Rabu, 21 Oktober 2026
Breaking News
Nasional

Operasi 36 Jam RSCM, Tonggak Baru Penanganan Kembar Siam

Riskal Arief | | 4 mnt baca
Operasi 36 Jam RSCM, Tonggak Baru Penanganan Kembar Siam
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

JAKARTA, BERITANOW — Tim dokter Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) berhasil memisahkan bayi kembar siam laki-laki NA 1 dan NA 2 yang menyatu pada bagian perut dan panggul. Operasi dilakukan pada 15–16 September 2026 dengan total penanganan mencapai sekitar 36 jam jika proses persiapan ikut dihitung. RSCM menyebut tindakan tersebut sebagai operasi pemisahan kembar siam terlama yang pernah dilakukan rumah sakit itu.

Kompleksitas kasus terlihat dari bagian tubuh kedua bayi yang saling terhubung. Keduanya memiliki jantung, paru, lambung, ginjal, dan kandung kemih masing-masing, tetapi berbagi sebagian jaringan hati, vena porta, usus besar dengan satu anus fungsional, tulang panggul, hingga saluran kemih dan kelamin. Kondisi tersebut membuat operasi tidak sekadar memisahkan dua tubuh, tetapi juga membutuhkan rekonstruksi berbagai organ dan struktur setelah pemisahan.

Tindakan pada NA 1 berlangsung sekitar 29 jam, sedangkan operasi NA 2 mencapai 23 jam 55 menit karena setelah tubuh dipisahkan, tim bekerja secara paralel pada masing-masing pasien. Ketua tim operasi Prof. Dr. dr. R.A. Setyo Handryastuti mengatakan kedua bayi kini dalam kondisi stabil setelah menjalani perawatan intensif lebih dari satu bulan. Mereka telah dipindahkan dari Pediatric Intensive Care Unit ke ruang perawatan biasa.

Keahlian Lintas Spesialis Jadi Kunci
Keberhasilan operasi kembar siam RSCM tersebut ditopang kerja multidisiplin dari sejumlah bidang kedokteran. Tim melibatkan antara lain bedah anak, bedah plastik rekonstruksi, ortopedi anak, urologi, anestesi anak, gastrohepatologi, hingga rehabilitasi medik. Media lain yang menghadiri konferensi pers RSCM juga melaporkan sekitar 14 dokter terlibat menangani kedua anak tersebut.

Salah satu tantangan besar muncul setelah bagian panggul dipisahkan. Dokter ortopedi perlu menyesuaikan struktur tulang agar rongga perut yang terbuka dapat dirapatkan sebelum dilanjutkan oleh tim bedah anak dan bedah plastik. Penanganan saluran pencernaan, saluran kemih, serta rekonstruksi organ juga harus disesuaikan karena kondisi anatomi kedua anak tidak sepenuhnya sama.

Tim anestesi pun menghadapi tantangan tidak biasa karena sebelum tubuh dipisahkan, obat yang diberikan kepada satu bayi berpotensi memengaruhi bayi lainnya melalui sirkulasi yang terhubung. Dokter harus memberikan obat secara bertahap sambil terus memantau respons masing-masing pasien. Kompleksitas inilah yang membuat operasi berlangsung sangat panjang dan membutuhkan koordinasi ketat antartim.

Pengalaman Indonesia Menangani Kembar Siam
Keberhasilan terbaru ini bukan pengalaman pertama tenaga medis Indonesia dalam menangani kembar siam. RSCM telah terlibat dalam operasi serupa selama puluhan tahun, termasuk pemisahan bayi kembar pada 2013 yang saat itu disebut menjadi operasi pemisahan kembar siam pada usia termuda di Indonesia. RSCM juga ikut dalam tim multidisiplin nasional pada sejumlah operasi kembar siam yang ditangani rumah sakit lain.

Pada 2019, misalnya, tim dari sejumlah rumah sakit termasuk RSCM terlibat dalam operasi pemisahan Ardi dan Ardan di RSAB Harapan Kita. Operasi tersebut melibatkan sekitar 30 dokter dari beberapa rumah sakit rujukan dan berlangsung sekitar 10 jam. Pengalaman lintas institusi seperti ini menunjukkan penanganan kembar siam di Indonesia berkembang melalui kolaborasi berbagai pusat layanan kesehatan.

Namun keberhasilan memisahkan tubuh bukan berarti proses pengobatan NA 1 dan NA 2 telah selesai. RSCM menyatakan kedua anak masih membutuhkan operasi rekonstruksi lanjutan, termasuk pada saluran kemih dan organ kelamin, serta pemantauan tumbuh kembang jangka panjang. Karena itu, pencapaian operasi 36 jam ini lebih tepat dilihat sebagai tonggak penting dalam rangkaian perawatan yang masih panjang.

Akses Layanan Kompleks lewat JKN
Direktur RSCM dr. Supriyanto menyebut ibu kedua bayi merupakan peserta BPJS Kesehatan. Pembiayaan penanganan dilakukan melalui klaim BPJS Kesehatan dan mekanisme pendukung rumah sakit, sementara RSCM menegaskan status kepesertaan tidak membedakan kualitas penanganan yang diberikan. Fakta ini menjadi sisi penting dari kasus tersebut karena operasi dengan tingkat kesulitan tinggi dapat membutuhkan sumber daya medis sangat besar.

Sebagai rumah sakit rujukan nasional, RSCM tidak hanya menjalankan pelayanan pasien tetapi juga fungsi pendidikan, penelitian, dan pengembangan kemampuan klinis. Kasus NA 1 dan NA 2 memperlihatkan bagaimana tenaga dari berbagai subspesialisasi dapat dihimpun untuk menangani kelainan anatomi yang sangat kompleks. Kapasitas seperti ini penting bagi sistem kesehatan nasional karena tidak semua rumah sakit memiliki tim dan fasilitas yang diperlukan untuk operasi kembar siam.

Prestasi medis ini karena itu tidak berhenti pada catatan operasi selama 36 jam. Nilai terbesarnya terletak pada kemampuan membangun kerja tim, perencanaan panjang, teknologi bedah, serta perawatan intensif yang memungkinkan kedua anak melewati operasi dan memasuki tahap pemulihan. Tahap berikutnya adalah memastikan keberhasilan teknis tersebut berlanjut menjadi kualitas hidup yang semakin baik bagi NA 1 dan NA 2.(*)

Komentar (0)