraga.

Rekor Dunia yang Tak Pantas Dirayakan
Sebelum insiden Brasil, Guinness World Records mencatat 36 pengusiran dalam pertandingan Atlético Claypole melawan Victoriano Arenas di Argentina pada 27 Februari 2011. Kedua tim ketika itu kehilangan seluruh pemain yang tercatat akibat pertikaian massal. Jumlah pengusiran dalam pertandingan Uberlândia versus Mamoré kini melampaui angka tersebut, meskipun pengesahan rekor baru oleh Guinness masih perlu dipastikan.

Dampaknya bahkan menjalar ke jadwal kompetisi berikutnya. Uberlândia memutuskan tidak melanjutkan pertandingan semifinal kedua dengan alasan menjunjung fair play, karena Mamoré disebut hanya memiliki tujuh pemain yang memenuhi syarat untuk tampil. Federasi Sepak Bola Minas Gerais menerima pengunduran diri tersebut, sehingga Mamoré melaju ke final.

Bagi para pemain muda, kejadian ini menjadi pengingat tentang pentingnya pengendalian emosi dalam olahraga. Sepak bola usia muda seharusnya menjadi tempat membangun kemampuan, disiplin, dan sportivitas. Sayangnya, pertandingan yang mestinya menjadi kesempatan menunjukkan bakat justru lebih banyak diberitakan karena tindakan kekerasan.

Pertandingan Uberlândia dan Mamoré kini menarik perhatian media internasional bukan karena kualitas permainannya, melainkan jumlah pengusiran yang luar biasa. Bagi kedua klub, pekerjaan berikutnya adalah memastikan pembinaan pemain tidak berhenti pada kemampuan menendang bola. Sebab, mencetak rekor dunia memang membanggakan, tetapi tidak ketika yang bertambah justru kartu merah dan catatan pelanggaran.(*)

Komentar (0)