Kamis, 05 November 2026
Breaking News
Daerah

Padang Resmi Ikut Audisi Kota Kreatif UNESCO

Riskal Arief | | 3 mnt baca
Padang Resmi Ikut Audisi Kota Kreatif UNESCO
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

PADANG, BeritaNow.com — Selama ini, masakan Padang sudah menjelajah dunia melalui rumah makan dan diaspora Minangkabau. Kini, Kota Padang membidik pengakuan internasional yang lebih besar, bukan sekadar untuk kelezatan rendang, melainkan bagi seluruh ekosistem kulinernya. Pemerintah Indonesia resmi memilih Padang sebagai kandidat Jejaring Kota Kreatif UNESCO 2027 bidang gastronomi.

Pencalonan Kota Kreatif UNESCO tersebut diumumkan Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif pada Rabu (4/11/2026). Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menyerahkan dokumen penetapan nominasi kepada Wali Kota Padang Fadly Amran di Jakarta. Namun, Padang belum resmi menyandang predikat kota kreatif dunia karena masih harus menjalani seleksi UNESCO.

Rendang Sudah Mendunia, Kini Kota Padang Ikut Audisi
Padang dipilih sebagai wakil Indonesia dalam kategori gastronomi, sementara Kabupaten Bantul mewakili bidang kerajinan dan seni rakyat. Keduanya telah melewati seleksi nasional yang dilakukan panitia bentukan Kementerian Ekonomi Kreatif. Pemerintah Indonesia selanjutnya akan mengusulkan kedua daerah tersebut melalui mekanisme yang ditetapkan UNESCO.

Kekuatan kuliner Padang tentu tidak berhenti pada rendang. Ada sate Padang, soto Padang, aneka gulai, serta tradisi memasak yang diwariskan antargenerasi. Namun, penilaian kota gastronomi juga menyangkut kehidupan pasar, rantai pasok pangan, pelestarian budaya, dan keterlibatan masyarakat dalam ekonomi kreatif.

Fadly Amran menyebut gastronomi sebagai bagian penting identitas serta aktivitas ekonomi Kota Padang. Menurutnya, pasar tradisional tetap menjadi pusat kehidupan masyarakat, termasuk ketika kota menghadapi pandemi COVID-19. Pemerintah kota berencana memperkuat infrastruktur, sistem industri makanan, dan program pengembangan ekonomi kreatif.

Di Balik Sepiring Nasi Padang, Ribuan Orang Bekerja
Data yang dipaparkan dalam proses pencalonan menyebut ekosistem ekonomi kreatif Padang menyerap lebih dari 53.000 tenaga kerja. Fadly juga menyatakan sektor kuliner menyumbang sekitar 53 persen dari Rp160 miliar pendapatan asli daerah yang dikaitkan dengan ekosistem ekonomi kreatif. Angka tersebut merupakan keterangan pemerintah yang masih memerlukan penjelasan metodologi dan periode penghitungan.

Potensi tersebut memperlihatkan bahwa industri makanan bukan hanya urusan wisatawan mencari tempat makan. Di belakang setiap hidangan terdapat pedagang pasar, pemasok bahan baku, juru masak, pekerja restoran, hingga pengusaha kecil. Apabila pengembangan gastronomi dilakukan secara inklusif, manfaatnya berpeluang menjangkau lebih banyak pelaku ekonomi lokal.

Namun, pengakuan internasional tidak otomatis membuat pendapatan pedagang meningkat. Pemerintah perlu memastikan peningkatan kualitas usaha, akses pembiayaan, kebersihan pangan, dan pemasaran benar-benar menyentuh usaha mikro. Jangan sampai kuliner tradisional menjadi kebanggaan dalam presentasi internasional, sementara pelaku usahanya kesulitan mengembangkan bisnis.

UNESCO Bukan Sekadar Stempel untuk Etalase Wisata
UNESCO Creative Cities Network dibentuk pada 2004 untuk mendorong kerja sama antarkota melalui kebudayaan dan kreativitas. Jaringan tersebut mencakup delapan bidang, termasuk gastronomi, desain, musik, film, dan seni rakyat. Calon anggota harus menunjukkan komitmen serta kemampuan menjalankan program pembangunan perkotaan berkelanjutan.

UNESCO juga mensyaratkan rencana aksi empat tahun yang realistis bagi kota yang mengajukan keanggotaan. Karena itu, popularitas kuliner saja tidak cukup untuk memperoleh pengakuan. Padang perlu menunjukkan bagaimana kekayaan gastronominya diterjemahkan menjadi kebijakan, kegiatan, dan kerja sama yang dapat dilaksanakan.

Kementerian Ekonomi Kreatif berjanji mendampingi Padang dan Bantul dalam proses pencalonan internasional. Pendampingan mencakup upaya memperoleh dukungan dari kota-kota anggota UNESCO melalui jaringan diplomatik Indonesia. Meski demikian, keputusan akhir tetap berada pada UNESCO setelah proses seleksi yang dijadwalkan pada 2027.

Bagi masyarakat Padang, pencalonan ini membuka kesempatan memperkenalkan kekayaan kuliner daerah secara lebih luas. Namun, keberhasilan sesungguhnya tidak cukup diukur dari bertambahnya pengakuan internasional atau kunjungan wisatawan. Predikat boleh dikejar, tetapi manfaatnya harus terasa sampai ke dapur usaha kecil, pasar tradisional, dan penghasilan masyarakat.(*)

Komentar (0)