Jumat, 25 September 2026
Breaking News
Internasional

Paus Leo XIV Kunjungi Prancis, Gelar Misa Akbar di Champs-Élysées

Riskal Arief | | 4 mnt baca
Paus Leo XIV Kunjungi Prancis, Gelar Misa Akbar di Champs-Élysées
Bagikan:

Gabung Di Kanal Whatsapp KLIK DISINI

PARIS, BERITANOW.COM — Paus Leo XIV memulai kunjungan apostolik empat hari ke Prancis pada Jumat (25/9/2026). Puncak kunjungan ini adalah misa akbar di pusat Kota Paris yang diperkirakan dihadiri lebih dari 600 ribu umat Katolik.

Misa tersebut digelar pada Sabtu sore di Place de la Concorde. Sebuah altar telah dibangun di lokasi itu, sementara kawasan di sekitar Champs-Élysées ditutup oleh kepolisian. Umat diperkirakan memadati kawasan dari avenue tersebut hingga Arc de Triomphe dan sekitarnya.

Informasi ini dihimpun BeritaNow dari laporan BBC, OSV News, NPR, dan Vatican News.

Jadwal Kunjungan

Presiden Prancis Emmanuel Macron akan menyambut Paus di Bandara Orly pada Jumat pagi. Keduanya kemudian menggelar pembicaraan di Istana Élysée yang membahas isu geopolitik dan kecerdasan buatan (AI). Macron juga dijadwalkan menyampaikan pidato bersama Paus di Metz.

Namun, Macron tidak akan menghadiri misa apa pun selama kunjungan ini. Keputusan itu diambil untuk menghindari pelanggaran terhadap prinsip pemisahan ketat antara negara dan agama di Prancis. Sebagai gantinya, istri Macron, Brigitte, bersama Perdana Menteri Sébastien Lecornu yang akan menghadiri misa di Champs-Élysées.

Beberapa kandidat pemilihan presiden tahun depan juga dijadwalkan hadir, termasuk Marine Le Pen dari kanan nasionalis, tokoh sentris Edouard Philippe dan Gabriel Attal, serta Bruno Retailleau dari kubu konservatif.

Agenda di Notre-Dame dan Stade de France

Setelah menjalani perjalanan dengan Popemobile melalui kerumunan pada Jumat sore, Paus Leo XIV akan bergabung dengan 80.000 anak muda di Stade de France, Paris utara, pada malam harinya.

Pada Minggu, sebanyak 150 ribu orang telah mendaftar untuk menghadiri misa di tempat suci Lourdes, wilayah Pegunungan Pyrenees. Kemudian pada Senin, Paus akan berada di Metz, Prancis timur, untuk memberikan penghormatan kepada Robert Schuman (1886-1963), salah satu pendiri Uni Eropa dan seorang Katolik taat yang kini menjadi kandidat beatifikasi.

Selama kunjungan, Paus juga dijadwalkan bertemu sekelompok migran di Paris. Di Lourdes, ia akan menemui sejumlah korban pelecehan seksual oleh anggota klerus Katolik.

Kunjungan ke Institut Katolik Paris

Pada 26 September, Paus Leo XIV akan mengunjungi Institut Katolik Paris (CIP). Di sana ia akan bertemu para katekumen dan anggota Sidang Sinodal Keuskupan Paris, seiring respons Gereja Prancis terhadap lonjakan jumlah orang dewasa dan muda yang mencari baptisan.

Kunjungan ini juga memiliki makna pribadi bagi Paus. Institut tersebut menempati bekas biara Karmelit Tak Berkasut tempat Bruder Lawrence dari Kebangkitan, penulis "The Practice of the Presence of God" dan salah satu penulis spiritual favorit Paus, memasuki hidup religius pada 1630.

Wakil Rektor CIP, Jean de Saint-Cheron, menyebut institut itu sebagai "pusat intelektual utama" di Paris. Saat ini, institut tersebut menampung lebih dari 11.000 mahasiswa, seperempat di antaranya berasal dari luar negeri.

"Di jantung Institut Katolik masih terdapat sel-sel para biarawan dari bekas biara Karmelit," kata Saint-Cheron. Paus akan mengunjungi ruang makan, gereja, dan sakristi yang tetap tidak berubah seperti saat Bruder Lawrence bekerja di sana sebagai pembuat sepatu dan juru masak.

Biara Karmelit tersebut menjadi terkenal karena peristiwa kelam selama Revolusi Prancis pada 1792. Biara itu diubah menjadi penjara bagi para imam dan anggota ordo religius yang menolak bersumpah setia kepada Konstitusi Sipil Klerus.

Pada awal September 1792, lebih dari 100 tahanan yang ditahan di biara Karmelit dibantai oleh penyerang bersenjata senapan bayonet, tombak, dan pistol. Paus dijadwalkan memberikan penghormatan di "Tangga Para Martir" tempat peristiwa itu terjadi, di taman biara. Di ruang bawah tanah, jenazah para martir masih dipajang.

Konteks Gereja Prancis Hari Ini

Prancis memiliki hubungan historis yang kompleks dengan Gereja Katolik Roma. Negara itu lama dikenal sebagai "Putri Sulung Gereja" karena dianggap sebagai kerajaan pertama yang memeluk Kristen, meski sebenarnya Armenia, Georgia, dan Ethiopia lebih dulu.

Saat ini, kurang dari separuh populasi Prancis mengaku sebagai Katolik. Jumlah jamaah rutin turun dari 35 persen populasi pada 1960 menjadi kurang dari 5 persen hari ini. Jumlah imam menyusut dari 25.000 pada 1990 menjadi kurang dari 9.000.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir muncul tanda-tanda meningkatnya minat terhadap tradisi keagamaan. Jumlah baptisan orang dewasa lebih dari dua kali lipat dalam lima tahun, mencapai 10.000 pada 2025.

"Prancis memang telah sekuler, tetapi ada kekosongan di tempat Tuhan dan nilai-nilai dulu berada," kata Kardinal François Bustillo, Uskup Ajaccio.

"Orang-orang mencari sesuatu. Mungkin mereka pergi ke India atau Tibet atau Amazon. Dan sekarang Paus datang ke sini dari Roma, membawa pengingat kepada orang-orang tentang akar mereka sendiri," tambahnya.(*)

Komentar (0)